freewriting#1

teringat jelas dalam benakku

langit biru tanpa awan

jaket tipis bem yang menepis dingin pagi hari

saat sejurus udara menyusup rapat pori-pori ketika pintu dorm ku buka. Randi, selamat datang di hari pertama mu berkuliah di Ohio University. Peta di tangan. rumput hijau embun di ujung-ujung.

ada gairah yang timbul untuk menekuni tiap baris buku. ada kenikmatan yang muncul saat leher pegal menyelesaikan tugas. ada mimpi yang sedang kujalani, im walking my dream

squirrel perlahan menengok lalu pergi membawa makanannya, langit masih hening tak bersuara, lalu jam raksasa itu berdentang. kita adalah orang yang muda yang jadi harapan para tua di sana.

namun kini awan telah kembali datang menutup langit di atas ku. tak ada lagi udara dingin yang menyusup 2 derajat di pagi hari. tak ada lagi squirrel yang mengendap-endap. langit pun sudah gemuruh, dan kita tetap orang muda yang diharap-harap

tinggal memori yang tersisa, tapi tiap kali aku melihatnya dalam baris-baris warna, kembali ada yang tersembul dalam dada, tetap ada rasa tak terima, bahwa kita masih belum bisa berbuat banyak yang berarti

mari aku lihat kembali sekali lagi, biar bara menyala lagi, biar mimpi itu ku lanjutkan kembali, ada semangat yang tersembul, ayo Randi, ada tapak dan jejak berikutnya yang menunggu. ada wajah2 yang perlu senyum orang muda.

mari kita lihat ke langit dan singkirkan awan dengan tangan di atas keyboard bukan dahi bersandal bantal. karena hari-hari esok adalah untuk orang muda

Holding Hands

Menikahlah bukan karena kau hanya ingin sekedar hidup bersamannya

tetapi menikahlah karena kau tidak bisa hidup tanpanya

Bagiku menikah bukan sekedar tentang hidup, tetapi kesetiaan hingga maut membawa kami kembali hidup bersama di surga Allah yang Maha Indah.


Saat ragaku terasa tua
Tetaplah kau slalu di sini
Menemani aku bernyanyi

Saat rambutku mulai rontok
Yakinlah ku tetap setia
Memijit pundakmu hingga kau tertidur pulas

Reff:
Genggam tanganku saat tubuhku terasa linu
Kupeluk erat tubuhmu saat dingin menyerangmu
Kita lawan bersama, dingin dan panas dunia
Saat kaki tlah lemah kita saling menopang
Hingga nanti di suatu pagi salah satu dari kita mati
Sampai jumpa di kehidupan yang lain

Saat perutku mulai buncit
Yakinlah ku tetap yang tersexy
Dan tetaplah kau slalu menanti
Nyanyianku di malam hari

(Saat Aku Lanjut Usia, Sheila On7)


Teruntukmu bersama Tugas Pamungkasmu

Semoga catatan ini menemuimu yang berada entah di laboratorium, di depan laptopmu, di lapangan penelitianmu, di desa tempat studimu, atau di kamar saat kau melepas lelah dengan tersenyum setelah lelah bergelut dengan tugas pamungkasmu.

Belakangan ini tersiar kabar bahwa facebook akan segera ditutup pada 15 Maret 2010. Terlepas dari benar atau tidaknya kabar tersebut, salah satu sumber mengatakan bahwa Mark Elliot Zuckerberg si empunya facebook sudah penat, jenuh, dan merasa terganggu kehidupannya dengan keberadaan facebook.

Mark Zuckerberg mengumumkan akan menutup Facebook pada bulan Maret 2011 mendatang. Ia mengaku stres dan tertekan mengelola jejaring sosial yang kini menduduki peringkat teratas. “Facebook telah di luar kendali dan perusahaan ini telah membuat diriku stres dan menghancurkan hidupku. Aku harus mengakhiri semua kegilaan ini,” kata Zuckerberg dalam konferensi pers di Palo Alto, Sabtu (8/1). (Media Indonesia, 10 Januari 2011)

Kisah ini mungkin tidak jauh berbeda dengan kisah yang sedang kita rajut di akhir masa ngampus ini. Sejilid buku yang mungkin berwarna merah, orange, putih, hijau atau entah apa warnanya belum juga tersimpan di antara buku di rak yang kita miliki. Boleh jadi ini membuat kita sama halnya dengan Mark merasa tertekan, stress, dan penuh beban. Catatan ini bukan untuk menambah bebanmu akan hal itu kawan atau bahkan mengguruimu. Namun, catatan ini ingin sekedar membawamu keluar sedikit dari lingkaranmu dan semoga menghadirkan semangat dan ruh baru untuk terus bergerak.

Masih ingatkah kau tentang larutan jenuh pada mata kuliah kimia dasar? Secara sederhana larutan jenuh adalah larutan yang telah melewati titik jenuhnya sehingga sedikit saja suatu zat dimasukkan ke dalamnya maka akan terbentuk endapan pada larutan tersebut. Mungkin hal ini yang terkadang menghampiri hari-hari kita, setelah berpuluh minggu kita lewati untuk menyelesaikan tugas akhir ini tetapi belum juga selesai. Sehingga mungkin kita sudah hampir berada pada titik jenuh. Tentu kita tidak berharap berada pada titik itu karena jika itu terjadi maka sedikit saja masalah datang kita akan merasa begitu tertekan dan justru mengendap -tak bergerak di dasar-

Seperti kita ketahui ada beberapa hal yang mempengaruhi kelarutan suatu zat, yaitu suhu, volume pelarut, dan tekanan. Semakin tinggi suhu suatu zat maka nilai kelarutannya akan semakin besar. Jika suatu larutan yang jenuh dipanaskan maka kelarutannya akan meningkat sehingga larutan tersebut tak jenuh lagi. Begitu juga dengan diri kita saat sudah hampir berada pada titik jenuh. Mari naikkan suhu kita dengan bergerak karena benda bersuhu tinggi partikelnya lebih bebas bergerak. Temui teman-teman kita dan serap energinya atau coba keluar dari kosan secara rutin agar kita lebih panas, tidak dingin diam membeku di kamar. Insya Allah akan tumbuh semangat baru dan harapan yang harum dalam diri kita.

Faktor kedua adalah volume pelarut. Semakin sedikit volume pelarut maka suatu larutan akan cenderung lebih cepat jenuh. Oleh karena itu jika cairan sudah jenuh tambahkanlah pelarut agar kelarutannya meningkat dan dapat menyerap kembali lebih banyak zat terlarut. Sama halnya dengan diri kita, mari tambah volume larutan kita dengan ilmu. Lebih banyak membaca baik materi skripsi atau asupan ruhani tentunya akan menutrisi akal dan membasuh hati sehingga menjadi terang dan lapang. Hal ini akan menyadarkan kita bahwa betapa terbatasnya kita selama ini dan tentunya masih banyak peluang yang mungkin belum kita sadari apalagi temukan.

Berikutnya adalah tekanan. (William Henry: 1774-1836) Massa gas yang melarut dalam sejumlah tertentu cairan (pelarutnya) berbanding lurus dengan tekanan yang dilakukan oleh gas itu (tekanan partial), yang berada dalam kesetimbangan dengan larutan itu. Contohnya kelarutan oksigen dalam air bertambah menjadi 5 kali jika tekanan parsialnya dinaikkan 5 kali. Dalam aplikasinya mari jadikan mimpi, cita-cita dan harapan kita akan masa depan menjadi pendorong kita dan menekan kita untuk terus maju dan bergerak. Yakinlah bahwa kita juga bisa menyusul rekan-rekan lainnya. Yakinlah bahwa masa itu akan datang, bahwa kelulusan itu akan segera kita jelang. Mari kita tumbuhkan
optimisme karena Allah sesuai dengan prasangka hambanya.

Namun berhati-hatilah dengan tekanan ini karena boleh jadi tekanan juga muncul dari tuntutan lingkungan di sekitar kita dan kita mengintepretasikannya berbeda sehingga justru menjadi beban ketimbang pendorong. Tekanan muncul saat laboratorium mulai kosong, saat nomor semakin mendekat ke 800, saat semakin sedikit yang kita kenali di kampus. Lalu terkadang datang bisikan jahat yang menimbulkan pengandaian-pengandaian. Andai dulu aku begini, jika saja dulu begitu dsb. Bisikan ini justru menimbulkan kesengsaraan ketimbang solusi, seolah kita satu-satunya yang memiliki masalah yang berat di dunia ini. Seorang uztad berkata,”Yakinlah bahwa yang terjadi hari ini lebih baik daripada yang tidak terjadi hari ini.” Nasihat ini mengingatkan kita untuk tetap fokus pada apa yang bisa kita kerjakan saat ini daripada menyesali masa lalu yang tidak akan bisa mengubah masa depan. Kalau boleh aku sarankan naiklah angkot ke Baranang Siang, lalu perhatikan pengamen yang menumpang angkot kita atau coba saksikan acara Tolong di RCTI *bukan promosi. Walau mereka tidak seberuntung kita tapi mereka tetap hidup dan mengisi kehidupannya dengan kerja. Dengan dua hal itu boleh jadi kita bisa menyadari bahwa kondisi kita hari ini jauh lebih baik daripada banyak saudara kita lainnya sehingga kita lebih dapat bersyukur.

Mari pastikan bahwa tangan kita bekerja, kaki kita melangkah, dan hati kita berdoa. Tak peduli seberapa tinggi penghalang yang ada di depan karena yang kita tahu adalah berlari ke depan mengejar takdir kemenangan. Insya Allah. Mari jadikan setiap nafas kita menjadi ibadah dalam tugas akhir ini. Innallaha ma ana.

*monggo ditag ke teman yang lain semoga menjadi hikmah

Wonderful 2010

Tahun 2010 tak lama lagi akan segera berakhir. Banyak kenangan yang telah terlewati banyak cerita dan pengalaman telah terukir dalam lembar hidup kita. Tahun ini menjadi tahun istimewa bagiku karena pada tahun ini aku banyak sekali memperoleh nikmat dari Allah. Aku berhasil memperoleh banyak teman, saudara, inspirasi, semangat, rezeki tak terduga, semangat dan cita-cita yang kian membumbung tinggi.

Cerita tahun ini aku awali dengan Makrab TIN 43 yang begitu berkesan. Walau tak semua bisa hadir, tapi makrab kala itu kembali mengingatkan kami betapa waktu kami di kampus ini akan segera berakhir. Rasanya baru kemarin aku berseru Superman is dead, there is only Superteam…saat pemilihan KOMTI TIN 43 tetapi sekarang kami sudah diujung waktu dan mungkin akan segera berpisah…Pada malam hari kami kembali memutar memori saat-saat Hagatri, kuliah, praktikum, TIN Gathering, Fieldtrip, dan masa-masa indah lainnya. Kini satu per satu kami mulai terpisah untuk mencapai mimpi kami masing-masing

Kisah berikutnya adalah saat aku bertemu saudara-saudara baruku the Zeitgeister pada momen Pre Departure Orientation walau cuma beberapa hari di Wisma PKBI tapi pertemuan kami telah mengikat kami dalam persaudaraan. Foto visa, kumpul di Menara Imperium, jalan-jalan Monas dan Grand Indonesia, dan yang paling mantap adalah Have fun di DUFAN. Sepulang dari PKBI kami semakin kompak demi menuju kepergian kami ke Ohio University

Sebelum kemudian kami kembali bertemu di Bandara Soekarno Hatta, ayahku datang dari Aceh, ibuku juga sengaja hadir juga adikku. Mereka melepas kepergianku di Hotel Transit Soeta. Esoknya ayahku kembali ke Aceh. Aku berpesan ke adikku untuk menjaga ibu selama aku di Amerika.

Keesokkan harinya the Zeitgeister kembali berkumpul. Untuk pertama kalinya aku terbang ke luar negeri. Pesawat Japan Airlines mengudara membawa kami 10 jam di udara. Hingga akhirnya pagi hari di Narita menyapa kami. Dingin menyergap. Hei we are in Japan!!!! Narita begitu besar dan modern. Kami habiskan 8 jam di sana dengan shopping, lunch, taking a nap, and of course snapping  pictures. Tak lama kemudian kami sudah berada di kursi United Airlines. Kami di udara selama 18 jam melintas Samudra Pasifik. Entah berapa judul film kami habiskan. Hingga kemudian kami sudah mendarat di Washington. Hei Guys we’re in USA. Do you believe it? Sekali lagi aktivitas kami di Washington adalah makan, foto, belanja, dan foto lagi. Kami pun melanjutkan satu jam terakhir di udara menuju Columbus Ohio. Lewat tengah malam kami sudah berada di Ohio University Inn

Hari-hari kami berikutnya kami habiskan di Ohio University dalam programIELSP. Kuliah empat hari sepekan 5 jama sehari dengan segudang aktivitas ekstra kampus. Musim semi di Athens begitu indah semua bunga bermekaran, angin bertiup dingin, langit biru cerah dan semua yang kami lakukan adalah pengalaman baru. Setiap akhir pekan kami habiskan dengan jalan-jalan, olahraga, atau berkumpul bersama PERMIAS. Kami sempat berkunjung ke Ohio State, Cedar Point, Amish Country, Kenctuky, Homestay@ Cincinnati, kumpul di rumah Pak Yojo, International Street Fair, nari Saman dan semua kenangan yang tak terlupakan di Amerika. Namun, di atas semua pengalaman di Amerika aku bersyukur pada Allah karena telah mempertemukanku dengan 19 orang luar biasa. Mereka mengubah cara pandangku memandang kehidupan dan menyadarkanku untuk lebih banyak bersyukur.

Sepulang dari Amerika aku pikir itu adalah akhir petualanganku tahun ini karena aku harus fokus penelitian. Ternyata aku salah. Sepulang dari Amerika petualangan baru berjudul PIMNAS dimulai. Dari dua program yang kami laksanakan ternyata program Beras Organik berhasil lolos PIMNAS. Beberapa minggu kami habiskan untuk mempersiapkan kepergian kami ke BALI. Kami siapkan laporan terbaik, presentasi yang sempurna, dan segala hal yang kami butuhkan. Rasanya semua begitu seru dan menyenangkan. Pesawat Sriwijaya itu akhirnya mengudara menuju mimpiku berikutnya JUARA PIMNAS. Sesampainya di sana kami terus mempersiapkan diri hingga akhirnya waktu kami tiba. Presentasi poster berjalan lancar sedangkan presentasi laporan kami berlangsung seru penuh argumentasi dan data yang tak terbantahkan. Walau tak sesuai dengan target EMAS kami tapi kami bersyukur atas MEDALI PERAK dileher kami dan titel the BEST PRESENTER yang kami sandang. Esoknya adalah have fun bersama TIMPAMPIM : Gabuto dkk. Tepat sehari setelah kami kembali ke Bogor. Aku lanjutkan perjalanan menuju PPSDMS pusat. Tak kusangka aku menjadi Peserta Terbaik PPSDMS Regional 5. Alhamdulillah…satu lagi prestasi tercapai.

Jelang September penelitianku dimulai. Bersama akh Asto kami mulai merajut benang-benang kelulusan kami. Terasa lebih ringan saat dikerjakan bersama. Konsisten dan kami terus bergerak menuju cita-cita kami. Baru sekitar 3 pekan penelitian kami berlangsung, cerita baru kembali dimulai. Asto menikah. Aku pergi bersama Muthi, Mahe, dan Ophie Jelajah Aceh-Medan. Berbagi bahagia pada keluarga baru yang terbentuk hari itu. Perjalanan itu aku habiskan untuk melihat kondisi rakyat negeri ini di Sumatra. Melihat kondisi mess ayahku, shalat di Baiturahman, ke Kapal PLN yang terdampar jauh, makan malam di Banda, main ke rumah Abangnya Muthi lalu menuju rumah Ophie dan Mahesa. Selama 5 jam kami di KUPJ dan tiba pukul 11 malam di rumah Asto. Esoknya ijab kabul terucap, haru biru kami melihatnya. Selamat akh Asto. Jelajah Medan juga takkan mungkin lengkap tanpa bantuan Tira dan Ophie. Makasih ya.

Penelitian pun kembali aku mulai. Di sela2 aktivitas itu, EHEF 2010 kembali mengumpulkan the Zeitgeister : Randi, Bang Thomas, Agung, dan Tira. Hore!! hehehe. Semoga kelak kami dapat melanjutkan sekolah di salah satu universitas yang hadir hari itu. Pada bulan yang sama video yang aku submit di UN gagal lolos jadi juara Asia. hehehe tak apalah. Yang penting aku sudah berbagi pada yang lain. Tapi di akhir Oktober ada kejutan. Aku menjadi salah satu dari 10 orang mahasiswa peraih Tokyotech Commitment Award dari Jepang. Penelitianku mendapat hibah senilai 10.000 yen. Alhamdulillah. Kepergianku ke Bandung untuk menghadiri TICA Ceremony Award berbuah hikmah dengan berkunjung ke asrama PPSDMS Bandung dan rumah Winqi. Banyak inspirasi dan rasa syukur atas kunjungan tersebut. Walau singkat jalan-jalan di Bandung berhasil mempertemukanku dengan Herry Dharmawan dan Sugiarso Amin rekan seperjuangan di Rohis 81 dulu.

Sepulang dari Bandung, aku memulai perjalanan berikutnya. Go to Pacitan to pick up my grandma. Sekali lagi Allah memperjalankanku untuk melihat negeri ini lebih dekat. Perjalanan ini menjadi momen perenungan dan instrospeksi diri. Betapa negeri ini kaya tapi entah kenapa belum sejahtera. Perjalanan ini juga mendekatkanku kembali dengan keluarga besar kami di Pacitan. Betapa besar harapan mereka pada keberhasilanku. Insya Allah.

Sepulang dari Pacitan, Lab Pertamina Pulogadung membuka pintunya untuk Asto dan aku. Perlahan-lahan kami mulai menemui titik terang pada riset kami. Hasil yang diinginkan mulai tampak. Di sela-sela kesibukanku meneliti, aku sempatkan diri ke SU GBK mendukung TIMNAS melawan Thailand. Aku berangkat bersama Diah dan Ari(Zeitgeister). Situasi begitu gegap gempita, riuh rendah, dan semarak. Indonesia menang 2-1. Kini TIMNAS menuju Final.

Kejutan berikutnya kembali hadir. Meski tak menjadi pemenang, aku menerima sekedar tanda keikusertaan dari UNESCO atas partispasiku pada lomba esai yang aku ikuti pada Juni yang lalu.

Kini di penghujung tahun ini, aku berharap penelitian ku segera selesai dan bersiap diri untuk mengukir cerita berikutnya tahun depan. Syukur padamu ya Allah atas nikmat yang kau beri, semoga kami termasuk pada hamba-Mu yang bersyukur.

Hukum Kelembaman

Dalam Hukum Inersia atau Hukum Kelembaman dikatakan bahwa suatu benda yang diam akan cenderung diam dan benda yang bergerak akan cenderung terus bergerak. Dengan kata lain suatu benda akan cenderung mempertahankan kondisinya entah itu diam atau bergerak jika resultan gaya yang bekerja padanya sama dengan nol.

Mengacu pada Hukum Inersia ini maka sering kita dapati bahwa banyak manusia yang sulit untuk memulai sesuatu. Rasanya begitu berat dan penuh hambatan. Saat kita tidak dapat menemukan gaya dorong yang sesuai maka kondisi itu tidak akan pernah berubah. Kita akan cenderung untuk terus diam. Lain halnya dengan mereka yang sudah memulai, yang sudah bergerak, rasanya lebih ringan dan lebih mudah. Segala pintu memang belum terbuka, tetapi rasanya kita selalu mempunyai kunci untuk membukanya atau setidaknya selalu ada jendela yang tidak terkunci. Hambatan yang dirasakan rasanya mudah diatasi. Dengan kata lain kita cenderung untuk terus bergerak.

Mengapa hal ini terjadi?

Untuk menjawab hal itu mari kita lebih lanjut pelajaran kita pada bab Gaya Gesek. Gaya gesek dirumuskan sebagai hasil perkalian dari koefisien gesek dengan gaya normal (gaya yang tegak lurus dengan bidang datar). Jadi saat tidak ada gaya yang bekerja pada benda maka gaya gesek sama dengan nol. Namun, saat ada gaya yang bekerja pada benda maka gaya gesek akan senilai dengan gaya yang bekerje tersebut dikalikandengan dengan koefisien geseknya. Perlu diketahui bahwa terdapat dua jenis koefisien gesek yaitu koefisien gesek statis dan kinetis. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa koefisien gesek statis selalu lebih besar dari koefisien gesek kinetis. Jadi, benda tidak akan bergerak selama gaya yang diberikan tidak lebih besar dari hasil perkalian koefisien gesek statis dan gaya normalnya. Pada selang tersebut gaya gesek terus meningkat. Namun, gaya gesek ini akan  menurun saat benda telah bergerak. Hail ini disebabkan gaya yang diberikan telah melampaui batas minimal gaya yang harus diberikan dan pada saat itu yang berlaku adalah koefisien gesek kinetis yang nilainya lebih kecil dari koefisien gesek statis.

Bercermin dari hal itu kita perlu menyadari untuk meyakini bahwa kita harus segera memberikan gaya minimal tersebut pada aktivitas kita karena yakinlah setelah itu pekerjaan kita akan terasa lebih ringan dan mudah. Sesungguhnya bersama kesulitan terdapat kemudahan.

 

 

 

Tentang Tingkat Akhir

Masih jelas teringat saat ayah menemani saya sekitar April 2006 datang ke asrama putra TPB IPB. Agendanya cuma satu : survei tempat. Sekitar bulan Juli pada tahun yang sama saya pun resmi menjadi mahasiswa IPB angkatan 43 setelah pengumuman UAN menyatakan saya lulus dan berhasil memperoleh satu di antara enam siswa SMA 81 yang lulus Undangan Seleksi Masuk IPB. Mulai saat itu berubahlah status orang yang menuntut ilmu dari predikat siswa menjadi mahasiswa. Masa Perkenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) Angkasa 43 jadi menu pertama kami mengenal kampus ini

Namun cerita itu sudah hampir empat tahun yang lalu. Sekarang mahasiswa itu sudah berada di tingkat akhir. Disebut tingkat akhir karena selain memang sudah ada di tahun ke empat dari empat tahun yang diprogramkan kampus juga karena tidak ada mahasiswa yang lazimnya menjawab dengan tingkat 5 atau 6 saat ditanyakan sudah berada pada tingkat berapa. Dengan kata lain tingkat akhir ini bisa menjadi masa yang panjang karena tingkat empat atau tingkat enam juga sama-sama disebut tingkat akhir.

Di sisi lain tingkat akhir juga tidak jarang identik dengan penurunan skala aktivitas. Faktor terbesarnya jelas karena pada tingkat akhir sudah tidak ada kuliah lagi, kecuali kalau ada yang mengulang pada mata kuliah tertentu atau belum selesai beberapa sks saja. Namun, ada faktor lain yang sebenarnya cukup berpengaruh pada penurunan skala aktivitas ini, yaitu paradigma tentang tingkat akhir itu sendiri. Sebagian besar mahasiswa menurut yang saya pernah tanya menyatakan bahwa pada tingkat satu adalah masa adaptasi. Pada masa ini kita masih berupaya mencari tahu dan mengenal kampus dan segala hiruk pikuknya. Barulah pada tingkat kedua dan ketiga mereka memilih untuk aktif dengan kegiatan kemahasiswaan. Biasanya pada tingkat ketiga menjadi puncak aktivitas, karena sudah cukup senior dan belum disibukkan dengan aktivitas penelitian atau skripsi. Nah, pada tingkat akhir mahasiswa tersebut kembali berkutat dengan akademik dengan penelitian dan penyusunan skripsi. Sehingga jika digambarkan dengan kurva akan berbentuk grafik seperti Gambar 1.

Tidak ada yang salah dari pola yang seperti itu. Karena toh banyak mereka yang berhasil menjadi orang sukses dengan cara yang seperti itu. Namun, ada cara lain yang dapat kita pilih untuk mengakhiri masa kuliah di kampus. Jika pada pola sebelumnya tingkat tiga menjadi puncak aktivitas, maka mengapa tidak kita buat tingkat empat yang menjadi puncak aktivitas kita di kampus seperti yang ada pada Gambar 2. Pada gambar tersebut terlihat kecenderungan yang terus meningkat. Hal ini tentu akan terasa berbeda dibandingkan pola yang umum seperti Gambar 1. Ada banyak mahasiswa yang telah membuktikan hal ini sebut saja Gema, Danang, Galih, Cahyo, Bowo, Asyaukani, Elang, dan mahasiswa lainnya. Mereka berhasil mengakhiri masa mereka di kampus dengan cara yang berbeda pada bidangnya masing-masing dan patut untuk dikenang serta diteladani.

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana cara untuk membuat hal itu terjadi. Cara termudah untuk mewujudkannya adalah meniru. Karena dengan cara ini kita tidak perlu banyak mengeluarkan energi untuk berbuat kesalahan. Pada tingkat akhir ini ada banyak sekali peluang, seperti wirausaha, beasiswa S2 di dalam atau luar negeri, program rekrutmen dini dari berbagai perusahaan multinasional, lomba-lomba nasional di berbagai universitas atau PIMNAS, lomba-lomba dan konferensi di berbagai negara, program pertukaran pelajar, menjadi aktivis di berbagai organisasi, mengajar, bekerja sambilan atau pemberdayaan masyarakat yang juga tidak kalah menantang. Yang menjadi masalah selama ini adalah seperti yang disampaikan di awal yaitu, paradigma. Selama kita berpikir bahwa tingkat akhir adalah masa yang harus dihabiskan dengan satu kegiatan saja, maka peluang yang lain akan tertutup. Namun, jika kita memilih untuk membuka diri dan keluar dari batas yang mungkin kita miliki saat ini maka yakinlah bahwa Allah sesuai dengan prasangka hambaNya.

Namun, yang perlu diingat adalah kita tidak perlu menjadi siapa pun kecuali diri kita sendiri. Artinya apapun pilihan yang kita pilih maka yakinkan diri kita bahwa itu adalah pilihan terbaik yang kita pilih sehingga kita optimal dalam berkontribusi. Kedua, kita berada di kampus ini juga berkat bantuan petani, buruh, nelayan dan masyarakat lain yang ikut membayar pajak untuk pendidikan kita. Oleh karena itu kita harus mengoptimalkan kesempatan yang mahal yang akan segera berakhir ini dengan prestasi terbaik kita. Karena mengoptimalkan potensi yang kita miliki juga bagian dari bentuk syukur kita kepada Allah dan berterima kasih pada siapapun orang yang telah membantu kita. Ketiga, saling mengingatkan satu sama lain, karena banyak kasus mahasiswa yang tidak kunjung lulus karena sudah tidak ada semangatnya lagi. Teman-temannya sudah terlebih dahulu lulus dan tidak ada lagi mahasiswa yang peduli dan mengingatkannya untuk menyelesaikan penelitiannya. Terakhir, tawakal kepada Allah atas segala yang telah kita perbuat. Wallahu ‘alam

Bahaya di Kostan

Bagi mahasiswa yang berkuliah tidak pada kota tempat ia berasal, kostan menjadi tempat yang ideal untuk tinggal selama menimba ilmu di bangku kuliahan. Di tempat inilah mahasiswa menyambung kehidupannya selain di kampus; makan, tidur, mandi, mencuci merupakan kegiatan yang menjadi keseharian di kostan. Khusus bagi mahasiswa IPB kostan umumnya baru dinikmati pada tingkat II karena selama tingkat I semua mahasiswa wajib tinggal di asrama. Begitu mereka naik ke tingkat II maka lebih dari 3000 penghuni baru siap menyerbu daerah lingkar kampus untuk melanjutkan kehidupan.

Berbeda dengan mahasiswa umumnya, begitu lulus dari TPB aku lebih memilih untuk masuk pesantren Al Inayah. Selama setahun di sana kami memperoleh berbagai macam pembinaan khususnya di bidang ke-Islam-an. Menjelang tahun ke 2 di Al Inayah, aku pindah ke hunian baru bernama Asrama PPSDMS Nuru Fikri Regional 5. Kami yang memperoleh beasiswa PPSDMS wajib tinggal di sana. Di tempat baru ini aku mendapat jauh lebih banyak lagi pembinaan dan serangkaian aktivitas tambahan di luar kampus. Selama 2 tahun kami dibina untuk menjadi calon pemimpin yang bertauhid kepada Allah dengan sikap yang moderat terhadap umat. Aku bersyukur karena baik di Al Inayah dan asrama PPSDMS aku mendapat “penjagaan” yang luar biasa untuk tetap beraktivitas dengan baik. Penjagaan itu berasal dari lingkungan yang terbentuk karena sistem yang ada maupun karena keberadaan rekan-rekan di sekelilingku telah membuatku mampu mengerjakan banyak hal.

Memasuki tingkat akhir ini, aku baru mengeyam yang kita bahas di awal; tinggal di kostan. Perubahan amat signifikan begitu terasa. Berbeda dengan tempat tinggal sebelumnya, saat ini aku dan rekan-rekan harus membangun sistem sendiri dan berusah konsisten menjalankannya. Tidak mudah. Terlebih lagi saat ini kami umumnya sudah berada pada tingkat akhir dengan aktivitasnya masing-masing dan pemikiran yang jauh berbeda dari tingkat awal.

Dengan tinggal di kostan selama beberapa bulan terakhir, aku menyadari mengapa ada teman-teman yang sulit berkembang, tertinggal informasi, minim pergaulan dan lain sebagainya.  Kostan sebagai tempat hidup kedua selain di kampus menjanjikan kenyamanan. Kenyaman untuk tinggal, lebih-lebih lagi berdiam diri. Begitu nyamannya sehingga kita enggan keluar dari dalamnya. Begitu nyamannya sehingga dinding-dinding itu perlahan memenjarakan. Mungkin terdengar berlebihan tapi aku telah menemukan buktinya. Salah satu teman sekamarku di asrama TPB dulu kabarnya telah keluar dari IPB. Saat tingkat II aku dengar dia banyak menghabiskan waktunya di kostan dengan bermain PS dan sering bolos kuliah. Tertinggal 1 pertemuan mungkin tidak masalah, tetapi jika sudah tertinggal beberapa kuliah amat sulit untuk mengejarnya hingga akhirnya tertinggal. Itu mungkin yang membuatnya memutuskan keluar dari IPB.

Bahaya berada di kostan akan semakin meningkat seiring dengan semakin tuanya mahasiswa di kampus. Hal itu disebabkan semakin lama tinggal di kampus maka aktivitas mahasiswa biasanya cenderung menurun sehingga banyak waktu yang dihabiskan di kostan. Jika hal itu terjadi maka proses pemenjaraan baik secara fisik dan pikiran akan segera terjadi. Secara fisik, mahasiswa akan berpotensi untuk lebih sering sakit karena minimnya aktivitas di kostan.Belum lagi kalau sistem kebersihan di kostan tidak baik maka potensi timbulnya penyakit akan semakin besar. Secara pemikiran dinding-dinding kostan akan memenjarakan kita dari interaksi sosial baik di kampus maupun masyarakat. Kita boleh berdalih dengan adanya akses internet dengan modem yang kita miliki, tapi manusia perlu berinteraksi dengan manusia bukan layar monitor. Bahaya pemikiran ini akan menjadi semakin nyata saat ternyata apa yang ada di layar monitor tak seperti kenyataan di dunia sebenarnya. Kita akan mengalami pergeseran persepsi yang dapat menyebabkan gejala-gejala seperti sensitif, mudah tersinggung, dan lain-lain. Secara fisik gejala ini timbul dengan sakit kepala atau pusing-pusing. Berada terlalu lama di kostan menjadi amat merugikan.

Solusinya bagi yang tinggal di kostan adalah membangun sistem yang mendukung aktivitas kita di kampus. Sistem ini menyangkut kebersihan, informasi, dan kekeluargaan. Sistem kebersihan bertanggung jawab atas terjaminnya kebersihan kostan agar penghuninya sehat. Sistem informasi berfungsi sebagai sarana tukar informasi agar tidak kuper, bisa berupa sharing info seminar, kabar teman-teman dll. Sistem kekeluargaan memungkinkan penghuni untuk saling berinteraksi baik ngobrol, bercanda, olaharaga dll. Solusi kedua adalah pastikan kita selalu keluar dari kostan setiap hari. Hal ini penting untuk menjaga keseimbangan hidup kita dan upaya untuk tetap produktif.  Dengan kedua cara tersebut semoga kita dapat tinggal di kostan dengan nyaman dan tetap sukses di kampus.