Bercermin pada Hatta


Ada yang bilang bahwa wakil presiden Indonesia hanya ada dua yaitu Hatta dan Jusuf Kalla. Kali ini aku tidak ingin berceloteh soal kehebatan JK yang baru saja lengser. Aku lebih ingin bercermin pada sosok Hatta, seorang pemuda Bukit Tinggi yang telah mampu membawa perubahan dengan mimpi dan tekad yang ia wujudkan dalam tindakan nyata.

Pelabuhan Nieuwe Waterweg di depan mata. Angin selalu saja bertiup kencang di sini. di salah satu pelabuhan tersibuk di Belanda. Kapal Tambora milik Rotterdamse Llyod melabuhkan diri pada pukul 11 atau 12 siang itu. Kapal itu telah jauh membelah samudra selama sebulan. Dari teluk Bayur ke Pelabuhan Perim melintasi Laut Merah menuju Port Said, berlabuh sejenak di Marseile lewat Selat Gibraltar lewat Teluk Biscaye, hingga akhirnya masuk sambil menyeret dirinya ke mulut Sungai Mass dan sampai di Kota Rotterdam

Satu demi satu penumpang menjejakkan kaki ke negeri itu. Diiringi perasaan masygul dan degup jantung yang yak henti-henti mereka menuruni tangga yang berderak-derak. Dengan sepenggal kisah tentang tanah air dan sekoper cita-cita mereka melangkah maju masuk ke negeri yang sebelumnya hanya mereka dengar dari cerita mulut ke mulut. Salah satu pemuda yang datang pada hari itu adalah Mohammad Hatta. Sebuah nama yang akhirnya hingga kini mengabadikan diri dalam sebuah jalan dengan tajuk Mohammed Hattstraat.

Sosok ini memang begitu berjasa dan berpengaruh di masanya bahkan hingga saat ini. Pemikirannya yang telah jauh melampaui zaman mampu membuat Indonesia merdeka dan membangun pondasi pembangunan. Sebut saja koperasi sebagai salah satu model ekonomi yang unik khas Indonesia yang sebenarnya mampu menjadi penopang ekonomi nasional. Setelah merdeka Hatta-lah yang menyumbangkan beberapa pasal penting dalam konstitusi seperti hak berkumpul dan berserikat serta pengusaan negara terhadap kekayaan alam negeri ini. Pemikiran Hatta tentang pendidikan, demokrasi, otonomi daerah dan berbagai hal lainnya yang telah ditulis dalam puluhan buku dapat membuktikan kepada kita betapa besar pengaruhnya hingga kini.

Namun mari sejenak kita bercermin pada Hatta. Sosok Bapak Bangsa ini sejak kecil telah mengisi dirinya dengan ilmu agama di salah satu surau dekat rumahnya. Ia juga belajar bahasa Belanda pada salah seorang pandai di desanya. Kegemarannya adalah bermain bola dengan posisi gelandang tengah dan mendapat julukan onpas seerbaar (sukar diterobos begitu saja). Dalam tubuhnya yang belia ia telah memiliki keberanian dan tekad yang luar biasa. Hingga pada 5 September 1921 ia telah berada di jantung kolonial bukan untuk berdiam diri tapi untuk melawan penindasan. Hatta adalah pria yang menjadi aktor perubahan watak Indische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia) yang sebelumnya bercorak sosial menjadi gerakan politik perlawanan. Mereka yang memperkenalkan kata Indonesia dengan mengubah nama organisasi itu menjadi Perhimpunan Indonesia. Mereka tidak hanya berkumpul tapi tulisan dan pemikiran mereka mendunia dalam majalah Hindia Poetra.

Yang aku pikirkan kemudian adalah mereka yang seusia kita telah bicara soal negara soal rakyat yang menderita yang perlu dimerdekakan dalam obrolan mereka di kafe dan kantin-kantin universitas. Obrolan mereka bukan suatu hal yang kosong tapi penuh dengan ruh sehingga mampu menggerakkan. Waktu senggang mereka memang diisi untuk menyegarkan pikiran bukan mengistirahatkannya karena sebuah gambar besar tentang nusantara yang merdeka selalu ada dalam korteks bahkan alam bawah sadar mereka. Mereka gali ilmu sebanyak-banyaknya di negeri orang dan kembali bukan untuk memupuk kapital tapi merangkai mimpi mereka yaitu Indonesia yang merdeka.

Kita boleh berkata, “Itu kan dulu, saat kita belum merdeka. Wajarlah lahir gerakan yang seperti itu karena situasi mendesak dan menuntut lahirnya gerakan tersebut.”. Namun, mari kita merenung sejenak kawan. Berbedakah kondisi negeri ini dengan saat itu kawan? Menurut Kompas 20 September 2010, tingkat kemiskinan di Indonesia dalam rentang 1990-2010 hanya turun 1 persen saja. Pada tahun 1990 tingkat kemiskinan sebesar 15.1% sedangkan pada tahun 2010 hanya turun menjadi 14.15% atau sejumlah 31.7 juta jiwa hidup dalam kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi saat ini memang dihitung dalam jumlah agregat sehingga angkanya fantastis tetapi dalam pemerataan kita bisa melihat betapa penduduk yang tidak berada di pusat ekonomi masih hidup jauh tertinggal. Menurut ketua Ecosog Rights Sri Palupi porsi pembangunan yang dinikmati warga miskin menurun menjadi 19,2% pada tahun 2006 dari sebelumnya 20.92% pada tahun 2000.

Lalu pertanyaannya sudahkah terselip masalah ini dalam obrolan kita. Pernahkah terlintas  kondisi inidalam pikiran kita. Atau kita saat ini berkuliah untuk memupuk kapital saja dan mengejar ijazah lalu hidup untuk diri sendiri. Adakah niat dalam diri ini untuk bekerja keluar dari batas yang seharusnya dan menjangkau pekerjaan yang lebih besar untuk negeri. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang mengusik pikiranku, tapi semoga juga pikiran kalian. Hatta di waktu muda sudah menabung dan bekerja untuk mewujudkan mimpinya: Indonesia Merdeka. Lalu sudahkah kita bermimpi setidaknya yang serupa itu? Mungkin hal itu terdengar terlalu idealis. Namun salahkah menjadi idealis? Atau idealisme hanya bisa kita temukan kitab suci bukan kehidupan yang aku jalani ini.

Aktivitas pergerakan politiknya di jantung kolonial telah membawanya ke muka hakim. Dengan yakin ia bacakan pleidoinya dan ruangan itu seperti tergetar ketika dia ucapkan penutupnya: “Hanya satu tanah air yang dapat disebut Tanah Airku. Ia berkembang dengan usaha, dan usaha itu adalah usahaku.”

Advertisements
Comments
7 Responses to “Bercermin pada Hatta”
  1. tiwik says:

    ran, bukannya dalam setiap penulisan itu harus selalu diusahakan agar tidak ada kata sambung yang terdapat di awal kalimat?

  2. namakutiwik says:

    ran, bukannya dalam setiap penulisan itu harus selalu diusahakan agar tidak ada kata sambung yang terdapat di awal kalimat?

  3. iya wik, maaf ini baru belajar makasih ya masukannya…
    kata sambung antar kalimat boleh kok, contohnya Namun, ….
    dalam tulisan ini randi sengaja buat begitu biar lebih ringkas dan lugas seperti berbicara….hehehe

  4. azka says:

    mampir ke blog randi neh dari link di blog dina.
    wah tulisannya bagus, ran. alhamdulillah. buat dimasukin jurnal BEMedia edisi depan boleh ga? *teteeep, hehe*

  5. monggo aja bu, asal bisa ngasih manfaat

  6. vi2 says:

    ikut baca ya…

  7. Abdi says:

    Thanks… Kembali terbasuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: