Bab Pengorbanan (Tadhiyah)


Akhirnya kami sampai pada bab ini. Tadhiyah. Tidak ada dakwah tanpa pengorbanan. Begitu kira-kira kami menerima muqadimah yang disampaikan. Lalu meluncurlah pemaparan-pemaparan berikutnya yang membuat kami terdiam karena masih jauh dari paparan ideal itu.

Mengenai pengorbanan ini Guru mengawali dengan sebauh janji Allah Quran QS At Taubah 111 Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

Inilah sebuah perniagaan yang tidak akan merugi selamanya. Apakah yang kita cari selain surga yang abadi dan hanya bahagia yang ada di dalamnya? Surga yang kita mimpikan tersebut dapat ditebus dengan harta dan jiwa yang juga milik Allah sejatinya. Sungguh itulah kemenangan yang besar.

Tak sampai di sana saja, Allah juga memberi keterangan lain mengenai apa akibat lalai dari pengorbanan kepada Allah. Mari kita simak At Taubah 24 Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

Mendengar ayat ini kami lantas tertunduk betapa kami memang masih jauh yang ideal itu. Teringat betapa kami perlu jujur pada diri ini bahwa ayat ini menegur kami dengan sangat dalam. Ayat ini tidak ditutup dengan sebuah ancaman melainkan keterangan untuk menunggu keputusan Allah yang maknanya justru lebih menakutkan atas kelalaian akan pengorbanan.

Aku kemudian teringat pada sebuah fragmen kehidupan Kartosoewiryo dengan istrinya Dewi Siti Kalsum. Aku tidak ingin berdebat tentang sepak terjang Kartosoewiryo dalam NII/TII. Yang ingin aku angkat adalah kisah pengorbanan mereka akan apa yang mereka yakini.

Suatu hari sebelum wafat pada tahun 1998 pada usia 85 tahun, Dewi pernah diwawancarai wartawan TEMPO mengenai kisah cintanya dengan Kartosoewiryo. Sebagai informasi, Dewi melahirkan 12 orang anak dengan 3 orang di antaranya lahir di hutan, 5 orang anaknya telah wafat; anaknya ada yang tertembak, sakit dan meninggal saat bayi. Melihat catatan ini saja aku melihat betapa istri Kartosoewiryo ini telah melakukan pengorbanan yang begitu besar. Bisakah kau bayangkan hamil dan membesarkan tiga orang anak di dalam hutan??? *mengharukan.

Saat ditanya sang wartawan mengapa ia rela bergerilya menemani suami selama 13 tahun ia bingung menjawabnya. “Karena apa ya, saya sendiri tidak tahu” kata Dewi. “Kalau dibilang karena cinta, Bapak itu sebetulnya kan orangnya jelek” lanjut Dewi.

Dalam masa gerilya itu terkadang Dewi merasa sedih saat menggendong bayinya dan memikirkan masa depan anak-anaknya kelak. Jika situasi itu datang, Kartosoewiryo menghibur Dewi dengan berkata,” Kok sedih amat sih!”. Mendengar ucapan suaminya itu sirna sudah sedih Dewi.

Dari penggalan kisah pada dua paragraf di atas, aku menangkap bahwa sesuatu yang mendasari perjuangan mereka rasa-rasanya bukan sekedar hal-hal yang sementara seperti kekuasaan atau harta semata. Pastilah itu sesuatu yang prinsip sehingga mereka mampu berkorban sejauh itu.

Sebelum di eksekusi mati di Pulau Onrust, Dewi menemui Kartosoewiryo di penjara. Suaminya itu berwasiat,”Tak akan ada perjuangan seperti ini sampai seribu tahun lagi” *meleleh.

Akan ada saat-saat dimana dilema itu akan hadir. Saat keluarga, sahabat, istri, anak, pekerjaan, amal-amal, dan dakwah saling bersinggungan. Pada saat itulah Allah menguji pengorbanan kita. Semoga Allah menguatkan ikatannya dan menjaga kita dalam Ridha-Nya. Aamiin

Advertisements
Comments
One Response to “Bab Pengorbanan (Tadhiyah)”
  1. novaliantika says:

    aamiin,, meski ‘akan ada saat-saat dilema itu akan hadir’ ya?
    btw ibu dewi keren banget 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: