Son Goku (孫 悟空)


Teman-teman tentu sudah mengenal sosok yang satu ini. Son Goku adalah tokoh utama dalam serial Dragon Ball. Sebagai seorang ksatria petarung dia memiliki keunikan karena selalu memiliki antusiasme dalam bertarung terutama saat dia berhadapan dengan lawan yang lebih tanggukh darinya. Selain itu, ia akan menjadi jauh lebih kuat saat hampir saja kalah dan mati. Keunikan tersebut didapatkannya secara natural karena ia berdarah suku saiya.

Lebih dari sekedar karena berdarah saiya, saya percaya bahwa sesungguhnya peningkatan kekuatan tersebut terjadi karena ada proses belajar yang ia alami. Proses belajar itu membuat Goku dapat memahami lawan lebih baik dan meningkatkan teknik-tekniknya secara perlahan. Dalam proses belajarnya tersebut tidak jarang ia mengalami masa-masa yang sulit dan pahit tetapi ia terus belajar dan berjuang dengan penuh antusiasme. Antusiasme inilah yang memberinya semangat yang lebih dan kekuatan untuk bertahan walau itu berada pada masa yang amat sulit. Setelah proses itu selesai ia terlahir kembali menjadi petarung yang jauh lebih hebat.

Seperti halnya dengan Goku, kita sebagai manusia juga memiliki kemampuan belajar yang dapat membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Kemampuan belajar inilah yang juga membuat kita dapat bertahan serta tumbuh berkembang hingga hari ini. Hanya saja setiap orang memiliki kemampuan belajar yang berbeda satu sama lain. Ada yang sejak awal dianugerahi bakat yang lebih baik dari yang lain sehingga dapat lebih baik menghapal, menghitung, menulis dan lain-lain. Pada aspek ini kita tidak dapat berdiskusi lebih jauh karena hal ini bersifat given dari Tuhan. Adapun hal yang lebih baik kita diskusikan adalah ketahanan dan semangat kita dalam belajar. Ada sebagian orang yang dapat dengan mudah menyerah saat menemukan kesulitan. Sebagian yang lain justru sulit menerima masukan dan perubahan; enggan mempelajari hal-hal yang baru. Hal-hal seperti inilah yang membuat kita terbatasi dan sulit berkembang.

Di sisi lain ada pula orang yang membuka diri akan hal-hal baru. Rela menyediakan waktu untuk belajar dari awal dan bertahan dalam kesulitan. Mereka juga antusias dalam belajar bahkan tidak hanya dari balik meja tetapi juga turun ke lapangan untuk merasakan pengalaman secara langsung. Demikianlah yang dilakukan oleh Goku. Ia begitu antusias dalam belajar. Dalam beberapa episode diperlihatkan bagaimana Goku berguru kepada Karin, Dewa yang jadi Saudaranya Picolo, juga Dewa yang ada di alam Baka. Semua proses tersebut dilakukan dengan sabar dan semangat. Hasilnya dia menjadi sosok yang lebih hebat setelah selesai menjalani proses belajar itu.

Perlu diingat kawan-kawan,
Setiap alternatif dapat kita pilih tetapi konsekuensi atas tiap alternatif itu tidak bisa dipilih; ia melekat pada tiap pilihan. Jika sukses menjadi pilihan kita maka pastikan diri siap menghadapi terik tantangan dan bertahan pada tiap proses pembelajaran.

Salam sukses!!!

Advertisements
Comments
One Response to “Son Goku (孫 悟空)”
  1. Siti Lutfiyah Azizah says:

    ujung-ujungnya.. tanggung jawab atas konsekuensi pilihan yang kita pilih yaa.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: