Undercover Boss: What I learnt from it

undercover boss

Recently, I often watched the Undercover Boss USA TV series on TV shows or via youtube. This show performs every single CEO for a full week to go undercover and find out what is really happening in their own company in daily basis. Through the mission the boss mostly found an eye opening experience even a new paradigm of thinking, belief, and value. At first, I watched the show just for fun and entertain myself, but then I found a really meaningful insight through this show. In this post I will share to you at least three things what I learnt from undercover boss which are happiness always comes when you share, good boss or bad boss always matters, listen first – understand second – do third – and then make people understand your point of view.

While doing the mission undercover the CEO has to play several role in whole week. Some of them act as a customer service, chef in the kitchen of restaurant, or a truck driver. Through this, the CEO started to understand the stories of their employees, what makes them happy or sad, what are important for them in life, what are their dreams, what thing makes them still there in their company and many more. Not one or two of the CEO who can not finish through the end of mission because they can’t stand to face the fact that there are so many thing they already missed and make the employees struggling in their job and live. They break out their undercover and tell their employee that he or she is the boss of the company. Some of them even crying when they speak the truth to their employee. However, if the mission is going well, at the end of the show the CEO will meet again with the employee who train them in the whole week and tell them everything. After that the CEO will give feedback and try to overcome the problem of the employee in their working place even personal life. Some of them gave more than $50.000 in cash, paid the┬ámortgage of the employee’s house, started a fundraising activity to help the member of the family who are sick and urgently need help and so on. All the employee were happy to have it and some of them even don’t believe that the good things like that is happening in their life. At this point I see happiness even in the eye and smile of the boss. They get happiness through giving and enjoying it. One of the boss build a crisis fund for the employees and starts the foundation with 2 million dollars! They does not feel sad even spending million dollars out of their pockets. In fact, they are happy because of it. Maybe some of us think that that’s stupid even crazy to make decision like that. However the CEOs are proving to us that happiness can not only comes when we get something but it always come when we give something and makes other people happy.

In the show, I also see differences between good leader and bad leader. In one of the show, the CEO fired a managers of restaurant directly because the attitude of the manager to the employee. His attitude brings bad ambient to the whole team. The team member were sad and didn’t have any hope to thrive. But on the shows, there’s a manager of fast food restaurant that always trust his team, encourage the staff to grow, motivate them to give the best service to the customer. As the result, the CEO give him a brand new restaurant to lead and manage in his own name. This contrast brings me to a new belief that leaders no matter they’re good or bad are influencing the performance of the whole team. In some show the CEO found some problem in their facility that interfere the performance of their staff but it is a small thing because he can directly can have a phone call to buy a brand new facility or fix it right away. But to have a good staff is much worthy than those million facilities. Because of it, some other CEO take a step a head to maintain their best talent in their company by giving scholarship, coaching, transferring them to headquarter to have cross experience sharing and many more.

The last thing I learnt from this show is listen first – understand second – do third – and then make people understand your point of view. Many bosses have an eye opening experience because they can listen then understand first. They hold their ego and try to put themselves like an empty glass which ready to be fulfilled with a bunch of new knowledge and experience. After they understand the situation they do something to fix the problem and finally share their point of view about the problem. I think this approach works well and beneficial for every leader. Through this, the CEO not only see the staff as a statistical number or their performance as a graph of sales achievement. Through this they go beyond and realize that every single decision they make behind their desk literally affecting hundred even thousands of their employees and their families Now, I have a commitment to my self. I should go for my master, enhance my career and finally I should be a good leader. I should be a good leader who are taking care of all of my staff, give them opportunity to grow, respect their aspiration and do walk the talk. I believe that leaders are really affecting everybody lives, so that we should do something to make sure that the leaders in this whole world are a good man. How to do it? Yeah, You and I should be a good leader that what we dream of.

Advertisements

Ali Imran : 160

JIKA ALLAH MENOLONGMU,
MAKA TIDAK ADA YANG DAPAT MENGALAHKANMU,
TAPI JIKA ALLAH MEMBIARKANMU (TIDAK MEMBERI PERTOLONGAN),
MAKA SIAPA YANG DAPAT MENOLONGMU SETELAH ITU? KARENA ITU?,
HENDAKLAH KEPADA ALLAH SAJA ORANG-ORANG MUKMIN BERTAWAKAL”
(QS. ALI IMRAN : 160)

Mengejar Busway

Bagi anak-anak Busway Jakarta, berdesakan dan berjubel di dalam bus transjakarta bukanlah lagi hal yang asing. Berdiri 2-3 jam di ruang sempit juga menjadi hal yang makin lumrah. Namun, posting ini tidak akan membahas mengenai hal itu. Ini adalah salah satu momen perjalananku dari kantor.

Saat itu sudah menunjukkan pukul 17.30 saat saya transit dari shelter Matraman 2 menuju shelter Matraman 1. Aku berada di atas jembatan penyeberangan saat sebuah busway gandeng dari arah pulogadung menuju kampung melayu melaju di bawah jembatan penyeberangan. Spontan aku berlari menuju shelter Matraman 1. Namun, sayangnya laju busway jauh lebih cepat dari langkah kaki ku yang terus berlari mengejar. Sesampainya aku di belokan terakhir pada jembatan penyeberangan itu, busway sudah berhenti sekitar 2-4 detik di shelter itu. Sepertinya sudah mustahil aku dapat masuk ke dalam busway itu.

Namun, aku tidak menyurutkan langkah. Justru aku berlari semakin cepat. Semakin cepat aku berlari nampaknya semakin tipis kesempatanku untuk dapat naik ke dalam busway. Sampai akhirnya salah seorang petugas busway yang berada di dalam shelter melihatku yang sedang berlari penuh semangat mengejar busway itu. Ia memberi isyarat kepada petugas busway yang sedang berjaga di pintu busway untuk menungguku. Aku tersenyum sambil terus berlari. Aku sampaikan terima kasih pada petugas busway yang menolongku itu lalu segera masuk dan duduk di dalam busway.

Hampir sama dengan fenomena tersebut, kita sering mendapati peluang yang sangat tipis untuk kita menangkan saat kita bersungguh-sungguh mengejarnya. Banyak dari mereka yang mengejar peluang tersebut berhenti di tengah jalan dan tentunya menemui kegagalan. Sementara sebagian yang lain terus berjuang penuh optimisme dan berharap akan kemenangan. Yang menarik adalah saat kita terus mengejar peluang untuk gagal memang terbuka lebar tetapi tetap ada peluang untuk menang. Saat kita berhenti mengejar sejatinya kita menutup peluang kita untuk menang begitu saja. Namun, saat kita terus berjuang kita masih berpeluang untuk menang. Beruntungnya kita bukanlah orang yang tinggal dalam ruang hampa. Ada orang-orang yang hidup di sekitar kita dan menilai sejauh mana usaha kita. Boleh jadi dari merekalah peluang kita justru semakin terbuka lebar dan menjadi kunci sukses kita. Hanya saja peluang itu kemungkinan besar dapat terbuka jika kita terus berusaha pantang menyerah. Hingga pada akhirnya kesuksesan menjadi hak kita.

Begitu sampai di dalam busway, aku baru sadar bahwa busway tersebut ternyata bukan busway yang sesuai jalurnya. Itu adalah busway koridor 11 rute Kampung Melayu – Pulo Gebang yang baru saja mengisi gas di Pulo Gadung. Alhasil busway itu kosong melompong, hanya beberapa penumpang saja di dalamnya. Terlebih lagi koridor 11 adalahh koridor terbaru sehingga seluruh armada yang beroperasi masih baru dan seluruh fasilitas berfungsi optimal. Beruntungnya sore itu, terbayar sudah sprint yang aku lakukan di atas jembatan penyeberangan ­čÖé

8 Orang Buta

Seperti pekan-pekan sebelumnya aku menghabiskan akhir pekanku di Bogor. Bermalam di asrama PPSDMS dan berpagi hari di kota Bogor lalu beranjak ke stasiun selepas pukul 08.00 WIB. Pagi itu belum menunjukkan pukul 10.00 tapi keretaku sudah sampai di stasiun duren kalibata. Aku bergegas keluar dan mencari kopaja 57 jurusan kampung rambutan.

Sejurus kemudian aku sudah di muka pintu kopaja. Sebelum aku naik melalui pintu depan aku melihat beberapa orang lelaki perempuan yang memakai tongkat saling berpegang pundak sambil berbaris. Aku berdiri di dekat pintu sementara orang-orang tadi berdiri di belakang. Sekilas saat aku tengok ke belakang aku dapati mereka adalah tuna netra.

Sesampainya di pertigaan Hex, aku turun. Seperti biasa kopaja berhenti sekenanya di tengah jalan (benar-benar di tengah jalan). Entah kenapa sopir tidak merelakan satu menit saja untuk menepi. Aku turun melalui pintu depan saat aku dengar keributan di pintu belakang. Ternyata delapan orang buta tadi sedang berbaris kembali dan perlahan turun. Aku kembali ke kopaja dan ku genggam tangan Bapak yang berdiri paling depan. Lima orang dibelakangnya memegang pundak kawan di depannya. Kami melintas jalan menentang kendaraan yang hendak berlalu.

Begitu aku sampai di tepi jalan, ternyata masih ada dua orang buta yang belum menyebrang. Sialnya si kondektur tidak membantu mereka menyeberang. Sebuah sepeda motor melaju begitu cepat sambil membunyikan klakson. Untung saja motor itu bisa menghindari dua orang itu. Mungkin pengendara motor itu tidak sadar jika yang menyeberang itu adalah orang buta yang tidak dapat melihat kehadiran motor itu. Itu pulalah yang mungkin membuat pengendara motor itu membunyikan klakson keras-keras. Aku kembali menyeberang dan membawa mereka ke tepi.

Begitu dua orang itu bergabung dengan enam orang lainnya, salah seorang ibu di kelompok enam orang itu berbicara cerewet sekali tetapi bersyukur dua orang itu selamat. Lalu, aku tanya Bapak yang berdiri paling depan,”Mau kemana, Pak?” Dia menyebutkan alamat yang aku duga bisa ditempuh dengan naik KR. Aku tawari Bapak itu naik KR yang sudah ngetem di sisi jalan. Namun, Bapak itu menolah naik. Ia ingin naik CH saja karena akan lebih memudahkan dia ke alamat tujuan. Saat itu pula ibu-ibu penjual kaki lima mendekat dan bergabung dengan kami. Setelah menungggu beberapa saat angkot yang ditunggu tak kunjung datang lalu aku titipkan delapan orang itu kepada ibu penjual kaki lima tersebut.

Aku melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah. Selama dalam perjalanan itu aku merenungi peristiwa yang baru saja aku alami. Aku melihat keberanian luar biasa dari 8 orang buta itu. Walau tidak pernah melihat jalan-jalan ibukota tetapi dia memiliki keberanian yang luar biasa untuk menjelajah dan bepergian dengan segala resikonya. Segala sesuatu bisa terjadi di jalan ibukota yang tak ramah terlebih lagi jika kita tidak bisa melihat. Namun, mereka tidak berdiam diri dengan kekurangannya dan bergerak maju mengambil resiko.

Aku memikirkan bahwa kita sebagai yang diberikan nikmat penglihatan seharusnya lebih dapat maju. Tidak takut mengambil resiko dan mencoba hal-hal baru yang dapat mempertajam diri. Mari maju muda! Kita adalah generasi yang dinantikan! Link

Kawan Lama

Sore kemarin menjadi momen yang begitu luar biasa ketika saya membuka facebook. Ada box yang saya buka yaitu people you may know. Yang tampil dalam box itu sebagian besar adalah kawan-kawan lamaku saat SMA. Di luar dugaan ternyata mereka telah banyak berubah dan berkembang. Setidaknya dengan melihat info yang ada di profil mereka aku menerka bahwa mereka bukan lagi sosok sederhana yang aku kenal dulu. Sebagian dari mereka sudah ada yang berkiprah di Perth, London, Malaysia, Berlin, dan penjuru dunia lainnya.

Buatku bukan dimana mereka berada dan beraktivitas hari ini, tetapi aku melihat betapa mereka telah melakukan sebuat loncatan raksasa (giant leap). Dulu mungkin mereka adalag sosok yang sibuk di lapangan futsal, di depan cermin, atau di kantin sekolah. Namun, kini mereka sudah fasih berbicara bahasa asing, membuat deal dengan orang-orang asing, dan karya mereka juga luar biasa.

Ada bahagia yang terselip karena menyaksikan mereka dengan aktivitasnya masing-masing berarti aku menyaksikan masa depan negeri ini di tangan orang-orang yang tepat -kaum terpelajar. Namun, juga melecut diriku untuk tidak puas dengan pencapaian yang telah aku raih hari ini dan untuk terus memperbaiki diri. Aku sadar betul bahwa yang harus kita kejar bukanlah kepergian kita ke berbagai penjuru negeri karena itu hanya alat bukan tujuan. Yang perlu kita kejar adalah amal yang prioritas yang boleh jadi sederhana namun bermakna.

Semangat terus kawan-kawan! Hari ini aku telah mencium harum aroma kejayaan negeri ini yang semakin dekat dan semakin nyata.

Menjadi Kerdil

Tahukah kamu mengapa pohon teh perlu dipangkas dalam suatu periode tertentu? Menurut yang pernah saya pelajari, salah satu tujuannya adalah memperbanyak cabang sehingga akan menghasilkan lebih banyak daun teh nantinya. Kemudian tahukah kamu mengapa bonsai mesti dikerdilkan? Salah satunya adalah untuk mempermudah proses pembentukkannya sehingga menghasilkan bonsai yang indah dan cantik. Begitu pula dengan elang yang harus mematahkan paruhnya yang tua dan mencabut bulu yang sudah usang untuk menumbuhkan paruh dan bulu baru yang lebih kuat untuk dapat bertahan hidup.

Dalam setahun terakhir, saya semakin banyak mengalami peristiwa-peristiwa seperti ini. Berada di lingkungan baru dengan tantangan yang berbeda, bertemu dengan orang-orang yang sederhana dengan ketinggian ilmu dan pengalamannya, atau berbincang dengan orang-orang pragmatis yang membukakan mata bahwa matahari tak selalu cerah karena terkadang mendung datang menghalang. Peristiwa-peristiwa seperti itu telah membawaku ke dalam gua seperti halnya elang tadi untuk mematahkan paruh dan mencabut bulu atau memperbanyak rantingku dengan harapan kelak daun-daun baru akan segera tumbuh.

Terkadang kita sudah merasa cukup karena berada dalam tempurung si katak, tanpa pernah tahu bahwa dunia begitu dinamis di luar sana. Menjadi ikan yang besar di dalam akuarium yang sempit sungguh tidak menantang dan cenderung mematikan bukan menumbuhkan. Menemui orang-orang seperti yang saya utarakan tadi tak jarang menyakitkan dan menohok ulu hati karena tanpa sadar mungkin telah banyak potensi yang kita miliki tak berguna sama sekali. Tak jarang juga saya merasa aneh sendiri ketika berbincang dengan mereka yang pragmatis. Mungkin seperti Gie saat bertemu dengan kawannya yang sudah perlente di dewan. Pada saat itulah aku semakin sadar bahwa puja puji hanya milik Allah SWT yang Maha Suci dan Agung. Pada saat itulah kita menjadi kerdil.

Apa sebabnya kita menjadi kerdil?

Menurut saya penyebab pertama adalah waktu dan percepatan. Kita semua dalam durasi waktu yang sama dalam sehari tapi yang berbeda adalah pekerjaan apa yang kita kerjakan dalam durasi waktu tersebut. Ikan yang hidup dalam kolam yang terlalu sempit akan cenderung malas bergerak dan bekerja. Namun, ikan yang hidup di samudra cenderung lincah dan terbang ke atas permukaan sebelum kembali menderu di bawah ombak. Ada orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang bermakna dan penting dalam kehidupannya bahkan untuk kehidupan orang-orang di sekitarnya. Namun, ada pula orang-orang yang terjebak dalam kehidupannya sendiri tanpa bisa keluar tumbuh dan menghasilkan buahp-buah yang manis. Pekerjaan yang dilakukannya hanya pekerjaan biasa yang mungkin tak punya makna sehingga tidak ada ruh yang menggerakkan. Sementara sebagian yang lain sadar betul akan apa yang ia cari dan selalu gelisah dengan apa yang dilakukannya sehingga tiap waktu yang berlalu adalah amal yang penuh dengan makna dan keikhlasan bukan pencapaian kosong tanpa tujuan. Pada akhirnya orang-orang yang kerdil ini menyadari bahwa apa yang dilakukannya selama ini mungkin salah arah dan mereka melihat bahwa orang lain telah berbuat sesuatu yang lebih bermakna dengan lebih intensif dan sungguh-sungguh.

Penyebab kedua seseorang menjadi kerdil adalah salah menempatkan hal yang penting dan prioritas dalam hidupnya. Dalam berbagai episode kehidupan, kita akan sampai pada dialog-dialog yang tak terelakkan. Sebagai contoh adalah dialog dengan sahabat yang sudah lama tidak ditemui. Pada dialog tersebut banyak perbandingan-perbandingan yang kita perbincangkan. Pada momen itulah boleh jadi kita akan merasa bahwa apa yang kita kerjakan belum apa-apa dibandingkan dengan yang ia kerjakan atau sebaliknya. Jika kita merasa terintimidasi atau terpojokkan boleh jadi pada saat itu kita telah salah menempatkan apa yang lebih bermakna dari yang lain. Sebagai contoh, saat materi yang kita jadikan ukuran maka boleh jadi kita dapat dengan mudah merasa kurang atau belum apa-apa. Jika itu yang terjadi maka boleh jadi kita telah salah menempatkan prioritas. Saya tidak mengatakan bahwa materi bukan ukuran yang tidak tepat untuk diperbandingkan, ukurannya bisa apa saja dan kita pun bisa merasa terintimidasi atas apa saja.

Saya pernah mengalami hal seperti itu, contohnya adalah saat saya bertemu dan mengenal the Zeitgeister. Salah seorang dari mereka ternyata pernah menghabiskan waktu selama setahun untuk menjadi imam di salah satu mesjid di Sumbawa. Yang lainnya pernah menghabiskan perjalanan sepanjang 800 km keliling Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk menekuni impiannya, yaitu menjadi pastur. Aulia yang pernah aku tuliskan cerpennya, ternyata bersedia berbakti pada kedua orang tuanya yang tuna netra yang belakangan baru aku ketahui bahwa mereka bukan orang tua kandungnya. Pertemuanku dengan mereka sungguh membuat diriku kerdil dan menyadari bahwa mungkin belum banyak suatu hal yang berharga yang telah ku kerjakan.

Namun, menjadi kerdil ini ada baiknya seperti halnya pohon teh tadi karena kelak kita akan menumbuhkan lebih banyak daun. Asalkan kita tersadar dan bergerak menuju apa yang kita anggap berharga baik untuk diri kita sendiri maupun orang-orang di sekitar kita. Maka kelak saat bertemu dengan orang-orang lain yang telah lama tidak kita temui atau orang-orang baru dengan kisahnya masing-masing kita tidak akan terlalu terintimidasi atau merasa terpojokkan atas kisah mereka karena kita tahu apa yang berharga dan apa yang kita cari. Itulah mengapa Suster Apung rela berletih jiwa raga untuk menolong orang-orang pulau, mengapa Umar Bakrie dan guru-guru kita menghabiskan hidupnya untuk mengajari kita membaca dan menulis, mengapa petani tetap menanam padi walau terik dan untuk yang tak seberapa, mengapa Grameen Bank mampu sukses dan bertahan, mengapa Bunda Teresa rela mengobati orang-orang kusta, mengapa Rasulullah bersedia menyuapi yahudi buta yang selalu menghinanya. Karena mereka semua memiliki keberlimpahan hati yang tak akan kurang dimakan waktu atau diperbandingkan dengan segala macam ukuran.

Kita yang kerdil ini pun bisa menjadi besar, berdaun lebat dan berbuah manis jika memiliki hati yang luas dan berlimpah yang tidak akan menjadi sempit dengan masalah-masalah sederhana. Karena aliran tulus dari hati kita mampu menawarkan sebanyak apapun garam yang masuk. Hati yang tenang adalah hati yang selalu mengingat Allah.

You don’t have to feel like a waste of space
You’re original, cannot be replaced
If you only knew what the future holds
After a hurricane comes a rainbow

Maybe you’re reason why all the doors are closed
So you could open one that leads you to the perfect road

Like a lightning bolt, your heart will blow
And when it’s time, you’ll know

Find a New Box

Dear Bloggers, udah lama nih gak ngepost lagi karena banyak disibukkan berbagai kegiatan di Jakarta. Pada posting kali ini randi mau memperkenalkan kategori baru  dalam blog ini yang saya beri tajuk  FIND A NEW BOX.

Masih inget gak dengan cerita seekor kutu yang hidup dalam kotak korek api. Pada suatu hari terdapat seekor kutu yang mampu meloncat dengan sangat tinggi. Kemudian kutu itu ditangkap dan dipelihara di dalam sebuah kotak korek api. Setelah sekian lama tinggal di dalam kotak korek api akhirnya kutu tersebut dilepaskan. Namun di luar dugaan ternyata kutu tadi tidak mampu loncat setinggi sebelumnya, ia hanya mampu loncat setinggi tebal kotak korek api tersebut. Begitu halnya dengan ikan yang hidup di dalam aquarium. Saat masih kecil dan baru berkembang dari telurnya tentu aquarium menjadi sebuah wahana yang begitu luas dan besar. Namun, saat ikan tersebut sudah tumbuh besar maka aquarium itu sudah seperti penjara yang membatasi karena mentok ke sana ke mari. Saat itu terjadi, maka ikan tersebut membutuhkan kolam yang lebih besar untuk hidup dan berkembang.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita hidup dalam berbagai kotak yang berbeda dan boleh jadi tanpa disadari rutinitas yang kita jalani telah membatasi kemampuan kita untuk meloncat.Nah pada kategori yang baru ini, randi akan bercerita tentang berbagai pengalaman yang membuat diriku dan orang-orang di sekitarku menemukan kotak baru yang lebih besar dan luas sehingga membuka gembok dan belenggu yang membatasi pikiran dan hati. Semoga dengan kehadiran kategori baru ini dapat menambah khasanah blog ini dan bermanfaat bagi pembaca sekalian.