Orang Miskin Kurang Ajar



Tadi malam aku nonton Jakarta Lawyers Club. Bahasan tadi malam tentang Badai Demokrat Belum Berlalu. Obrolan menjurus perdebatan tadi malam berkisar tentang Nazarudin dan Andi Nurpati dua kader ‘gebleg’ Partai Demokrat. Tapi kali ini aku tidak ingin membahas hal ini lebih lanjut karena lebih baik menyimak Ikrar Nusa Bakti atau Burhanudin Muhtadi jika ingin berbicara hal ini lebih dalam. Aku hanya ingin berbagi ucapan yang disampaikan Preseiden Janjukers, mbah Sudjiwo Tedjo. Dalam berbagai hal aku tidak sepakat dengan orang lulusan Matematika ini. Namun, aku tahu orang ini cerdas dan omongannya tadi malam ada benarnya.

Pertama, ada empat jenis manusia menurut sistem kasta Hindu, sudra, waisya, bramana. Mbah tedjo mengatakan bahwa orang sudra adalah orang yang memikirkan dirinya saja. Orang waisya adalah orang yang memikirkan keluarganya saja, sedangkan orang ksatria adalah orang yang memikirkan kampungnya. Orang Brahmana adalah orang yang berada pada tingkatan tertinggi yang umumnya rohaniwan. Jika orang sudra mencuri ayam dia boleh tidak dihukum karena dia sesungguhnya belum benar-benar ‘orang’, tetapi jika brahmana mencuri ayam dia bisa dibunuh.

Terkait dengan hal itu mbah Tedjo mengatakan bahwa sistem demokrasi tidaklah tepat dilaksanakan di Indonesia. Karena orang-orang sudra juga bisa menjadi anggota dewan yang notabene cuma memikirkan dirinya sendiri. Hal ini yang menurut saya terjadi saat ini. Banyak anggota DPR yang bermental sudra. Mereka maju menjadi anggota legislatif cuma untuk mencari rente dan memperkaya dirinya sendiri. Main-main proyek, sogok sini sana, main palsu memalsu dokumen dll. Giliran mau dihukum mereka kabur. Sangat cocok dengan tokoh yang kita kenal dengan nama Nazarudin dan Andi Nurpati, sekali lagi dua kader ‘geblek’ Partai Demokrat. Namun, kita tidak boleh berburuk sangka, biar hukum yang memutuskannya, itupun kalau hukum belum mereka beli.

Kedua, Mbah Tedjo mengatakan bahwa sistem demokrasi ini hanya memberi ruang bagi orang yang berduit atau diduiti. Artinya, demokrasi adalah tempat bagi orang kaya atau orang miskin yang diberi modal. Terkait dengah hal itu ia berkata,”Orang kayanya asu! orang miskinnya juga kurang ajar”. Tentang orang kaya yang asu kita tidak perlu berdebat panjang. Sudah banyak contohnya di TV mulai dari Nurdin Halid, Gayus Tambunan, dan yang baru-baru ini adalah Nazarudin. Sudah tau khan ceritanya sehingga saya gak perlu bahas lebih lanjut. Yang menarik adalah orang miskin yang kurang ajar. Mbah Tedjo mencontohkan dengan mikrolet. Banyak peristiwa sehari-hari yang sering kita alami bahwa apapun yang terjadi dan yang dilakukan ‘orang miskin’ selalu berpendapat selalu benar. Tidak peduli bahwa mikrolet itu ugal-ugalan, melanggar lampu merah, berhenti sembarangan dsb. Cuma ada satu pendapat :mikrolet selalu benar. Kalau pembaca sering berlalu lintas di Bogor atau Jakarta contoh ini mudah ditemukan.

Kesimpulan dari pernyataan Mbah Tedjo yang dapat aku tarik adalah bahwa entah asu atau kurang ajar itu sebenarnya tidak relevan dengan kaya atau miskinnya seseorang. terbukti tidak kalah banyak orang miskin yang disiplin dan taat aturan atau orang kaya berpendidikan mencederai dirinya sendiri dengan perlakuan yang tidak terpuji. Asu dan kurang ajar itu bisa melekat pada siapapun terlepas dari latar belakangnya.

Pengalamanku membuktikan hal tersebut. Di luar banyak dugaan khalayak tentang orang Amerika yang individualis dan arogan, aku telah membuktikan bahwa tidak sedikit dari mereka yang mau bersahabat, sopan, dan rendah hati. Coba biar aku tanya. Pernahkah Anda menahankan pintu yang kamu lewati lebih dulu untuk membiarkan orang lain masuk dan mendahului Anda masuk ruangan? Di sisi lain aku menemukan contoh beberapa orang yang mengaku dari daerah dan tidak berpunya justru hidup berleha-leha dan tidak disiplin apalagi bekerja keras. Tidak usah jauh2, tanya aja berapa kali mereka membuang sampah di kosannya tiap bulan? atau menyapu dan mengepel lantai tiap pekan? Aku tidak bermaksud berkata bahwa orang Amerika lebih baik atau menjelek-jelekkan mereka yang tidak berpunya dan berasal dari daerah itu. Yang ingin aku tegaskan bahwa baik-buruknya karakter seseorang seringkali tidak berhubungan dengan latar belakangnya entah asal daerah, negara, agama, kekayaan dll. Hal ini juga mempunyai arti yang berbeda di sisi lain, yaitu terlepas dari latar belakangnya setiap orang bisa sukses dalam hidupnya tergantung dengan usahanya. Setiap orang juga bisa masuk surga dengan seizin Allah sesuai dengan amal budi dan akhlaknya bukan atas latar belakangnya.

Demikian renungan pagi ini. Semoga bisa memberi manfaat yang sebesar-besarnya. 🙂

Advertisements
Comments
One Response to “Orang Miskin Kurang Ajar”
  1. gula gula tomat says:

    Stuju deh pradananusantara..
    saya juga nonton kmaren malem..
    jadinya geleng-geleng aja…
    bingung liat mreka smua 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: