Not Waiting but Pursuing


Akhirnya tulisan ini keluar juga dari list draft saking lamanya sampai berdebu dan penuh laba2 hehe 🙂

Saya bukan termasuk dalam kelompok penggemar film-film Korea. Namun ada satu film yang pernah saya tonton dan amat berkesan, yaitu My Sassy Girl. Film yang satu ini pertama kali saya lihat sekilas pada waktu SMA di channel lativi kalau tidak salah ingat. Bertahun kemudian aku tonton kembali film ini secara full dan baru mengetahui makna film ini kemudian.

Cerita film ini berawal dari sebuah stasiun saat tokoh utama (pria) bertemu tokoh utama (wanita) yang sedang mabuk. Si pria yang hari itu menolak untuk bertemu dengan bibinya itu menolong wanita yang hampir saja terjatuh ke jalur kereta. dari peristiwa itulah hubungan mereka berlanjut. Ada yang unik dalam hubungan mereka si wanita selalu semena-mena terhadap pria mulai menampar, meninju, menginjak kaki dsb. Si pria pun cenderung terlihat “nerimo” atas apa yang dideritanya (hahahah).

Hubungan mereka mulai renggang dan sampai pada titik kritis pada saat si wanita mengundang pria itu ke sebuah kafe. Sesampainya di sana pria tersebut melihat wanita itu bersama dengan seorang pria lain yang kemudian diperkenalkan sebagai tunangan wanita tersebut. Saat wanita itu pamit ke toilet pria (tokoh utama) bercerita mengenai 10 hal yang mesti dilakukan atau tidak dilakukan tunangan wanita itu. “Jika ke kafe belilah jus daripada kopi, jika ia meminta untuk menukar sepatu, bertukarlah sepatu dengannya dsb” ia ceritakan. Begitu wanita tadi kembali ke meja dari toilet ia mendapati pria (tokoh utama) sudah tak ada lagi di sana. Tunangannya bercerita bahwa pria itu pergi setelah menceritakan 10 hal yang harus atau tidak dilakukannya. Tunangannya itu kemudian mengulanginya satu per satu. Mendengar apa yang disampaikan tunangannya itu, ia baru tersadar bahwa pria (tokoh utama) tersebut benar-benar mencintainya dengan tulus.

Mereka (atau lebih tepatnya si wanita yang memaksa) akhirnya memutuskan untuk saling menjauh untuk sementara. Pergilah mereka ke sebuah bukit yang terdapat sebuah pohon di atasnya. Di bawah pohon itu mereka menanam sebuah surat untuk mereka masing-masing. Mereka bersepakat untuk kembali bertemu satu tahun kemudian (kalau gak salah). Selama masa menunggu pertemuan mereka kembali, si pria tidak berdiam diri saja. Ia mengubah dirinya menjadi lebih baik. Ia berlatih squash dan squash olah raga kegemaran mereka. Ia juga aktif menulis cerita (hobi si wanita) hingga akhirnya ia menjadi penulis online yang hebat.

Satu tahun berlalu dan pria itu kembali ke bawah pohon di waktu yang dijanjikan, tetapi wanita itu tak pernah datang. Dibukalah kapsul waktu yang berisi surat mereka. Ia baca surat wanita itu dan menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Awal pertemuan mereka berdua di stasiun kereta adalah momen saat wanita itu ditinggal pergi oleh kekasihnya yang meninggal dunia. Wanita itu melihat sosok kekasih lamanya pada sosok pria (tokoh utama) dan saat hubungan kedua tokoh utama itu makin dekat wanita itu merasa ruh kekasih lamanya cemburu dengan hubungan mereka. Akhirnya ia memutuskan untuk menjauhkan dirinya dari si pria (tokoh utama). Ketidakhadirannya hari itu juga menunjukkan bahwa wanita itu belum siap bertemu si pria kembali.

Adegan kemudian berlalu pada tiga tahun kemudian saat wanita (tokoh utama) datang ke tempat yang dijanjikan pada waktu yang tidak disepakati. Ia berjalan menuju bukit itu dan ia menemukan seorang bapak tua yang sedang istirahat di bawah pohon tempat kedua tokoh utama terakhir kali menanam surat mereka. Si Bapak tua itu bertanya pada wanita (tokoh utama) apa kamu lihat pohon ini? *sambil lihat ke atas. Adakah yang berbeda? Si wanita itu pun mengamati pohon itu dan menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan pohon itu, tapi ia tidak tahu apakah yang berbeda itu. Bapak tua itu kemudian melanjutkan ceritanya. Ia menyampaikan bahwa dua tahun lalu pohon itu mati tersambar petir. Lalu ada seorang pria yang begitu menganggap pohon itu berharga sehingga ia mencari pohon yang serupa dan menanamnya di tempat yang sama. Saat musim semi tiba ia merawatnya dengan begitu tekun. Mendengar cerita itu si wanita (tokoh utama) menyadari bahwa ia telah menyia-nyiakan orang yang tulus padanya selama ini. Wanita itu pulang dan mencoba menghubungi si pria (tokoh utama) tapi tak kunjung bisa tersambung.

Hingga akhirnya ia menemui ibu mantan kekasihnya yang meninggal dulu. Ternyata ibu itu adalah bibi dari si pria (tokoh utama). Saat ia menemuinya, ternyata di ruangan itu sudah ada seorang pria yang sedang berbincang dengan ibu itu. Begitu wanita itu duduk barulah ia menyadari bahwa pria di sebelahnya adalah sosok yang selama ini ia cari. Berakhirlah cerita sampai di sana.

Pesan moral yang bisa diambil sungguh bukan soal hubungan mereka tetapi menurut saya adalah ketulusan dalam memberi dan bagaimana fokus dalam memperbaiki diri selagi menunggu dia yang kita nantikan. Ingat bahwa wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula) An Nur : 26. Jangan menunggu tapi kejarlah || not waiting but pursuing.

Advertisements
Comments
2 Responses to “Not Waiting but Pursuing”
  1. ariasky says:

    ran, gw kesulitan ngikutin jejak ceritanya. alangkah baikknya gunakan saja nama, hehe. btw, #jlebb boi isinya. wkwkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: