Bermula dari Lembah Pangrango


Jarum panjang baru saja tergelincir 1.5 putaran dari pukul 00.00 AM waktu Athens, Ohio USA. Aku langkahkan kaki kanan ku turun dari bus yang menjemput kami dari bandara di Columbus setelah menghabiskan lebih dari 25 jam di udara melintas Samudra Pasifik, belasan ribu mil dari Jakarta. Seketika itu pula dingin menyergap, membuat napas menjadi lebih berat dan seolah berasap. Ku gosok-gosokkan kedua telapak tangan untuk mengusir dingin sebelum ku raih koperku dan menariknya masuk ke dalam Ohio University Inn. Pada saat itu pula aku teringat pada dingin yang sama. Dingin yang serupa dan yang mengawali petualanganku bertahun kemudian. Kabut yang tebal dan udara yang menusuk di Lembah Pangrango tahun 2004.

Hari itu kami mengikuti Latihan Dasar Penelitian II. Sebuah acara pamungkas sebelum kami dilantik menjadi pengurus Labschool Science Club (LSC). Di lembah itulah aku dilantik menjadi ketua LSC Angkatan 22 dan di tempat itu pulalah untuk pertama kali aku berseru “Pada hari ini tidak ada lagi yang disebut superman. Superman is dead. Yang ada adalah superteam”.

Sepulang dari lembah itu kami mulai mengukir sejarah kami. Nama LSC yang kami pikir sudah tak relevan, kami ubah menjadi SIGMA 81 dengan tagline Young Scientist Community. Pembimbing kami yang luar biasa, Pak Albaini dan Ibu Fitri, begitu sabar membimbing kami dan mendorong berdirinya ekskul yang terlahir kembali ini. Jaket biru yang pastinya menjadi pusat perhatian, logo baru yang keren, AD/ART yang utuh jadi saksi hari-hari yang penuh gairah itu.

Hari-hari berikutnya adalah pembuktian. Walau aku ketua organisasi itu, bukan aku yang pertama kali membawa piala ke sekolah. Mereka adalah aNa, Mpip, dan Endah yang dimuat di koran dan menjadi juara penelitian IPS dari PLN. Momen itulah yang menjadi tipping point bagi kami. Piala berikutnya pun hadir TIM IPS (Randi, Atha, Aulia, Faizal, Gusma) dan TIM IPA (Wulan, Yola, siapa lagi ya? lupa hehehe) maju ke Lomba KIR Jakarta Timur di Gunung Mas, Puncak. Kami pulang dengan titel Juara I utk TIM IPS dan Juara II utk TIM IPA. Langkah TIM IPS maju terus ke tingkat DKI dan menjadi juara III. Wisma Haji Ciloto yang menjadi tempat perlehatan bergengsi itu. Cerita belum selesai sampai di sana Aku, Banu, dan Pulung maju ke ajang MIPA SAINS Fair UI 2005. Kami menjadi 10 besar finalis dari seluruh Indonesia. Karya kami pada hari itu adalah simulator fenomena interferensi cahaya. Tentu aku masih ingat teori dualisme cahaya sebagai gelombang dan materi yang dengan fasih kami jelaskan kepada pengunjung. “Jika ada dua gelombang yang bertemu akan terjadi interferensi yang dapat bersifat konstruktif dan destruktif. Interferensi yang konstruktif akan menimbulkan berkas terang pada layar sedang yang negatif membuat berkas yang gelap dst..” Alat simulator yang kami buat berasal dari styrofoam, stik es krim, senter besar yang buat ronda dll. Rasanya beruntung sekali kami bisa berkenalan dengan anak-anak SMA terbaik dari seluruh Indonesia. Bu Fitri selalu setia menemani kami pada science fair itu.

Ajang Trip Observasi menjadi momen penting berikutnya. Kami yang memang ekskul di bidang studi ilmiah dan penelitian memang yang sangat relevan pada ajang tersebut. Walau tersebar di OSIS dan Rohis, kader-kader Sigma 81 tetap setia membimbing adik-adik kelas untuk membuat project riset mereka masing-masing. Ekskul yang baru ini memang kemudian menjadi fenomena pada tahun 2005 baik karena prestasi maupun karena terobosan organisasinya. đŸ™‚

Waktu memang cepat berlalu hingga akhirnya kami pun lulus dan berpencar ke berbagai universitas. Namun, bimbingan pembina kami Pak Alba takkan bisa kami lupakan. Dia yang kami tahu sakit masih saja setia membimbing, memotivasi, membakar kami dengan cerita dan nasihatnya. Nilai-nilai itu yang terus ku bawa bertahun kemudian untuk meneruskan petualanganku. Malang, Semarang, Bogor, Jakarta, Bandungm, dan Tokyo menjadi kota-kota berikutnya yang menjadi ajangku berkompetisi di bidang riset dan studi ilmiah. Sebelum aku lulus dari bangku kuliah Allah menyempatkanku untuk meraih medali perak dan menjadi presenter terbaik di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) XXIII Bali, 2010.

Lebih dari itu, kenangan dari Lembah Pangrango itu yang dapat membuatku berkesempatan berkuliah di Ohio University. Duduk berdampingan bersama mahasiswa Amerika, Cina, Turki, Arab, Eropa dll. Sebuah kesempatan yang takkan mungkin ku raih tanpa bimbingan guru-guru terbaik dan rekan-rekan yang hebat.

Dingin semakin menusuk tengah malam itu. Aku geret masuk koper ku ke dalam kamar. Besok adalah hari orientasi ku sebelum masuk kuliah dua hari kemudian. Jejak ku hari itu di negeri Paman Sam hanyalah langkah-langkah kecil kita semua kawan sebelum akhirnya kita jelang bersama Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

*catatan ini aku persembahkan kepada Pak Albaini, Ibu Fitri dan guru-guru ku di SMA 81 serta rekan-rekan Sigma 81 angkatan I-Lembah Pangrango. Tak ada kata selain terima kasih untuk Bapak/Ibu dan rekan-rekan semua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: