Makna Jalan-Jalan


Tulisan ini dibuat di Gate F2 selagi menunggu GA 204 menuju Jogjakarta. Meeting bulanan di Jogja sudah menunggu di depan. Namun, aku tidak akan berbicara mengenai Jogja apalagi meeting bulanan. Aku ingin bercerita mengenai pentingnya jalan-jalan.

Walau bukan seorang backpacker sejati atau traveler ulung saya adalah salah seorang yang hobi jalan-jalan. Belum banyak memang cerita yang bisa dibagi mengenai ini, baru cerita seputar Bandung, Jakarta, Pekalongan, Malang, Nusa Kambangan, Purwokerto, Cilacap, dll. Walau tidak rutin saya mengusahakan agar tetap dapat jalan-jalan saat kesempatan itu datang. Pertanyaannya kemudian mengapa?

Jalan-jalan membuktikan kepadaku bahwa ada “kehidupan” di luar Jakarta. Terdengar kasar atau sadis memang, tapi itulah ilusi yang seolah jadi realita karena rutinitas Jakarta. Kita digerakkan oleh semacam roda tak terlihat untuk bergerak memutar hari, pekan, bulan, hingga tahun. Rutinitas membuat kita hidup dalam kubus kita sendiri seolah menafikan kehidupan di tempat lain, di luar Jakarta. Kehidupan di luar Jakarta membuat kita sadar bahwa hidup bukan melulu mengenai kecepatan, kepadatan, perputaran melainkan juga keharmonisan, kedamaian, kesederhanaan dll. Itulah indahnya dan keberuntungan.

Jalan-jalan itu ibarat pembersih wajah atau amplas kasar. Ia dapat menghaluskan dan membersihkan diri kita. Bahkan jalan-jalan dapat mengasah diri kita untuk mengerti bahwa kesyukuran itu harus diperjuangkan dan dibuktikan. Terlalu tua agaknya pemikiran seperti ini saat referensi kita adalah hidup hedonisme yang berhenti pada dunia. Namun, terlalu berat rasanya untuk tak merenung jika kita lihat tiap hari roda sepeda ontel bertumpuk dengan rumput yang dikayuh seorang tua ringkih. Seperti air pula jalan-jalan akan membasuh kita, memberi kesegaran.

24 tahun sudah rasanya aku menghirup udara melulu di kota ini. Aku menantikan mungkin suatu hari saat kesempatan itu datang untuk tinggal di luar Jakarta. Pada saat itu aku akan berkata,”Aku akan jalan-jalan ke ibukota”. Pada saat itulah mungkin cerita yang aku tuliskan akan berbeda.

6:58 WIB

Advertisements
Comments
4 Responses to “Makna Jalan-Jalan”
  1. rizka says:

    cepet pulaang.. :((

  2. Andrew-Tan says:

    Haha.. Bener mbak, jalan-jalan itu penting.. Stay di Malang aja kalo udah pensiun, udaranya enak… Lagian jg bnyk event n tempat2 nyantainya mbak d Malang, biar nggak mumet mikirin kerjaan… Tempo hari saya juga jalan2 ke Malang, lepasin stres dr kerjaan di Surabaya… Nginep di hotel Kartika Graha d deket Jl. Ijen… Dapet harga murah juga… hahaha… Nih mbak link nya kalo butuh referensi nginep yang ok d Malang http://www.kartikagrahahotel.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: