Berbagi Kursi di Kereta


Temen-temen tahu gak Commutter Line?? Bagi temen2 yang biasa menggunakan kereta listrik ini pasti tahu persis bahwa berbagi kursi di kereta terkadang bukan urusan yang mudah apalagi jika dalam kondisi capek dan ngantuk puol.

Soal berbagi kursi di kereta ini aku punya prinsip sendiri. Jika ada ibu-ibu tua atau ibu hamil yang masuk kereta dan tidak ada kursi yang kosong maka aku akan berdiri dan memberikan kepadanya kesempatan untuk duduk di kursiku. Hal ini aku lakukan dengan harapan, kalau sewaktu-waktu ibu atau istriku kelak sedang dalam kesulitan yang serupa kelak akan ada orang yang dapat bermurah hati memberinya bantuan. Mungkin ini yang dimaksud dengan pay it forward. Whatever-lah! tapi kira-kira begitu prinsipku.

Nah, suatu hari saya dan salah seorang teman kosan hendak ke Jakarta menggunakan jasa commuter line (CL) dari Stasiun Bogor. Sekitar jam delapan pagi kereta kami meluncur searah aliran listrik menuju Jakarta. Pagi itu aku capek dan nguaaantuuuok banget setelah malam sebelumnya aku harus menghabiskan waktu berjam-jam sampai larut malam di depan bergagai laman internet untuk mencari referensi paper yang sedang aku buat. Jadilah kami yang sejak awal dapat kursi yang cukup empuk di CL perlahan-lahan mulai terpisah antara jasad dan ruh alias tidur. Pada saat saya dalam kondisi yang setengah sadar, saya samar-samar mengetahui bahwa gerbong semakin penuh seiring dengan naiknya penumpang di setiap gerbong yang kami lalui. Beberapa orang ada yang berdiri di depanku sambil memegangi gantungan untuk menjaga keseimbangan. Namun, mata ini masih terlalu berat untuk terbuka dan leher begitu lunglai tak berdaya menahan beban di atasnya untuk menyadari siapakah mereka yang berdiri di hadapanku.

Saat kereta kembali melaju selepas stasiun Tanjung Barat, mataku terbuka; leher yang mulai pegal rasanya minta diregangkan. Saat itu posisi dudukku sudah melorot sehingga arah pandanganku saat itu hanya setinggi pinggang orang dewasa. Dengan mata yang masih merem-melek itu aku menatap ke arah depan dan mulai terusik karenanya. Di hadapanku ada seorang anak berusia kira-kira 10 tahun yang berdiri bersama Ibunya yang memegangi perutnya yang aku pikir sudah 7 bulan kandungan. Ibu itu memegangi perutnya yang buncit dan ketat dibawah kaos berwarna merah yang menyala. Sejurus kemudian aku berusaha mengumpulkan tenaga untuk memberikan kursiku pada ibu itu sampai akhirnya aku mengurungkan niat dan tersenyum sendiri saja.

———beberapa detik sebelumnya———–

Aku perbaiki posisi dudukku. Aku tarik badanku ke belakang dan ku tegakkan punggung. Setelah agak enakan, aku berniat berdiri sampai akhirnya mataku menemukan fakta yang berbeda saat memandang wajah ibu tadi. Ternyata, orang yang aku sangka ibu itu adalah seorang pria 40 tahunan yang perutnya amat buncit seperti ibu hamil 7 bulan πŸ˜€ Hadeuh -__-” Begitu sampai Duren Kalibata aku bangunkan temanku. Kami turun di Cawang.

Advertisements
Comments
12 Responses to “Berbagi Kursi di Kereta”
  1. dinanf says:

    maksudnya gimana,ran? (?_?)
    jadi ibu itu bukan ibu2?

  2. allia says:

    Ntar kalo gw ga dapet bangku dan bukan di gerbong khusus wanita —> ngelus2 perut ah

  3. Siti Lutfiyah Azizah says:

    hihihi.. *ngebayangin betapa gendutnya itu si bapak πŸ˜€

  4. Temen gua (termasuk sy kali ye) ada yg punya prinsip kalo naik KRL..
    Nasi Uduk Pake Telor….
    Dapet Duduk Langsung Molor….

  5. dyah says:

    tapi ga apa2 pak, yang penting niatnya uda mau berbagi kursi untuk ibu tua dan ibu hamil. karena ada pengalaman saya yang hamil tua hendak naik CL dari stasiun Kota untuk menuju bangku yang memang diprioritaskan untuk manula, cacat, ibu hamil dan balita tempat itu sudah terisi oleh mereka yang bukan haknya untuk menempati bangku tersebut. Bahkan ada seorang pria yang tanpa malu duduk nyaman ditengah padatnya penumpang dibangku tersebut padahal didepannya ada seorang ibu yang tengah berjuang untuk menjaga keseimbangan sambil megendong anak balitanya. Lantas begitu si pria itu hendak pergi, terdengarlah suara diantara penumpang berdiri, “Pak bangkunya enggak dibawa sekalian?” wah kontan aja wajahnya tu orang langsung merah, hehehe dan dengan cepat dan sigap langsung pergi sambil menundukan wajahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: