Dalam 24 Tahun Kebersamaan Kami

“aku terlahir ketika perang Pasifik tengah berkecamuk”

Begitulah kira2 Soe Hok Gie mengawali buku hariannya. Setidaknya itu yang masih teringat di kepalaku kini setelah membaca catatan harian seorang demonstran saat masih SMA dahulu. Posting ini bukan bermaksud menduplikasi apa yang telah dilakukannya tapi lebih sebagai refleksi diri akan setiap langkah yang telah aku lalui bersama keluargaku. Yang aku yakini bahwa setiap keberhasilan selalu berawal dari keluarga dan keluarga khususnya ayah dan ibuku yang menjadi tokoh paling berjasa dalam hidupku. Sebagai permulaan terlebih dahulu aku bersyukur pada Allah atas dua malaikat yang telah Allah kirim untukku yang menemani tiap tangis dan demamku, membimbing dengan sabar pada tiap keluh dan amarahku, dan memelukku erat saat malam-malam gelap yang begitu pekat. Terima kasih ayah dan bunda…

Ibu datang merantau ke Jakarta hanya berbekal ijazah SMIP Pacitan. Sesampainya di Jakarta, tempat tanpa sanak saudara, ia bekerja di sebuah pabrik sebagai seorang supervisor yang tak punya kecakapan yang mumpuni. Namun, perjuangannya dimulai jauh sebelum itu. Ibu adalah sosok yang haus akan pendidikan di lingkungan yang memandang pendidikan adalah barang mahal dan tak tentu arahnya. Maklum saja, Pacitan adalah daerah berkelok-bergunung di Jawa Timur yang hingga kini saja masih berantakan jalannya. Bisa dibayangkan betapa sulitnya ke sana 50 tahun yang lalu. Mbahku tak mengizinkannya sekolah tapi ia sudah bulat akan pilihannya. Ia bersekolah sendiri biar sesekali dimarahi ibunya sendiri. Selulus SD ia tak berhenti ia teruskan hingga SMP dan SMIP di Kota Pacitan. Saat bersekolah di SMIP ia menumpang di rumah alm Pak Bandoyo, seorang yang nantinya menjadi penghubung antara ayah dan ibu saat mereka menikah.

Selesai dari SMIP ia merantau ke Jakarta. Tujuan cuma satu: Kuliah. Ketiadaan biaya membuatnya harus bekerja untuk membiayai hidupnya. Bekerjalah ia di sebuah pabrik dengan jabatan supervisor yang telah aku sebut tadi. Setiap istirahat tiba ia selalu menangis karena tak kunjung bisa berkuliah tapi bara semangatnya tak pernah padam untuk berkuliah. Suatu saat ia berkenalan dengan teman satu pabriknya yang punya kenalan untuk mendaftar di PGSMTP sebuah program satu tahun untuk mengajar sebagai guru. Singkat cerita ia lolos dan dapat menuntut ilmu di sana dengan beasiswa dari salah seorang kenalan di Departemen Agama. Rencana kuliahnya pun berlanjut, IKIP Muhammadiyah. Tapi niat itu tertunda karena ia bertemu dengan pria yang kemudian disebut sebagai suaminya setelah mereka menikah 24 tahun yang lalu. Ayah berjanji saat itu untuk membiayai kuliah mamah sampai selesai. Padahal mereka sama-sama tahu bahwa itu bukan perkara yang mudah saja.

Lain ibu, ayah memulai perjuangannya di tengah kota Semarang. Jika kau ingin tahu ia adalah penarik air kampung Slamet, di daerah Mataram. Tak heran setiap aku pulang kampung ke rumah Mbah Semarang ayah selalu disapa ramah oleh tukang becak, tukang air dorong, tukang kaki lima dan lain. Mereka memang sudah kawan lama. Jika luang ayah menemani Mbah Kakung untuk narik angkot. Alm Mbahku adalah supir angkot. Ia lebih beruntung dari Ibu karena bisa bersekolah lebih leluasa dan kesempatan itu tak pernah disiakannya. Ia berusaha keras sehingga menjadi salah satu yang terbaik di kelasnya. Selepas lulus SMA ia mendaftar ke Telkom dan TNI AU dan nasib membawanya ke Jakarta sebagai seorang tentara untuk menemui pasangannya hingga surga (Insya Allah).

Mereka pun akhirya menikah 24 tahun lalu dalam kondisi yang amat terbatas atau lebih tepatnya pas-pasan. “Kamu tahu nak? Dulu ayah menikah saat penghasilan ayah cuma 80ribu sebulan” jelas ayah padaku. “Dulu kami cuma makan nasi pake sambal dan tahu nak” cerita Ibu padaku. Aku bukan tidak tahu, aku pun sempat merasakan masa-masa pahit itu. Dahulu kami tinggal di Tanjung Priok, lebih tepatnya di Warakas. Terkadang aku main ke atas kapal sambil disuapi Ibu. Saat air pasang rumah kami pasti kebanjiran. Jika sudah banjir maka got yang hitam akan luber sampai ke dalam rumah dan tugasku cuma satu ikut bantu membersihkan halaman rumah. Terkadang saat aku terbangun dari tidur aku berada ditengah genangan air yang menggenangi ruangan yang berantakan. Suatu hari aku pernah tercebur ke dalam got yang penuh kotoran itu rupanya hitam sekali saat aku bermain jual-julan koran. Tangisku tak keruan. Ibu memandikanku kemudian. Tak perlu aku jelaskan lebih lanjut tapi yang jelas sanitasi di sana buruk sekali. Sampai-sampai tangan kiriku pernah korengan yang membuatku tak bisa menggenggam dengan tangan kiri. Rumah itu kini telah tiada berubah menjadi jalan tol yang berdiri setelah penggusuran. Namun, rumah itu yang menjadi saksi bahagianya kedua malaikatku yang bahagia melihat putranya bisa berdiri dan berjalan bahkan terus berlari.

Sudah agak besar aku masih ingat bahwa aku sering menjemput ayah yang pulang dari kantornya. Aku juga terkadang menemani ayah menukar beras jatah TNI dengan beras yang lebih sedikit jumlahnya tapi lebih pulen. Mengingat gajinya yang tidak seberapa, ayah menjaga bioskop sepulang kantor. Saat ibuku kuliah, ia cuma berbekal 500 rupiah. 400 rupiah untuk ongkos 100 rupiah ditabung. Suatu hari ibu nemu uang 100 rupiah di bus kota, ia senang sekali karena bisa membeli air minum dengan uang itu, maklum saja ia tak pernah jajan selama kuliah. Sepulang kuliah Ibuku mengajar di sebuah SMP. Suatu hari saat hamil besar ia terjatuh karena keletihan. Ibuku juga masih fasih menceritakan bagaimana paniknya ayah membawa ibu masuk ke rumah sakit Gatot Subroto untuk melahirkanku ke dunia.

Saat aku menjelang berusia 4 tahun, kami pindah ke Halim. Aku masih ingat saat ayah mengecat rumah ini untuk pertama kalinya. Tanganku masih korengan hari itu. Kehidupan kami berangsur membaik hari-hari itu. Saat itu belum ada mal di dekat rumah. Setiap bulan aku dan ayah menggowes sepeda untuk berbelanja di toko Cina. Momen itu masih jelas teringat di memoriku. Oiya, suatu hari saat masih di Priok, ayah pernah menyuapiku bubur ayam di pinggir rel kereta sambil melihat anak-anak lain yang main layang-layangan. Saat kereta melintas kami menyingkir dari rel untuk sesaat. Momen itu masih jelas sekali dan begitu indah.

Tahun 1995 ibuku lulus sebagai Sarjana Pendidikan IKIP Muhammadiyah. Hari itu aku izin dari sekolah untuk datang ke wisuda Ibu. Aku diantar tanteku menuju lokasi wisuda. Tapi kami tak pernah sampai ke wisuda itu, langkah kami tertahan di Kampung Rambutan karena bus tak kunjung datang hingga hari siang. Rumah ini pun juga berubah sesaat demi sesaat. Aku bisa bersekolah di tempat yang baik dan kompetitif. Saat aku sakit kedua malaikatku sungguh panik karena aku jarang sekali sakit. Tak pernah habis kasih sayang mereka. Ayah suka mengajak aku shalat malam saat aku masih mengantuk di tengah malam.

Sungguh banyak rizki yang telah Allah beri kepada kami. Sebuah motor, TV, komputer dan kasur yang nyaman bersama kehangatan keluarga berlimpah di rumahku. “Sekarang kau bisa bercerita soal Amerika nak” lirih ucap Ibu padaku. Thanks Mom ^^ I love you so much. Kita telah hadapi banyak hal bersama pahit getir ini. Mengingat semua memori itu, tak perlu ada ragu dan takut dalam hati yang menghampiri tuk hadapai hari depan. Yang mesti kita takuti adalah sebuah pertanyaan: adakah kita sudah bersyukur atas segala anugerah dan keselamatan yang telah Allah beri kepada kami? “Ampuni kami ya Rabb, atas segala kelalaian kami dari mengingat-Mu atas kekhilafan kami untuk bersyukur atas segala nikmat dari-Mu. Pada 24 tahun kebersamaan kami, aku mohonkan doa Ya Rabb, kasihilah kedua orangku sebagaimana mereka mengasihi aku sewaktu aku kecil.

Terima kasih Ibu dan Ayah atas segala yang telah kau beri padaku. Kini kau berikan jalan bagiku untuk menapaki hidupku sendiri. Iringilah terus aku dalam doa-doa malam kalian dan semoga Allah terus mengasihi dan memberkahi kita semua ๐Ÿ™‚

Advertisements

Hold on your Values

Setiap manusia punya nilai-nilai yang ia pegang dalam hidup. Nilai-nilai itu hadir dari ajaran agama, keluarga, adat dan lain-lain. Menjaga nilai tidaklah mudah dan seringkali kita dihadapkan pada situasi yang menguji diri kita untuk mempertahankan nilai-nilai tersebut. Berikut ini adalah salah satu momen semasa kuliah yang menceritakan tidak mudahnya menjaga nilai. Kisah ini adalah tentang menjaga kejujuran.

Seperti yang sudah diketahui khalayak di IPB bahwa menjadi anak TIN tidaklah mudah; banyak tugas, banyak praktikum, dan banyak laporan. Sialnya ketiga hal tersebut tidak jarang masih ngikut saat momen ujian. Jadilah kami hektic dan harus membuat prioritas. Hari itu kami diwajibkan mengikuti dua ujian akhir semester (UAS). Aku tidak ingat betul apa saja ujian hari itu, tetapi salah satunya adalah manajemen limbah atau apa gitu gak yakin juga sih. Pagi harinya kalo gak salah kita harus mengumpulkan tugas juga. Aku sendiri tidak belajar ujian yang kedua yang berlangsung siang hari. Entah temen-temen yang lain bagaimana. Persiapan yang ku lakukan cuma baca soal-soal tahun yang ku harap bakal sama persis dengan soal tahun ini. Idealnya kami harus membaca diktat dan slide2 yang diberikan dosen. Tapi hal itu terlalu ideal agaknya hari itu.

Memasuki ruang ujian gelagat yang tidak enak sudah terjadi. Kami ujian di ruang PAU dekat LSI. Temen2 sudah berdiri berbaris di depan pintu sebelum pengawas mempersilakan masuk. Begitu soal sudah disiapkan di setiap kursi di ruangan itu dan pintu dibuka, bocah-bocah langsung nyeruduk ke dalam. Tujuan cuma satu nyari kursi yang ‘enak’ (maaf kalo salah, tak ada niat meremehkan bagi temen2 yang punya niat yang lain). Tapi faktanya kursi bagian belakang yang riweuh direbutin dan mereka mengatur siapa duduk dimana dengan siapa agar lebih mudah bekerja sama. Aku memimpin doa ujian lalu ujian dimulai. Situasi 10 menit pertama masih tenteram lalu semakin gaduh perlahan-lahan. Hal itu tidak lain karena soal yang dikeluarkan dosen hari itu berbeda sama sekali dengan yang dikeluarkan tahun lalu. Buatku sendiri soal-soal itu susah banget. ๐Ÿ˜ฆ rasanya udah pengen nyerah aja. Namun pemenang lahir dari kesulitan-kesuliatan. Salah satunya mungkin dari yang satu ini. Aku terus mengerjakan soal-soal itu sejauh yang aku bisa.

Situasi semakin tidak menyenangkan saat memasuki tengah2 waktu ujian. Suara di kursi bagian belakang semakin gaduh, samar-samar terdengar suara mereka berkoordinasi untuk mengerjakan soal-soal yang sulit banget itu. Nah sekarang bayangin, kamu ngerjain soal yang susah banget sendirian dengan jujur di tengah gaduhnya ruangan yang penuh dengan orang yang ngerjain soal itu secara bersama-sama. Parahnya lagi pengawas ujian seperti tidak dihiraukan peserta ujian lain. Mereka semakin terang-terangan bekerja sama. Entah energi apa yang mendorongku tapi aku lantas beranjak dari kursiku. Aku berdiri tegap sambil meilhat ke arah kursi-kursi belakang. Seketika itu juga aku teriakkan, “KALO MAU NGOBROL MENDING DI LUAR AJA!!!” sambil mengacungkan jariku kuat-kuat ke arah pintu. Tak ada kompromi. Ruangan itu langsung berubah senyap. Semua mata lari ke wajahku. Mungkin mereka bertanya dalam hati “kerasukan setan apa nih orang?” Namun aku puas bisa berkata benar sesuai apa yang aku yakini. Aku kembali duduk lalu mengerjakan soal-soal. Tak ada lagi suara ribut untuk beberapa waktu. Begitu waktu ujian hendak berakhir kembali suara gaduh itu hadir tapi tak seperti yang awal tadi. Aku sibuk dengan beberapa soal terakhir lalu aku kumpulkan.

Entah nilai ujian ku berapa hari itu, yang jelas aku lulus untuk mata kuliah tersebut, yang pasti nilaiku tidak C, pasti antara A atau B. Hari itu mungkin tidak sedikit yang tidak suka dengan ulahku, tapi
begitu aku keluar ruang ujian dalam hati aku berkata : AKU MENANG!

Kisah anak-anak Al Quds 81

Sore hari itu aku di rumah ketika dering bunyi telepon terdengar. Aku angkat gagang telepon, lalu terdengar salam dari ujung telepon. Suara ramah pelan dari seorang laki-laki yang mencari diriku. Tak lama suara di ujung telepon mengenalkan diri dan aku tahu benar siapa dia. Beliau adalah salah satu alumni SMA 81 yang kami kenal dekat melalui berbagai kegiatan Rohis 81. Singkat cerita beliau ingin aku hadir di Pangkalan Jati, pukul 08.00 WIB tanpa ada seorang teman pun yang tahu rencana tersebut. Hal lebih lanjut akan diberitahu kemudian pada pertemuan tersebut.

Jadilah beberapa hari berlalu kemudian penuh dengan tanda tanya dan penasaran di antara kami anak2 Al Quds 81. Selepas dhuha atau shalat ashar ingin rasanya bertanya siapa saja yang mendapat panggilan yang sama. Beberapa ada yang tak tahan memegang amanat untuk tidak saling bertanya dan mencari tahu siapa saja yang diundang. Aku mendengar lamat-lamat mereka berdiskusi. Aku sendiri tak bergeming, tak ada satu pesan pun yang bocor.

Hari Sabtu pun tiba dan angkot 22 merah mengantarkanku tepat waktu di Pangkalan Jati: 08.00 WIB. Kakak itu sedang berdiri di samping sepedanya. Tanpa babibu, beliau langsung memberiku secarik kertas dan beberapa lembar uang. Secarik kertas itu tidak lain adalah peta dan petunjuk menuju tempat berikutnya. Adrenalin meningkat, apakah ini? I AM ON A SECRET MISSION. Aku ikuti peta dan petunjuk itu. Tidak begitu sulit untuk menemukan tempat berikutnya: Masjid Al Iman di daerah Cipinang. Dengan penuh tanya dan bingung tentang apa yang akan terjadi berikutnya aku ditemani bayanganku sendiri ke muka halaman masjid itu. Tak disangka di sana sudah ada TB dan Ganesha, dua sohib ku yang senyam senyum mesem2 berdua. Tak lama kemudian bocah-bocah Al Quds lainnya datang. Ohh ternyata mereka yang diundang. Memang tak semua, katanya seih yang datang hari itu yang udah rada militan (huohoohoo). Setelah shalat dhuha kami mendengarkan ceramah dan berdiskusi singkat tentang apa tepatnya saya lupa tapi tidak jauh berkisar tentang dakwah sekolah, kira-kira begitu. Setelah itu kami mendiskusikan tentang Pesantren Ramadhan yang kami ditunjuk menjadi panitianya. Ini adalah foto di Masjid Al Iman hari itu

Pesantren Ramadhan

Ada cerita yang buatku tak akan pernah terlupakan. Hari itu kegiatan Pesantren Ramadhan telah memasuki hari kedua. Kami semua menginap di Wisma Haji Ciloto, sebuah tempat yang menurutku cukup mewah dan nyaman untuk kami, anak SMA biasa. Seperti malam sebelumnya kami sahur di ruang makan bersama dengan sistem prasmanan. Masing-masing dari kami sibuk dengan makanan kami sendiri. Namun, diam-diam dalam hati ada sesuatu yang mengganjal. Buat diriku hal yang mengganjal itu sebenarnya sederhana saja; kok Sugi (salah satu teman kami) tak ada di ruang makan? Selesai dengan sahurku aku langsung beranjak ke ruang panitia. Aku bersama salah seorang temanku yang lain (lupa siapa) saat mengetuk pintu kamar panitia. Begitu masuk ruang tidur itu kami berdua langsung bertanya kepada Sugi yang ternyata ada di dalam kamar, “Gi, udah sahur belom?” “Udah” jawab Sugi. Herannya Sugi dan beberapa teman yang lain langsung tertawa seru sekali. Sugi berkata lagi “Eh Ran, lo itu orang ketiga yang masuk kamar ini dengan pertanyaan yang sama” Jadi sebelum aku masuk, teman-teman yang lain telah masuk terlebih dulu dan menanyakan hal sama pada Sugi. Tanpa pernah berkomunikasi terlebih dulu, kami punya ‘click’ yang sama soal Sugi. Tanpa berpikir panjang kami langsung menutup pintu itu kembali dan berharap orang berikutnya akan bertanya hal yang sama. Tak lama pintu diketuk. Salah satu teman kami masuk, wajahnya rada bingung melihat kami yang udah mesam-mesem aja, tawa pun pecah karena kami tak tahan menahannya sedari tadi. Sayangnya ia tidak bertanya soal Sugi yang udah makan atau belom? Kalau nanya yang sama pasti udah dapat piring cantik. Hehehe ๐Ÿ™‚ Momen itu menjadi tidak bisa terlupakan karena persaudaraan yang sudah begitu kental terasa di antara kami.

Malam-malam I’tikaf 2005

Selepas buka bersama Rohis di Kalimalang kami melanjutkan rencana kami untuk I’tikaf di masjid Istiqlal. Praja yang jadi komandannya malam itu karena dia yang paling ahli jalan sekitar monas. Berbekal 10 kotak makanan dari gedung dekat rumahnya Mega kalo gak salah kami menuju Istiqlal. Dengan penuh semangat kami pun akhirnya sampai di Istiqlal. Namun, sebelum kami sempat masuk ke dalam 10 kotak nasi kami sudah tinggal separuhnya saja. Tidak. Kami tidak begitu lapar sehingga harus makan 5 kotak itu. Namun, kami melihat beberapa pengemis yang lapar di depan Istiqlal. Terlalu tega rasanya jika tak ada kotak yang kami tinggalkan untuk mereka. Jadilah kami bersepuluh membawa 5 kotak saja dengan rencana satu kotak buat makan berdua. Esoknya kami sahur di depam Katedral. Aku masih ingat TB yang nyesel ikut2an menu sahur Budi yang di beli di depan Istiqlal itu karena terlalu mahal heheh ๐Ÿ˜› Selepas subuh kami foto-foto sejenak sebelum akhirnya kami pulang. Seperti malam sebelumnya Praja yang memimpin rombongan. Kami menyusur jalan-jalan protokol sekitar Istiqlal, kalo gak salah sempet lewat gedung Setneg dan beberapa gedung penting lainnya. Gedung-gedung itu sih biasa aja, yang istimewa adalah kami semua berpakaian muslim; ada yang gamis, baju koko, selempang sarung dll di tengah pemberitaan hari-hari itu tentang terorisme membuat kami cukup menarik perhatian Polisi Militer atau pihak keamanan gedung-gedung itu.

Malam i’tikaf lainnya kami habiskan di mesjid dekat Rumah Tommy atau Pringga. Kalo udah sore biasanya kami main bola. Yang paling seru bukan main bolanya, tapi usaha untuk ngambil bola yang masung ke dalam got/gorong-gorong yang tertutup semen. Pastinya bikin kotor dan bau. Hehe ๐Ÿ™‚

Saling berbagi

Kisah lain yang tak mungkin terlupa adalah momen-momen berbagi di antara kami. Suatu hari kami lihat tas Wahyu sudah sobek dan sebaiknya diganti. Diam-diam kami kumpulkan uang. Malam harinya ditemani tanteku, aku pergi ke mall Pondok Gede setelah sebelumnya aku SMS Wahyu. “Lo suka warna apa yu?” tanyaku. “Biru” jawabnya sedikit ragu. Esok harinya hadiah itu sudah terbungkus rapi saat kami berikan selepas shalat Ashar di Al Quds. Wahyu Gembira ๐Ÿ˜€ Lain lagi saat kami diam-diam lihat ukuran sepatu Sugi saat dia shalat dhuha. Sepatunya memang sudah harus diganti sehingga kami belikan yang baru. Esok harinya saat break jam 9 kami berikan hadiah itu. Penuh haru saat itu.

Ini adalah beberapa penggalan cerita saja dari beratus giga memori tentang persaudaraan kami. Banyak yang penuh dengan tawa saat saling bercanda. Tangis haru saat kami berbagi seperti cerita tadi atau juga nyeri saat kami berperang air dan lari gendong-gendongan. Kini lebih dari 6 tahun dari masa-masa terbaik itu aku ingin berterima kasih atas semua pengalaman itu. Sungguh kalian telah tidak hanya memberi warna, tapi lebih dari itu: membentuk diri ini. Semoga persaudaraan kita abadi sampai ke Jannah dan bertemu Illahi Rabbi. Aamiin ๐Ÿ™‚

Membaca #1

Pada posting ini saya akan menceritakan bagaimana kedua orang tua saya mempengaruhi dan membentuk kebiasaan membaca pada anak sulungnya ini. Silakan menikmati.

Di malam ini aku tak dapat memejamkan mata
Terasa berat bagai diri terikat mimpi, oh…
Kuingin satu, satu cerita, mengantarku tidur, biar ‘ku terlelap
Mimpikan hal yang indah, lelah hati tertutupi

Ayahku adalah seorang tentara berpangkat sersan dua-jabatan terendah pada jenjang bintara- ketika aku masih berada di sekolah dasar. Ayah mempunyai kebiasaan sederhana yang berdampak luar biasa pada kebiasaan membacaku, yaitu membacakan dongeng sebelum tidur. Setiap hari ayah membaca koran di kantornya. Entah koran apa yang ia baca, tapi yang jelas setiap malam sebelum tidur ia punya cerita yang menarik untuk aku dengarkan hingga kelopak mata ini memisahkan kesadaranku dengan kamar tidurku. Terkadang ia bercerita tentang kisah Si Kancil, Roro Jonggrang, Joko Tingkir, dan berbagai kisah lainnya. Sesekali ia juga memberikan ramalan tentang kisah sinetron Si Doel Anak Sekolahan epsisode berikutnya. Namun, terkadang ia tidak datang ke kamar dengan cerita baru. Alhasil cerita-cerita lama kembali diceritakan hingga aku hafal tiap kata-kata yang meluncur dari lidahnya. Cerita-cerita itulah yang akhirnya memicuku untuk membaca kisah-kisah berikutnya di koran, novel, buku cerita dan media lainnya.

Lain lagi pengaruh ibuku pada kebiasaan membacaku. Ibu adalah seorang guru SMA yang mengajarkan Bahasa Indonesia pada murid-muridnya. Ibu mempunyai akses yang cukup banyak terhadap buku. Dari tangan beliaulah aku mulai berubah menjadi kutu buku tidak lama setelah aku bisa merangkai alfabet menjadi kata-kata yang bisa aku ucapkan. Saat aku berada di akhir kelas 1 SD aku sudah berkutat dengan sebuah buku beratus halaman yang berkisah tentang heroisme Jenderal Soedirman. Habis dengan buku itu, aku membaca sebuah buku yang membuat gairahku untuk menimba ilmu semakin membara. Buku itu berjudul Membelah Rahasia Langit. Di luar dugaan ibuku, ternyata buku ini sungguh menginspirasi anaknya. Do you know why? Sebenarnya buku ini berkisah tentang sistem tata surya dan benda langit lainnya. Buku ini membawaku ke alam entah di mana yang begitu mengasyikkan dan membuat kecanduan. Pada usiaku yang ketujuh aku sudah akrab dengan istilah gravitasi, umur matahari, asteroid, meteor, Sabuk Kuiper dll. Alhasil ibuku menjadi khawatir karena anaknya menceracau tentang hal-hal yang tak lazim dibahas anak seusianya. Buku itu akhirnya disembunyikan. Aku kecewa, sampai akhirnya aku menemukan buku itu kembali.

Lepas dari pengalaman itu, aku semakin kecanduan dengan buku. Setiap hari kusisihkan uang jajanku dan menahan haus saat tukang es tung-tung lewat di depan rumah. Setelah terkumpul sejumlah Rp 2.800,- aku pergi ke Gunung Agung untuk membeli buku kisah para Nabi. Aku punya seri lengkap dari Nabi Adam as hingga Nabi Muhammad Saw seri 2. Aku juga mulai akrab dengan makhluk yang bernama perpustakaan. Walau kecil, perpustakaan SD telah membuka mataku bahwa ada suatu tempat yang layak disebut gudang ilmu. Saat menginjak kelas 5 SD aku mengenal seorang novelis senior Inggris yang bernama Enid Blyton melalui karya-karyanya. Lima Sekawan dan Sapta Siaga adalah novel kesukaanku sejak kecil. Aku mempunyai seri Lima Sekawan yang hampir komplet di lemariku. Saat anak-anak lain membelanjakan uang lebarannya untuk membeli Video Game atau baju baru, aku meminta tanteku untuk menemaniku ke Gramedia Matraman. Hari itu aku membeli seri Lima Sekawan empat judul sekaligus. Kemudian semasa kelas 6 SD aku mulai akrab dengan komik Detektif Conan. Ceritanya yang menarik membuatku mengoleksinya hingga nomor 50an. Belakangan ini aku masih membacanya saat melawat ke Gramedia Matraman.

Sewaktu SMP, aku menemukan perpustakaan yang jauh lebih besar. Aku menjadi salah satu penunggu bangunan itu setiap hari. Hasilnya aku diberi hadiah kotak pensil oleh Ibu pustakawan karena aku telah menghabiskan lebih dari empat lembar kartu perpustakaan dan menjadi salah satu dari dua siswa yang paling sering meminjam buku. Masih teringat jelas dalam ingatanku saat banjir besar menerpa Jakarta, orang-orang sibuk melihat air menggenang dari dalam angkot sementara aku hilang masuk ke dalam kisah di dalam buku saat duduk di kursi tambahan di pintu angkot.

Bertahun-tahun setelah hari-hari itu berlalu. Aku tetap mesra dengan buku dan kebiasaan itu juga memperkenalkan aku dengan dunia tulis menulis yang telah membawaku melalang buana ke pelosok negeri dan melawat negeri Paman Sam. Demikianlah ceritaku malam ini. Berangkat dari dongeng sebelum tidur dan buku tentang Soedirman kini aku bersyurkur atas kebiasaan kedua orang tuaku sehingga aku bisa seperti saat ini hari ini.

Nemenin Diah Ujian

Dua hari ini aku menemani Diah ke sebuah tempat yang penuh sejarah bagiku dan kuharap juga kelak baginya, SMP Negeri 49 Jakarta. Penuh sejarah karena di tempat inilah kulit kuningcerahku berubah menjadi coklat terpapar sinar matahari di lapangan, di atas pentas, di perkemahan Cibubur dan di jalan2 Jakarta.

Dua hari ini kami habiskan bersama dengan membaca buku, mengerjakan soal, mengendarai motor, mengerjakan soal ujian, dan menunggu bel pulang berdering. Perjuangan adiku masuk ke SMP ini kini jauh lebih berat dari diriku. Dahulu dengan NEM 44,95 aku sudah bisa duduk manis di kursi kelas 1-2. Namun, kini sekolah yang berlabel Rintisan Sekolah Berstandar Internasional ini mengharuskan setiap calon peserta didiknya menjalani serangkaian ujian Ujian tersebut meliputi seleksi berkas,ย  tes potensi akademik (matematika, IPA, Bahasa Indonesia, Pengetahuan Umum), tes lisan bahasa Inggris, dan tes komputer. Tidak berhenti sampai di situ saja, nilai UN juga akan dipertimbangkan sebesar 40%. Jadilah ujian ini menjadi banyak dan panjang. Satu hal yang aku sampaikan pada Diah, “Kau akan duduk di salah satu kursi di sekolah ini”.

Untuk 210 kursi

Tahun ini sekolah ini tidak membuka kelas reguler. Semua kelas adalah kelas RSBI. Full AC and bilingual for some subject. Pendaftar yang terverifikasi terdapat lebih dari 650 orang dengan jumlah kursi 210 saja. What a tough competition! The question is why there are so many applicants who want to get a chair in this school?

Jawabannya mungkin klise. Sekolah ini memang salah satu sekolah menengah pertama yang sejak berpuluh tahun mampu membuktikan diri sebagai sekolah unggulan di Jakarta. Tahun ini SMP 49 menjadi salah satu dari sekitar 6 SMP di Jakarta yang telah menerapkan konsep pendidikan RSBI. Terlepas dari urusan RSBI itu, aku tetap dapat katakan sekolah ini unggulan. Di sinilah aku mulai belajar mengangkat tangan untuk bertanya setelah guru menjelaskan, maju ke muka untuk menjelaskan, dan memberanikan diri untuk berpresentasi. Di luar bidang akademik, sekolah ini justru terlihat semakin menonjol. Pramuka menjadi ekstrakurikuler yang paling favorit sejak dulu karena tak sedikit siswanya yang ikut jambore nasional juga jambore dunia. Inilah ekskul yang aku ikuti dulu dan ekskul inilah yang bertanggung jawab atas perubahan warna kulitku. Pada masa itu, bumi perkemahan cibubur sudah seperti halaman belakang rumah kami. Tak terhitung sudah perkemahan yang kami ikuti. Pramuka jugalah yang membuat diriku bertemu Ibu Mega (kalau SD dulu ketemu Pak Harto dan Pak Habibie, SMA SBY donk, tapi belum pernah ketemu alm Gus Dur ). Selain Pramuka masih ada beragam ekskul lainnya yang tak kalah kerennya. Jadilah siswa 49 terdidik di alam kelas dan matang di luar kelas sehingga banyak peminatnya.

Sewaktu Diah ujian, aku menghabiskan waktuku dengan nostalgia (hehehe), ngerjain buku TOEFL, dan ngobrol dengan orang tua murid lainnya. Mereka pasti mengkira aku mengantar anak (hehehe) dan aku selalu bilang kalau aku mengantar adik (diikuti raut wajah mereka yang sedang garuk kepala tak percaya). Hasil obrolanku dengan banyak ayah dari murid2 lain membuktikan betapa setiap orang tua tidak peduli apa dan berapa biaya yang mesti dikorbankan demi pendidikan anaknya yang baik (thanks to my MOM and DAD). Sewaktu anak2nya ujian setiap ibu dan ayah yang duduk di luar ruang ujian tak henti merapal doa demi keberhasilan anaknya. Pada hari pertama saat shalat ashar banyak orang tua yang shalat di awal waktu dan berlama-lama berdoa. Keesokannya kupikir tak banyak yang akan shalat dhuha, tetapi aku salah. Beberapa orang pria dan wanita silih berganti bersujud di mushola yang tak pernah berubah hingga kini. Pak Pur dan Pak Syaiful (guruku) juga terlihat menunaikan shalat Dhuha.

Aku habiskan lebih dari 30 menit ngobrol bersama Pak Pur. Membawa lembar2 memori itu datang kembali. Masih jelas teringat di benakku ketika banjir besar Jakarta melanda. Pertigaan HEX banjir besar. Tak ada mobil yang berani melintas. Angkot dan kendaraan pribadi berbalik arah semua pagi itu, kecuali satu kendaraan : TRUK SAYUR PASAR INDUK. Jadilah aku turun dari angkot dan memanjat ke atas truk. Setelah banjir itu terlewati kami turun dekat Komseko, masuk ke kampung tengah dan menyebrang ke gang Melati. Di sanalah kami tersenyum dengan sepatu basah, baju lepek, saat memandangi papan tulis di sebelah Pak Syaiful yang bertuliskan kapur putih : SEKOLAH LIBUR.

Akhirnya bel berbunyi. Aku antar Diah pulang dengan cerita2 yang semoga mampu kelak dia ukir sendiri. Tak henti ku rapal doa, “Semoga Allah mengizinkan dirimu bersekolah di sini Adikku sayang”. Ignition ON> Starter ON> Gear 01> kereta melaju.

 

freewriting#1

teringat jelas dalam benakku

langit biru tanpa awan

jaket tipis bem yang menepis dingin pagi hari

saat sejurus udara menyusup rapat pori-pori ketika pintu dorm ku buka. Randi, selamat datang di hari pertama mu berkuliah di Ohio University. Peta di tangan. rumput hijau embun di ujung-ujung.

ada gairah yang timbul untuk menekuni tiap baris buku. ada kenikmatan yang muncul saat leher pegal menyelesaikan tugas. ada mimpi yang sedang kujalani, im walking my dream

squirrel perlahan menengok lalu pergi membawa makanannya, langit masih hening tak bersuara, lalu jam raksasa itu berdentang. kita adalah orang yang muda yang jadi harapan para tua di sana.

namun kini awan telah kembali datang menutup langit di atas ku. tak ada lagi udara dingin yang menyusup 2 derajat di pagi hari. tak ada lagi squirrel yang mengendap-endap. langit pun sudah gemuruh, dan kita tetap orang muda yang diharap-harap

tinggal memori yang tersisa, tapi tiap kali aku melihatnya dalam baris-baris warna, kembali ada yang tersembul dalam dada, tetap ada rasa tak terima, bahwa kita masih belum bisa berbuat banyak yang berarti

mari aku lihat kembali sekali lagi, biar bara menyala lagi, biar mimpi itu ku lanjutkan kembali, ada semangat yang tersembul, ayo Randi, ada tapak dan jejak berikutnya yang menunggu. ada wajah2 yang perlu senyum orang muda.

mari kita lihat ke langit dan singkirkan awan dengan tangan di atas keyboard bukan dahi bersandal bantal. karena hari-hari esok adalah untuk orang muda

Bukan Wartawan Amplop

Bukan rahasia umum jika saat ini kegiatan gayus menggayus tidak saja terjadi pada sektor ekonomi dan hukum tetapi juga pada media massa. Bahkan hal ini sudah terjadi sejak berpuluh tahun lalu. Salah seorang orang tua kawanku pernah bicara tentang ini. Ia pernah disangka wartawan amplop saat meliput di suatu daerah. Hal itu masih menjadi sekedar menjadi omongan dan cerita bagiku hingga akhirnya aku mengalaminya sendiri.

Peristiwa ini terjadi pada saat aku berada di tingkat 2 saat masih berkuliah. Saat teman-temanku sibuk ikut kuliah semester pendek aku menyibukkan diri menjadi reporter sebuah majalah pertanian berskala nasional. Saat itu usiaku masih 20 tahun. Aku bisa bekerja di sana berkat rekomendasi seniorku di Koran Kampus yang merekomendasikan 3 orang di antara pengurus lainnya. Dua orang reporter dan satu fotografer.

Selama dua bulan kami ditugaskan untuk mengisi berbagai liputan di majalah itu, mulai dari kuliner, berita pasar, produk baru, hingga ke liputan utama. Kami berkeliling Bogor-Jakarta. Pasar Induk Cipinang dan Kramat Jati, Balai Kehutanan, Faperta IPB, hingga menjumpai tokoh pertanian dan LSM yang peduli akan produksi dalam negeri. Sepanjang liputan kami tidak pernah ada masalah hingga akhirnya kami masuk pada liputan utama yang kala itu mengangkat tema kampanye penggunaan produk dalam negeri.

Terdapat dua narasumber utama yang kami hubungi untuk membuat tulisan itu. Kami berangkat ke Jakarta, tepatnya Menara Bidakara. Di sana kami menemui salah satu tokoh pengayom petani. Kira-kira satu jam sebelum wawancara dimulai kami sudah berada di sana. Aku dan partnerku, Palestina Santana naik ke lantai tempat kantor narasumber itu berada. Sesampainya di lantai tersebut Pales mengonfirmasi keberadaan narasumber. Nampaknya dia begitu sibuk sehingga kami perlu menunggu lebih lama. Sembari kami menunggu orang-orang ย di ruang tunggu banyak berbicara satu sama lain. Terkadang sekuriti masuk dan berbicara dengan resepsionis. Salah satu potongan percakapan mereka yang kuingat adalah sekuriti memberi tahu bahwa beberapa mobil keluar kantor dan mereka menyebut nama sebuah partai baru yang saat itu santer beriklan di TV. Hal itu menimbulkan tanya pada diriku. Aku datang ke pengurus pengayom petani atau ke kantor partai politik.

Tak lama kemudian kami dipersilakan masuk ke dalam ruangan narasumber. Kami mulai keluarkan rekorder dan daftar pertanyaan yang sudah kami buat. Percakapan begitu hangat dan seru. Narasumber mulai membahas reforma agraria, mengkritik pemerintahan dan menyinggung buku yang baru saja ditulisnya. Dia juga sempat menyindir beberapa tokoh yang menurutnya berbuat salah. Percakapan itu cukup membuat kita bersemangat sebagai mahasiswa. Setelah lebih dari satu jam kami berbincang, narasumber itu memberikan kepada kami masing-masing satu buah buku yang baru ditulisnya. Kami pun mohon diri. Sebelum kami sampai ke depan pintu, orang itu memanggil kami dan membuka dompetnya. Terlihat jelas olehku beberapa lembar berwarna merah di dompetnya. Ia mengambilnya beberapa dan memberikan kepadaku. “Ini mas buat ongkos.” ucapnya. Tak kusangka peristiwa itu pun terjadi padaku. Dengan sopan aku menjawab, “tidak usah Pak. Kami sudah mendapat uang transport dari kantor”. Ia berusaha meyakinkan kami untuk mengambil uang tersebut, tetapi kami satu kata: Tidak. Akhirnya kami keluar dari ruangan itu dengan pengalaman baru. Just to say : NO.

Sepulang dari lokasi tersebut kami melanjutkan perjalanan ke ย lokasi berikutnya. Hari sudah siang saat itu. Kami menuju daerah Cililitan untuk mewawancarai sebuah LSM yang peduli akan produk dalam negeri. Kami masuk ke sebuag gedung yang serupa seperti sekolah atau universitas swasta. Mereka menjamu kami dalam sebuah ruang sekretariat yang pada salah satu sisinya dipasangi spanduk besar LSM tersebut. Mereka banyak berbicara ini dan itu dan begitu idealis. Menurut mereka diperlukan gerakan masyarakat untuk terus menggunakan produksi dalam negeri. Hal ini akan menimbulkan tarikan pasar yang dapat mendorong industri di tanah air. Ruang itu menjadi semakin hangat ketika beberapa orang pengurus lainnya memasuki ruangan tersebut. Mereka masing-masing mengutarakan pendapatnya.

Menjelang sore hari kami undur diri. Setelah berfoto bersama kami keluar dari ruangan itu. Seorang, di antara mereka mengantar kami hingga depan pintu gedung. Dia menyalami kami satu per satu. Tak kusangka saat ia hendak menyalamiku ia mengambil sebuah amplop dari saku kemejanya dan menjabat tanganku beserta amplop tersebut. Dia melepasnya. Jadilah amplop itu berpindah ke tanganku. Aku menolaknya. Ke kembalikan amplop itu padanya tetapi ia juga menolak untuk menerimanya kembali. Dia kemudian berniat menambah sejumlah uang dari dompetnya, mungkin dia berpikir bahwa kami menolak karena amplopnya kurang tebal. Aku yakinkan padanya bahwa kami menolak bukan karena itu, tapi karena kami tidak mau melanggar kode etik. Dia tetap menolak. Akhirnya ku ambil amplop itu lalu keberanikan diri untuk memasukkan amplop tersebut kembali ke saku kemejanya. Jadilah ia diam tak berkutik. ย Lalu kami bergegas pergi.

Sambil mencari warung makan, kami bertiga membahas pengalaman kami hari itu. Rasanya masih panas benar tangan ku menolak amplop tersebut. Kami tidak menduga bahwa LSM yang terdengar begitu idealis bisa melakukan hal yang sama dengan politisi dan pelaku birokrasi lain yang selama ini terkenal kotor. Kami akhirnya pulang dengan sebuah cerita baru yang pasti takkan kami lupakan. Menjaga idealisme adalah tantangan bukan sekedar teori atau retorika.