Menjadi Kerdil


Tahukah kamu mengapa pohon teh perlu dipangkas dalam suatu periode tertentu? Menurut yang pernah saya pelajari, salah satu tujuannya adalah memperbanyak cabang sehingga akan menghasilkan lebih banyak daun teh nantinya. Kemudian tahukah kamu mengapa bonsai mesti dikerdilkan? Salah satunya adalah untuk mempermudah proses pembentukkannya sehingga menghasilkan bonsai yang indah dan cantik. Begitu pula dengan elang yang harus mematahkan paruhnya yang tua dan mencabut bulu yang sudah usang untuk menumbuhkan paruh dan bulu baru yang lebih kuat untuk dapat bertahan hidup.

Dalam setahun terakhir, saya semakin banyak mengalami peristiwa-peristiwa seperti ini. Berada di lingkungan baru dengan tantangan yang berbeda, bertemu dengan orang-orang yang sederhana dengan ketinggian ilmu dan pengalamannya, atau berbincang dengan orang-orang pragmatis yang membukakan mata bahwa matahari tak selalu cerah karena terkadang mendung datang menghalang. Peristiwa-peristiwa seperti itu telah membawaku ke dalam gua seperti halnya elang tadi untuk mematahkan paruh dan mencabut bulu atau memperbanyak rantingku dengan harapan kelak daun-daun baru akan segera tumbuh.

Terkadang kita sudah merasa cukup karena berada dalam tempurung si katak, tanpa pernah tahu bahwa dunia begitu dinamis di luar sana. Menjadi ikan yang besar di dalam akuarium yang sempit sungguh tidak menantang dan cenderung mematikan bukan menumbuhkan. Menemui orang-orang seperti yang saya utarakan tadi tak jarang menyakitkan dan menohok ulu hati karena tanpa sadar mungkin telah banyak potensi yang kita miliki tak berguna sama sekali. Tak jarang juga saya merasa aneh sendiri ketika berbincang dengan mereka yang pragmatis. Mungkin seperti Gie saat bertemu dengan kawannya yang sudah perlente di dewan. Pada saat itulah aku semakin sadar bahwa puja puji hanya milik Allah SWT yang Maha Suci dan Agung. Pada saat itulah kita menjadi kerdil.

Apa sebabnya kita menjadi kerdil?

Menurut saya penyebab pertama adalah waktu dan percepatan. Kita semua dalam durasi waktu yang sama dalam sehari tapi yang berbeda adalah pekerjaan apa yang kita kerjakan dalam durasi waktu tersebut. Ikan yang hidup dalam kolam yang terlalu sempit akan cenderung malas bergerak dan bekerja. Namun, ikan yang hidup di samudra cenderung lincah dan terbang ke atas permukaan sebelum kembali menderu di bawah ombak. Ada orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang bermakna dan penting dalam kehidupannya bahkan untuk kehidupan orang-orang di sekitarnya. Namun, ada pula orang-orang yang terjebak dalam kehidupannya sendiri tanpa bisa keluar tumbuh dan menghasilkan buahp-buah yang manis. Pekerjaan yang dilakukannya hanya pekerjaan biasa yang mungkin tak punya makna sehingga tidak ada ruh yang menggerakkan. Sementara sebagian yang lain sadar betul akan apa yang ia cari dan selalu gelisah dengan apa yang dilakukannya sehingga tiap waktu yang berlalu adalah amal yang penuh dengan makna dan keikhlasan bukan pencapaian kosong tanpa tujuan. Pada akhirnya orang-orang yang kerdil ini menyadari bahwa apa yang dilakukannya selama ini mungkin salah arah dan mereka melihat bahwa orang lain telah berbuat sesuatu yang lebih bermakna dengan lebih intensif dan sungguh-sungguh.

Penyebab kedua seseorang menjadi kerdil adalah salah menempatkan hal yang penting dan prioritas dalam hidupnya. Dalam berbagai episode kehidupan, kita akan sampai pada dialog-dialog yang tak terelakkan. Sebagai contoh adalah dialog dengan sahabat yang sudah lama tidak ditemui. Pada dialog tersebut banyak perbandingan-perbandingan yang kita perbincangkan. Pada momen itulah boleh jadi kita akan merasa bahwa apa yang kita kerjakan belum apa-apa dibandingkan dengan yang ia kerjakan atau sebaliknya. Jika kita merasa terintimidasi atau terpojokkan boleh jadi pada saat itu kita telah salah menempatkan apa yang lebih bermakna dari yang lain. Sebagai contoh, saat materi yang kita jadikan ukuran maka boleh jadi kita dapat dengan mudah merasa kurang atau belum apa-apa. Jika itu yang terjadi maka boleh jadi kita telah salah menempatkan prioritas. Saya tidak mengatakan bahwa materi bukan ukuran yang tidak tepat untuk diperbandingkan, ukurannya bisa apa saja dan kita pun bisa merasa terintimidasi atas apa saja.

Saya pernah mengalami hal seperti itu, contohnya adalah saat saya bertemu dan mengenal the Zeitgeister. Salah seorang dari mereka ternyata pernah menghabiskan waktu selama setahun untuk menjadi imam di salah satu mesjid di Sumbawa. Yang lainnya pernah menghabiskan perjalanan sepanjang 800 km keliling Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk menekuni impiannya, yaitu menjadi pastur. Aulia yang pernah aku tuliskan cerpennya, ternyata bersedia berbakti pada kedua orang tuanya yang tuna netra yang belakangan baru aku ketahui bahwa mereka bukan orang tua kandungnya. Pertemuanku dengan mereka sungguh membuat diriku kerdil dan menyadari bahwa mungkin belum banyak suatu hal yang berharga yang telah ku kerjakan.

Namun, menjadi kerdil ini ada baiknya seperti halnya pohon teh tadi karena kelak kita akan menumbuhkan lebih banyak daun. Asalkan kita tersadar dan bergerak menuju apa yang kita anggap berharga baik untuk diri kita sendiri maupun orang-orang di sekitar kita. Maka kelak saat bertemu dengan orang-orang lain yang telah lama tidak kita temui atau orang-orang baru dengan kisahnya masing-masing kita tidak akan terlalu terintimidasi atau merasa terpojokkan atas kisah mereka karena kita tahu apa yang berharga dan apa yang kita cari. Itulah mengapa Suster Apung rela berletih jiwa raga untuk menolong orang-orang pulau, mengapa Umar Bakrie dan guru-guru kita menghabiskan hidupnya untuk mengajari kita membaca dan menulis, mengapa petani tetap menanam padi walau terik dan untuk yang tak seberapa, mengapa Grameen Bank mampu sukses dan bertahan, mengapa Bunda Teresa rela mengobati orang-orang kusta, mengapa Rasulullah bersedia menyuapi yahudi buta yang selalu menghinanya. Karena mereka semua memiliki keberlimpahan hati yang tak akan kurang dimakan waktu atau diperbandingkan dengan segala macam ukuran.

Kita yang kerdil ini pun bisa menjadi besar, berdaun lebat dan berbuah manis jika memiliki hati yang luas dan berlimpah yang tidak akan menjadi sempit dengan masalah-masalah sederhana. Karena aliran tulus dari hati kita mampu menawarkan sebanyak apapun garam yang masuk. Hati yang tenang adalah hati yang selalu mengingat Allah.

You don’t have to feel like a waste of space
You’re original, cannot be replaced
If you only knew what the future holds
After a hurricane comes a rainbow

Maybe you’re reason why all the doors are closed
So you could open one that leads you to the perfect road

Like a lightning bolt, your heart will blow
And when it’s time, you’ll know

Advertisements
Comments
3 Responses to “Menjadi Kerdil”
  1. Ophie says:

    Mau jadi beringin aja ah….gede, lebat daunnya akarnya kuat hehehe…
    Semangat jadi jagoan penebar kebaikan boi =)

  2. Ophie says:

    Hehehehehehe……abis ran. Nunggu kloter lebaran yaa..Insya Allah pulang lg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: