Living the dream

Aku masih ingat suatu masa di SMP dulu saat aku punya mimpi yang cukup ambisius menurutku untuk ukuran anak SMP. Saat itu aku berkata pada diriku bahwa aku harus belajar keluar negeri. Sepuluh tahun kemudian saat aku berkuliah kesempatan itu akhirnya datang dan alhamdulillah aku bisa mewujudkan mimpi masa remajaku.

Di masa kuliah itu pulalah aku menemui banyak senior yang sungguh menginspirasi dengan berbagai prestasi dan pencapaiannya. Mereka selalu memotivasi untuk terus bermimpi, menulisnya dan mewujudkannya. Anjuran itu pun aku lakukan bahkan hingga hari ini. Alhamdulillah banyak dari mimpi itu yang akhirnya terwujud hari ini. Walau demikian tetap ada dari mimpi-mimpi itu yang belum terwujud hingga kini. Mengenai hal itu aku teringat nasihat pembina asrama PPSDMS, beliau berkata bahwa daftar mimpi itu bukanlah semata daftar impian saja tetapi juga daftar kerja yang harus kita usahakan dan lakukan. Nasihat itu bergitu dalam membekas hingga kini dan menjadi bahan introspeksi bagiku atas apa yang telah aku alami hingga kini.

Menginjak akhir tahun 2012 ini ada dua mimpi besarku yang telah terwujud yaitu better career dan menikah, satu mimpi yang belum terwujud adalah menulis buku. Aku bersyukur atas apa yang kini aku miliki dan sungguh kebahagiaan adalah menyukuri apa yang kita miliki hari ini. Kawan mari bermohon pada Allah atas segala hajat hidup yang kita miliki. Ingatlah bahwa hanya Allah yang mendengar dan mengabulkan segala doa. Allah Ta’ala berfirman,
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Ghofir/ Al Mu’min: 60)
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)

Pertanyaannya sekarang adalah sudahkah kita berdoa kepada-Nya? Sudahkah kita melaksanakan perintah-Nya? Sudahkah kita mendekat pada-Nya? Ampuni kesombongan kami Ya Rabb atas keengganan kami berdoa dan merasa perkasa, angkuh, serta merasa maha raja atas hidup kami yang sepenuhnya Engkau miliki. Kami adalah hamba Mu yang lemah dan tak berdaya tanpa kasih sayang, rahmat, dan pertolongan Mu, Ya Rabb. Jadikan kami tetap taat di jalan Mu dan senantiasa menjadi hamba Mu yang bersyukur. Aamiin.

Advertisements

Tangan-tangan Pemurah

Lama benar rasanya ingin kembali in touch dengan blog ini. Maklum saja kegiatan kami menjelang dan setelah menikah semakin meningkat. Semoga posting ini blog ini menjadi pemanasan yang cukup berarti untuk menulis lagi.

Hari-hari penantianku seperti Ikal yang menunggui kotak yang diberikan Aling sudah berlalu. Kini kami telah hidup berdampingan berdua memulai perjalanan bahtera baru kami. Allah yang Maha Kuasa yang telah memudahkan segala urusan kami hingga akad nikah dan resepsi pernikahan kami dapat berjalan dengan lancar.

Dia-lah Allah yang telah mengirimkan tangan-tangan pemurah yang dengan kerelaan hadir dalam setiap detik persiapan, pelaksanaan, hingga usainya kedua acara tersebut. Keluarga besar Purwokerto, Pacitan, Semarang, Halim, dan tetanga di kompleks Dirgantara III telah membuktikan bahwa mereka adalah saudara sejati kami. Dengan kesungguhan, kerelaan, dan kemantapan mereka membantu kami. Ada yang rela cuti kerja, bolos kerja, bergadang hingga malam, menempuh perjalanan Jawa Timur-Jakarta, memasak hingga larut malam, menyetrika pakaian, menyetir mobil demikian jauh, menyumbangkan harta dan benda mereka untuk kebahagiaan kami. Sungguh Allah yang Maha Pemurah yang hanya dapat membalas kebaikan mereka. Kami berdoa agar kebaikan tangan-tangan pemurah itu dapat diberi balasan kebaikan yang berlipat ganda dari Allah.

Kami juga ucapkan terima kasih kepada tamu, kerabat, dan sahabat yang telah rela hadir dalam kedua acara kami tersebut. Sungguh kehadiran undangan tersebut membawa kebahagiaan, haru, dan suka cita. Demikian pula yang telah berkirim doa untuk kami dari kejauhan. Sungguh hati hanya akan dibalas dengan hati. Semoga ketulusan yang kami rasakan kelak dapat kami balas dengan apa yang kami punya.

Ya Rabb, kami berucap syukur pada Mu atas segala pertolongan yang engkau beri. Jadikan setiap hari kami penuh berkah dan kebahagiaan. Jadikan kami pasangan yang senang menuntut ilmu, istiqamah di jalan Mu dan mencintai Mu dan Rasulullah. Kuatkan hati kami, jiwa kami, dan fisik kami untuk terus dapat beribadah kepadamu. Jadikan pekerjaan dan kehidupan kami menjadi jalan untuk meraih ridha Mu. Semoga kebaikan yang sama juga tersampaikan kepada setiap tangan-tangan pemurah yang telah menolong kami.

Syukur Pada Mu Ya Rabb

Alhamdulillah sudah sepekan kami menikah. Adapun kalimat yang terucap padamu adalah syukur atas segala karunia yang telah kau berikan Ya Rabb. Hari-hari kami penuh dengan senyum dan tawa ceria. Mengisi kehidupan baru kami dengan harapan, komitmen, mimpi, dan segala kesungguhan untuk berbuat yang terbaik. Sungguh tak pernah terpikir di hari-hari awal pernikahan ini kami sudah bisa menempati rumah sendiri, memiliki kasur, kulkas, tv, setrika, rice cooker, pompa air dan lain. Tidak hanya itu Kau juga tunjukkan bahwa kami dilimpahi kasih sayang dari banyak sekali manusia di sekitar kami. Terima kasih ya Rabb

Hanya syukur pada Mu saja.
Aamiin.

3 Kabar 1 Pekan

Pekan ini ada 3 kabar special untukku 2 kabar baik 1 tidak begitu baik.

1 kabar yang tidak begitu baik adalah my aussie application was denied. Ini adalah entah yang kesekian kalinya aku gagal dalam seleksi beasiswa. Jadi rasa gagalnya udah makin hambar hehehe tapi tetep aja kecewa dikit :p

1 kabar baik adalah email dari Bu Endang yang menyatakan bahwa penelitianku berhasil masuk ke dalam Jurnal Teknik Kimia Indonesia (JTKI) judulnya Physical Characteristics of Biodegradable Foam from Mixed Hominy Feed and Cassava Starch. Terdengar ilmiah khan hehehe :p

1 kabar baik lainnya aku bawa pulang naik motor malem-malem membelah jalan ibukota 🙂

Stepping Stone 2011

Tahun 2011 tinggal menyisakan beberapa jam saja. Sudah saatnya kita berhenti sejenak untuk melihat apa yang telah kita kerjakan selama setahun lewat dan memastikan diri atas apa yang akan kita kejar di tahun menjelang. Berikut ini adalah kilas balik yang terjadi dalam hidupku setahun terakhir. Ini sekedar live journal bagi diriku pribadi, jika ada yang bermanfaat bagi pembaca aku bersyukur untuk itu.

Bulan Januari lebih banyak aku habiskan di laboratorium baik Lab Polimer Pertamina maupun Lab TIN. Ada pelajaran penting yang aku lalui pada hari-hari itu. Saat terberat dalam penelitian itu adalah saat kami pulang dari Lab Pertamina dengan alat yang rusak, progress yang lambat, dan pikiran yang mumet. Namun, pada saat yang sama Allah memperlihatkan pada kami betapa hidup kami telah jauh lebih lengkap daripada orang-orang di sekitar kami, setidaknya daripada yang tinggal di Pulogadung. Inilah yang membuat kami menelan dalam-dalam keluh kesah dan tetap menegakkan kepala melihat hari depan.

Bulan Februari aku ukir dengan sebuah perjalanan menemukan kotak baru dalam ajang pemilihan Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga. Aku mengakhiri ajang itu di peringkat keempat. Pelajaran penting dari ajang itu adalah temukan yang kau cari bukan sekedar yang kau inginkan. Di hari pertama seleksi aku menempati peringkat enam dan berharap tidak lanjut ke hari berikutnya karena aku sadar bukan ini yang aku cari. Banyak dari kontestan yang menurutku lebih prioritas untuk berangkat; bukan aku. Banyak dari mereka yang menurutku memiliki alasan yang begitu dangkal, niat idealis untuk sesuatu yang berharga buat umat dinilai terlalu usang agaknya. Tapi aku lanjut ke hari kedua, pagi itu aku berdoa jangan aku yang terpilih. Doaku terkabul dan yang membuat ku bahagia adalah aku sukses menarikan saman, bermain rekorder, berpantun dan bersajak. Sebuah kebanggaan tersendiri sebagai pemuda yang tak lupa akar negerinya sendiri.

Kepergian Februari membuatku kembali berkutat dengan penelitian sampai akhirnya musibah datang. Laptopku hilang. Data penelitian lebih dari setengah tahun pergi tak berbekas. Beruntung aku telah mengirim berkas penelitianku untuk kompetisi penelitian di Jepang dan beberapa data masih tertulis rapi dalam beberapa lembar kertas. Penelitianku harus lanjut dan pantang berhenti. Terima kasih aku ucapkan untuk yang telah memotivasiku untuk terus bergerak dan terima kasih juga untuk teman liqaku yang telah meminjami ku laptopnya.


Mei hadir dengan tantangan dan berkah yang luar biasa. Aku sidang skripsi. Sebelum ujian aku berharap tidak mendapat penguji yang ahli rekayasa proses dan ahli statistika. Namun, Allah berkehendak lain. Pengujiku adalah ahli rekayasa proses dan ahli statistika. Berhari-hari aku siapkan sidang skripsi itu dengan belajar tiada henti. Sampai akhirnya aku mengisi liqa binaanku di Alhur. Saat itu pesan dari Allah sampai ke hatiku yang seakan menegur diriku melalui ayat yang dibacakan binaanku itu. Ali Imran 160 : Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal. Ayat ini mengingatkanku akan pentingnya kita berserah pada Allah dan tidak bertawakal pada apapun selainnya. Hari sidang pun tiba. Kejutan kembali hadir melalui tantangan dosen pembimbingku dengan sidang dalam Bahasa Inggris. Hampir 3 jam berlalu dengan pertanyaan-pertanyaan yang tajam dan menukik. Tawakal pada Allah memang memberi kekuatan tersendiri. Aku keluar ruangan sidang dengan gelar S.TP dan mahasiswa TIN IPB pertama yang sidang skripsi dalam Bahasa Inggris. Alhamdulillah 🙂

Hari-hari berikutnya juga aku isi dengan menghadiri beberapa seminar dan diskusi dengan rekan-rekan mahasiswa. Aku juga sempat kembali ikut TES TOEFL dan mempersiapkan diri untuk mendaftarkan diri pada program Fullbright walau pada akhirnya email dan surat dari AMINEF hadir dan memberi kabar bahwa bukan tahun ini aku ditakdirkan berangkat. Aku juga menjadi pengisi tetap Studi Pustaka PPSDMS Bogor. Di sana aku berbagi berbagai kisah pendiri negeri dan tokoh muslim di awal kemerdekaan. Berbagi dengan mereka adalah sebuah kebahagiaan.

Bulan Juni aku tandai dengan perjalanan bersama dengan Diah nonton Indonesia Open 2011 dan jalan2 ke Gatot Subroto trus bawa pulang banyak bingkisan. Walau sempat sakit saat ulang tahun tapi Juni jadi bulan yang mengesankan.

Juli hadir dengan cerita wisudaku. Berakhir sudah cerita dalam fase mahasiswa. Aku bayar tunai amanah orang tuaku dengan menjadi sarjana. Berita baiknya lagi Asto, rekan penelitianku, menjadi lulusan terbaik TIN. Juli juga menjadi momen saat aku mulai aktif mencari kerja tuk kejar cita-cita. Hari itu panggilan dari BSM datang tanpa pernah ku melamar kerja ke sana sebelumnya.

Agustus alias Ramadhan tiba membawaku larut dalam pertanyaan-pertanyaan yang membuatku merenung dalam dan bertanya kembali akan apa yang aku cari dan kemana aku akan pergi. Mesjid BI, Al Hurr, Mesjid At Tiin, Mesjid Rumah dan seluruh rangkaian itu membuat Ramadhan tak dapat dilupakan. Oh iya, aku juga sempat buka puasa bersama IELSP dan diundang oleh dubes Amerika untuk buka puasa bersama di rumah dinasnya. Lengkapnya baca di sini

September-Oktober-November-Desember. Janji Allah memang benar; aku mendapat pekerjaan. Aku bekerja untuk BSM; Desk Training; pengembangan program. Yang aku syukuri di tempat baru ini aku bisa menjaga ibadah dan bertemu orang-orang yang tetap bertahan dengan idealisme di tengah pragmatisme dunia pekerjaan.

Bulan-bulan ini aku jalani dengan penuh kesabaran. Aku sadar betul tiap pilihan mengandung resiko yang tak pernah bisa aku pilih. Yang terpenting setelah kita menentukan pilihan adalah berkomitmen dengan pilihan itu. Sulit dan senang pasti datang, tapi yakinlah pertolongan Allah itu dekat bagi mereka yang bertahan dan pantang menyerah. Doaku semoga langkah kita tetap dalam ridha-Nya.

Pada bulan November ini aku berhasil menyelenggarakan BSM Let’s Read di 123 kantor cabang BSM seluruh Indonesia. Acara ini memecahkan Rekor Dunia MURI. Keren kan? hehehe. Semoga upaya ini dapat mencerdaskan kehidupan bangsa. Di bulan Desember aku berhasil menjadi Juara II BSM Public Speaking Contest. ^^ hadiahnya akan aku simpan baik-baik. Aku juga dapat keanggotaan Toastmaster International.

Satu hal yang aku syukuri di tahun ini adalah Allah memberikanku kesempatan untuk mengenal lebih jauh siapa diriku, dekat dengan keluarga, dan binaanku di Bogor. Aku meyakini tahun ini adalah tahun dasar yang semoga dapat menjadi batu loncatan untuk amal-amal yang jauh lebih berkualitas di tahun berikutnya.

Commitment

Aku teringat pada sebuah wawancara kerja yang aku jalani sebelum mendapatkan pekerjaanku saat ini. Setelah menyisihkan ratusan pelamar akhirnya aku masuk ke tahap wawancara yang menyisakan 30 orang saja. Wawancara itu berlangsung dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Menjelang wawancara berakhir, Ibu HRD bertanya, “what value that can help you to get what you have achieved today?” I answered,”commitment”. When I commited to something I’ll give my best effort, performance and anything that I have to accomplish what I’ve promised. When I am in the class, I study. I cut any other option to do, only study. But when I do my other activity, I cut other option that can bother me. Ibu HRD itu mengangguk-angguk lalu membuat catatan kecil di kertasnya. Beberapa pekan berikutnya aku dihubungi mereka kembali, aku lolos ke tahap berikutnya.

Teman-teman sekalian, kita perlu sadari setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Ubahlah kekuranganmu sejauh yang kau bisa dan bersabarlah pada kekurangan yang tak bisa engkau ubah (given from God). Lalu jangan berhenti dan berendah diri apalagi meratapi nasib. Allah pasti juga membekali kita dengan kelebihan. Temukan kelebihanmu dan asahlah terus hingga menjadi sesuatu yang bisa kau andalkan baik untuk dirimu terlebih lagi bermanfaat bagi orang-orang di sekitarmu.

Yang sering terjadi mungkin adalah kita tidak bersabar pada kekurangan kita dan tidak berkomitmen pada apa yang Allah lebihkan pada diri kita. Perlu diketahui bahwa sebelum menjuarai Tour d France, Lance Amstrong divonis kanker. Ia bersabar dengan apa yang ditakdirkan Tuhan dan fokus pada keahliannya bersepeda. Ia berkomitmen pada latihannya hingga akhirnya menjadi juara Tour d France selama 7 tahun. Alfa Edison kecil juga disebut autis oleh tetangganya. Ibunya dengan sabar memberinya pelajaran sekolah karena sekolah umum tak menerimanya. Dengan kerja keras dan komitmen yang kuat, saat ini dia adalah salah seorang ilmuwan dengan jumlah paten terbanyak. Lionel Messi juga divonis mengalami gangguan hormon pertumbuhan, tapi saat ini pada usia yang belum genap 24 tahun dia berhasil menjadi pemain terbaik di dunia dengan tubuh mungilnya itu.

Membuat keputusan
Tidak banyak orang yang berani bermimpi. Dari sejumlah orang yang berani berani bermimpi tersebut tidak banyak yang berani menjalani proses yang melekat dengan pilihan mimpi tersebut. Mereka tak pernah benar-benar membuat keputusan. Dalam bahasa Inggris keputusan berarti decision. Decision berasal dari bahasa latin yang terdiri dari dua akar kata yaitu de yang berarti dari dan caedere yang berarti memotong. Anthony Robbins menyebut bahwa making a true decision means commiting to achieving a result and then cutting yourself off from any other possibility. Sederhananya saat kita membuat keputusan kita tidak sekedar memilih sebuah tindakan tetapi juga mengahapus pilihan-pilihan lain yang tersedia. Setelah membuat keputusan berkomitmenlah pada keputusan dan resiko yang melekat bersama keputusan tersebut. Karena komitmen tak hanya berarti perjanjian tapi juga bermakna tanggung jawab maka bersiaplah dengan segala proses yang membersamai keputusanmu. Yakinlah dengan proses yang kau jalani! Selama niatmu karena Allah maka percayalah akan janji dan pertolongan Allah yang pasti datang.

Tentang keputusan dan komitmen ini aku punya pengalaman tersendiri. Kala itu aku ‘dilamar’ untuk menjadi ketua BEM Fateta. Hari-hari itu pada tahun 2008 begitu berat bagiku. Saat itu ayah sudah berada di Aceh dan ekonomi keluargaku tak lagi stabil semenjak krisis ekonomi global yang membuat investasi ayah jatuh hingga hampir setengahnya. Saat diminta untuk maju menjadi ketua BEM aku begitu gundah. Yang aku sadari bahwa hari itu aku bukanlah seseorang yang direncanakan untuk menjadi Ketua BEM. Saat itu sudah malam saat aku terduduk sendiri di depan GWW dan memikirkan segala yang terjadi hari-hari itu. Begitu sedih dan berat rasanya. Terlebih aku tahu betul resiko dan tanggung jawab yang mesti aku emban dengan posisi tersebut. Akhirnya aku membuat keputusan: aku maju. Setelah melalui perjuangan yang tidak ringan tim kami menang. Aku diamanahi menjadi ketua BEM F.

Keputusan itu membawaku kepada perjalanan yang tak mudah selama setahun berikutnya tapi aku telah berkomitmen pada apa yang telah aku putuskan. Aku bersyukur akan komitmen itu karena hal itu yang memberi aku energi untuk mendatangi setiap kelas hanya untuk memberi informasi bahwa air mati karena alasan ini dan itu, menemui wakil dekan, dekan, bahkan rektor untuk menyampaikan keberatan mahasiswa akan naiknya SPP, juga menguatkan diriku saat ditolak dan dimarahi salah seorang dosen saat aku hendak membantu menyelesaikan masalah salah seorang mahasiswa yang begitu pelik. Menjelang masa jabatanku aku sungguh malu saat harus meminjam orang tuaku untuk membantu keuangan BEM yang sekarat. Mereka memberi pinjaman dan BEM kembali berjalan dengan berbagai program. Kami berhasil menolong mahasiswa-mahasiswa yang tak sanggup membayar SPP, mengayomi mereka yang dulu jauh dari BEM, memperbaiki mushola, menjalankan beragam program peningkatan softskill, dan beragam program lainnya. Sungguh pengalaman-pengalaman itu sungguh berharga. Saat aku berada diakhir masa jabatanku aku sadar masih banyak kekurangan yang terjadi tapi secara pribadi aku puas dengan apa yang telah kami raih. Hanya kepada Allah saja aku bertawakal setelah apa yang telah kami usahakan.

Masih ingatkah teman-teman akan kisah Rasulullah saat ditawari menjadi raja, diberi kekayaan terbesar dan hendak dinikahkan dengan perempuan tercantik di antara suku Quraisy. Dengan mantap Nabi menjawab,”Meskipun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan ditangan kiriku, agar aku meninggalkan seruanku. Sungguh, sampai mati pun tidak akan kutinggalkan !” Jujur saja aku merinding mendengar jawaban ini. Tapi itu bukan sekedar jawaban itulah keputusan Nabi pada tugas dakwah yang diembannya. Komitmennya pada dakwah akhirnya mampu mengubah jazirah Arab sebagai pusat peradaban dunia dengan Islam sebagai satu-satunya syariah.

Saya ingin membawa bahasan ini pada hal aspek yang lebih kontemporer. Saat masih di Amerika aku melihat fakta tingginya perceraian di sana. Jangankan di Amerika, di Indonesia pun banyak artis yang bercerai. Mengenai hal ini aku menduga bukanlah uang, kecantikan/ketampanan yang menjadi masalah. Mungkin lebih kepada komitmen dan niat mereka untuk menikah. Pekan lalu saat sowan ke asrama PPSDMS aku membaca tugas seorang anak asrama yang menyatakan bahwa setidaknya terdapat tiga pondasi dalam rumah tangga yaitu, cinta, respek, dan komitmen. We need more than love to bring the family to surive. We also need respect and commitment.

Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari cerita yang aku tulis malam ini. Jaga dirimu baik-baik 🙂

Dalam 24 Tahun Kebersamaan Kami

“aku terlahir ketika perang Pasifik tengah berkecamuk”

Begitulah kira2 Soe Hok Gie mengawali buku hariannya. Setidaknya itu yang masih teringat di kepalaku kini setelah membaca catatan harian seorang demonstran saat masih SMA dahulu. Posting ini bukan bermaksud menduplikasi apa yang telah dilakukannya tapi lebih sebagai refleksi diri akan setiap langkah yang telah aku lalui bersama keluargaku. Yang aku yakini bahwa setiap keberhasilan selalu berawal dari keluarga dan keluarga khususnya ayah dan ibuku yang menjadi tokoh paling berjasa dalam hidupku. Sebagai permulaan terlebih dahulu aku bersyukur pada Allah atas dua malaikat yang telah Allah kirim untukku yang menemani tiap tangis dan demamku, membimbing dengan sabar pada tiap keluh dan amarahku, dan memelukku erat saat malam-malam gelap yang begitu pekat. Terima kasih ayah dan bunda…

Ibu datang merantau ke Jakarta hanya berbekal ijazah SMIP Pacitan. Sesampainya di Jakarta, tempat tanpa sanak saudara, ia bekerja di sebuah pabrik sebagai seorang supervisor yang tak punya kecakapan yang mumpuni. Namun, perjuangannya dimulai jauh sebelum itu. Ibu adalah sosok yang haus akan pendidikan di lingkungan yang memandang pendidikan adalah barang mahal dan tak tentu arahnya. Maklum saja, Pacitan adalah daerah berkelok-bergunung di Jawa Timur yang hingga kini saja masih berantakan jalannya. Bisa dibayangkan betapa sulitnya ke sana 50 tahun yang lalu. Mbahku tak mengizinkannya sekolah tapi ia sudah bulat akan pilihannya. Ia bersekolah sendiri biar sesekali dimarahi ibunya sendiri. Selulus SD ia tak berhenti ia teruskan hingga SMP dan SMIP di Kota Pacitan. Saat bersekolah di SMIP ia menumpang di rumah alm Pak Bandoyo, seorang yang nantinya menjadi penghubung antara ayah dan ibu saat mereka menikah.

Selesai dari SMIP ia merantau ke Jakarta. Tujuan cuma satu: Kuliah. Ketiadaan biaya membuatnya harus bekerja untuk membiayai hidupnya. Bekerjalah ia di sebuah pabrik dengan jabatan supervisor yang telah aku sebut tadi. Setiap istirahat tiba ia selalu menangis karena tak kunjung bisa berkuliah tapi bara semangatnya tak pernah padam untuk berkuliah. Suatu saat ia berkenalan dengan teman satu pabriknya yang punya kenalan untuk mendaftar di PGSMTP sebuah program satu tahun untuk mengajar sebagai guru. Singkat cerita ia lolos dan dapat menuntut ilmu di sana dengan beasiswa dari salah seorang kenalan di Departemen Agama. Rencana kuliahnya pun berlanjut, IKIP Muhammadiyah. Tapi niat itu tertunda karena ia bertemu dengan pria yang kemudian disebut sebagai suaminya setelah mereka menikah 24 tahun yang lalu. Ayah berjanji saat itu untuk membiayai kuliah mamah sampai selesai. Padahal mereka sama-sama tahu bahwa itu bukan perkara yang mudah saja.

Lain ibu, ayah memulai perjuangannya di tengah kota Semarang. Jika kau ingin tahu ia adalah penarik air kampung Slamet, di daerah Mataram. Tak heran setiap aku pulang kampung ke rumah Mbah Semarang ayah selalu disapa ramah oleh tukang becak, tukang air dorong, tukang kaki lima dan lain. Mereka memang sudah kawan lama. Jika luang ayah menemani Mbah Kakung untuk narik angkot. Alm Mbahku adalah supir angkot. Ia lebih beruntung dari Ibu karena bisa bersekolah lebih leluasa dan kesempatan itu tak pernah disiakannya. Ia berusaha keras sehingga menjadi salah satu yang terbaik di kelasnya. Selepas lulus SMA ia mendaftar ke Telkom dan TNI AU dan nasib membawanya ke Jakarta sebagai seorang tentara untuk menemui pasangannya hingga surga (Insya Allah).

Mereka pun akhirya menikah 24 tahun lalu dalam kondisi yang amat terbatas atau lebih tepatnya pas-pasan. “Kamu tahu nak? Dulu ayah menikah saat penghasilan ayah cuma 80ribu sebulan” jelas ayah padaku. “Dulu kami cuma makan nasi pake sambal dan tahu nak” cerita Ibu padaku. Aku bukan tidak tahu, aku pun sempat merasakan masa-masa pahit itu. Dahulu kami tinggal di Tanjung Priok, lebih tepatnya di Warakas. Terkadang aku main ke atas kapal sambil disuapi Ibu. Saat air pasang rumah kami pasti kebanjiran. Jika sudah banjir maka got yang hitam akan luber sampai ke dalam rumah dan tugasku cuma satu ikut bantu membersihkan halaman rumah. Terkadang saat aku terbangun dari tidur aku berada ditengah genangan air yang menggenangi ruangan yang berantakan. Suatu hari aku pernah tercebur ke dalam got yang penuh kotoran itu rupanya hitam sekali saat aku bermain jual-julan koran. Tangisku tak keruan. Ibu memandikanku kemudian. Tak perlu aku jelaskan lebih lanjut tapi yang jelas sanitasi di sana buruk sekali. Sampai-sampai tangan kiriku pernah korengan yang membuatku tak bisa menggenggam dengan tangan kiri. Rumah itu kini telah tiada berubah menjadi jalan tol yang berdiri setelah penggusuran. Namun, rumah itu yang menjadi saksi bahagianya kedua malaikatku yang bahagia melihat putranya bisa berdiri dan berjalan bahkan terus berlari.

Sudah agak besar aku masih ingat bahwa aku sering menjemput ayah yang pulang dari kantornya. Aku juga terkadang menemani ayah menukar beras jatah TNI dengan beras yang lebih sedikit jumlahnya tapi lebih pulen. Mengingat gajinya yang tidak seberapa, ayah menjaga bioskop sepulang kantor. Saat ibuku kuliah, ia cuma berbekal 500 rupiah. 400 rupiah untuk ongkos 100 rupiah ditabung. Suatu hari ibu nemu uang 100 rupiah di bus kota, ia senang sekali karena bisa membeli air minum dengan uang itu, maklum saja ia tak pernah jajan selama kuliah. Sepulang kuliah Ibuku mengajar di sebuah SMP. Suatu hari saat hamil besar ia terjatuh karena keletihan. Ibuku juga masih fasih menceritakan bagaimana paniknya ayah membawa ibu masuk ke rumah sakit Gatot Subroto untuk melahirkanku ke dunia.

Saat aku menjelang berusia 4 tahun, kami pindah ke Halim. Aku masih ingat saat ayah mengecat rumah ini untuk pertama kalinya. Tanganku masih korengan hari itu. Kehidupan kami berangsur membaik hari-hari itu. Saat itu belum ada mal di dekat rumah. Setiap bulan aku dan ayah menggowes sepeda untuk berbelanja di toko Cina. Momen itu masih jelas teringat di memoriku. Oiya, suatu hari saat masih di Priok, ayah pernah menyuapiku bubur ayam di pinggir rel kereta sambil melihat anak-anak lain yang main layang-layangan. Saat kereta melintas kami menyingkir dari rel untuk sesaat. Momen itu masih jelas sekali dan begitu indah.

Tahun 1995 ibuku lulus sebagai Sarjana Pendidikan IKIP Muhammadiyah. Hari itu aku izin dari sekolah untuk datang ke wisuda Ibu. Aku diantar tanteku menuju lokasi wisuda. Tapi kami tak pernah sampai ke wisuda itu, langkah kami tertahan di Kampung Rambutan karena bus tak kunjung datang hingga hari siang. Rumah ini pun juga berubah sesaat demi sesaat. Aku bisa bersekolah di tempat yang baik dan kompetitif. Saat aku sakit kedua malaikatku sungguh panik karena aku jarang sekali sakit. Tak pernah habis kasih sayang mereka. Ayah suka mengajak aku shalat malam saat aku masih mengantuk di tengah malam.

Sungguh banyak rizki yang telah Allah beri kepada kami. Sebuah motor, TV, komputer dan kasur yang nyaman bersama kehangatan keluarga berlimpah di rumahku. “Sekarang kau bisa bercerita soal Amerika nak” lirih ucap Ibu padaku. Thanks Mom ^^ I love you so much. Kita telah hadapi banyak hal bersama pahit getir ini. Mengingat semua memori itu, tak perlu ada ragu dan takut dalam hati yang menghampiri tuk hadapai hari depan. Yang mesti kita takuti adalah sebuah pertanyaan: adakah kita sudah bersyukur atas segala anugerah dan keselamatan yang telah Allah beri kepada kami? “Ampuni kami ya Rabb, atas segala kelalaian kami dari mengingat-Mu atas kekhilafan kami untuk bersyukur atas segala nikmat dari-Mu. Pada 24 tahun kebersamaan kami, aku mohonkan doa Ya Rabb, kasihilah kedua orangku sebagaimana mereka mengasihi aku sewaktu aku kecil.

Terima kasih Ibu dan Ayah atas segala yang telah kau beri padaku. Kini kau berikan jalan bagiku untuk menapaki hidupku sendiri. Iringilah terus aku dalam doa-doa malam kalian dan semoga Allah terus mengasihi dan memberkahi kita semua 🙂