Kenangan Bersama Gina


Saya pertama kali bertemu dengannya di sebuah masjid di kawasan Rawamangun pada sebuah acara yang digalang Iqra Club Jakarta. SLDP – Student Leadership Development Program nama program tersebut. Program yang mengumpulkan pentolan rohis SMA se Jakarta Timur untuk dilatih dan dibina kemampuan leadership dan management-nya. Saat itu sosokya memang begitu menonjol daripada yang lain. Selain karena sosoknya yang memang tinggi, dia adalah salah satu peserta yang paling rajin ngelawak dan membuat peserta lain terpingkal-pingkal. Dia juga sempat bergulat tengah malam dengan Praja (salah seorang temanku) di lapangan Labschool saat sesi latihan.

Tak disangka tak dinyana ternyata Allah mempertemukan kami di kampus IPB. Lebih jauh lagi kami ternyata sempat tinggal dan menuntut ilmu bersama di Pesantren Mahasiswa Al Inayah. Sosoknya tak pernah berubah terus ceria dan tak kenal mengeluh. Dalam shalatnya aku lihat dia begitu dalam berdoa. Lantunan Quran dari lisannya begitu membuatku iri ingin sepertinya. Semangatnya selalu di atas tak pernah surut dan rendah di bawah. Kontribusinya nyata, cerita-ceritanya begitu hidup menegur diri ini. Kemauannya kuat dan menularkan optimisme. Yang diberikannya tulus tak kenal keluh.

Pertemuan yang paling kuingat dengannya adalah saat aku terbaring sakit di rumah sakit Pasar Rebo selama lebih dari 10 hari. Tak ada kawan yang kuberi tahu aku dirawat di sana. Dua orang teman yang datang adalah Wahyu dan Pringga. Sampai akhirnya pintu ruang inapku membuat mata kami berpapasan. Ia masuk ke ruang dimana infus masih menggantung di sisiku. Ia lempar senyum tulusnya dan bercerita bahwa hari itu ia menjaga sang Ayah yang sakit di sana. Ia berdoa untukku dan memotivasi diri ini untuk segera sembuh. Sebelum berangkat ia berikan Al Ma’surat kecil dari sakunya. Ia pun pergi memberi api semangat membara lagi.

Sampai akhirnya malam itu di Asrama PPSDMS Bogor. Kamarku gelap dan rasanya belum lama mata ini terpejam. Kamarku digedor-gedor dari luar. Aku buka pintu setengah sadar. Sosok kawanku penuh emosi memegang ponselnya. Ia memberi tahu kabar bahwa Gina telah pergi. Gina telah pergi meninggalkan kami dalam perjalanannya pulang ke rumah selepas dipanggil orang tuanya untuk pulang ke rumah.

Kami yang telah menjadi saksi atas perjuanganmu sahabat.
Kami doakan semoga dirimu bahagia di sisi-Nya.

Untuk sahabat saya, Ginanjar.

Advertisements
Comments
One Response to “Kenangan Bersama Gina”
  1. ariasky says:

    kita (saya dan gina) pernah, sambil rada becanda, ingin mendokumentasikan dalam short movie kehidupan aktivis kampus. saat itu di ruang tengah alinayah. catatan obrolan kita itu masi ada di sini, lemari bukuku.. gina we love you. Allah sebaik2 pemberi pembalasan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: