Sepenggal jalan; sepotong anak tangga; pintu masjid

Pembaca tentu akrab dengan istilah deja vu. Déjà vu(/ˈdeɪʒɑː ˈvuː/ adalah sebuah frasa Perancis dan artinya secara harafiah adalah “pernah lihat / pernah merasa”. Maksudnya mengalami sesuatu pengalaman yang dirasakan pernah dialami sebelumnya. Fenomena ini juga disebut dengan istilah paramnesia dari bahasa Yunani para (παρα) yang artinya ialah “sejajar” dan mnimi (μνήμη) “ingatan”. Menurut para pakar, setidaknya 70% penduduk bumi pernah mengalami fenomena ini.

Mirip dengan peristiwa itu ada setidaknya tiga tempat yang membuat saya seperti kembali ke Athens, Ohio. Ketiga tempat itu adalah sepenggal jalan di Halim yang melalui lapangan sepak bola dekat pangkalan udara, anak-anak tangga darurat di kantor dan pintu mesjid kantor pusat BSM tiap menjelang sholat Jumat.

Sepenggal jalan yang melalui lapangan sepak bola dan dekat dengan pangkalan udara yang sering aku lewati menuju rumah selalu mengingatkanku dengan jalan-jalan dari ALden Library menuju Dougan House. Dingin yang menyusup jaket, kondisi yang gelap dan lengang sungguh sempurna miripnya dengan jalan-jalan itu. Tak ada suara terdengar kecuali telapak kaki sendiri dan degup jantung yang berdetak dengan irama pasti.

Lain lagi halnya jika saya turun ke lantai 1 atau basement kantor menggunakan tangga darurat. Loron dan anak-anak tangga serta aroma yang benar-benar membawaku kembali ke Dougan House. Setiap pagi di Dougan House aku selalu menolak menggunakan lift dan turun ke lantai 1 menggunakan tangga darurat. Kedua tangga darurat itu persis sama, kaku, tegas, lurus, dan pasti.

Tempat terakhir yang membuat aku kembali ke Athens adalah pintu mesjid kator pusat BSM tiap menjelang shalat Jumat. Aroma semerbak di depan pintu itu langsung membawaku kembali ke Athens Islamic Center. Entah aroma apa itu. Namun, yang pasti aku pertama kali merekam aroma itu di dalam otak ini saat berada di Athens Islamic Center dan begitu menemukan kembali aroma yang sama ingatan ini langsung menuju kepada pintu yang berderit, dinding kayu, sejuk dan damainya Athens Islamic Center. Tak lupa sebuah pohon yang berdaun ungu. What a beautiful spring! 🙂

Pasti pembaca juga punya pengalamannya masing-masing mengenai deja vu ini. Will u share to me? 🙂

Advertisements

Eksistensi Cina di Ohio University

JARUM PANJANG pada arlojiku sedang bergerak mantap menatap angka 12 sedang saudaranya sudah berhenti di angka 1. Tepat 12:55 aku sampai di CTCL building untuk masuk kelas Core yang mengajarkan grammar, writing, dan reading. Jarak yang cukup jauh antara kelas ini dengan dining hall membuatku dan dua rekan Indonesiaku cukup terengah-engah ketika kami duduk mantap di kursi kami masing-masing. Sekilas ku lepaskan pandang. Tak ada yang sawo matang kecuali diriku. Semua putih dan kuning. Anna Wolf, dosen kami tersenyum ramah dengan mata lebarnya, sedangkan 10 mahasiswanya memandang kami dengan segaris mata mereka. Sejenak aku bertanya pada diriku sendiri, “Did I come to the wrong class? Because the rest of the students are Chinese.”

Hari itu adalah hari pertamaku duduk di kelas imersi untuk belajar bahasa Inggris di Ohio University. Wajah-wajah yang ada di belakang meja yang disusun berbentuk huruf U itu sempat membuatku bertanya-tanya apakah ini kelas berbahasa Cina karena selain seorang dosen dan tiga orang mahasiswa Indonesia, mahasiswa yang lain terkadang berhadap-hadap dan bercakap-cakap dengan bahasa yang tidak aku mengerti dan yang aku yakini itu adalah bahasa Mandarin. Setelah kuliah hari itu selesai dan seluruh mahasiswa Indonesia bertemu kembali di dining hall pada saat makan malam, kami baru sadar bahwa kampus ini memang memiliki jumlah mahasiswa berkebangsaan Cina yang cukup banyak. Dari 18 ribu mahasiswa aktif Ohio University sebanyak 2 ribu orang berpaspor negara tirai bambu.

Interaksi kami pun dimulai dan seperti perkenalan yang lain semua berawal dari nama. Setiap mahasiswa Cina di kelasku memiliki nama Amerika yang memudahkan orang lain melafal dan mengingat nama mereka. Nama mereka cukup beragam, mulai dari yang masih beraroma Cina hingga benar-benar American, seperti Cici, Stanley Cai, Ivy, Rain, Element, dan Jason. Mereka memilih nama mereka sendiri dengan alasannya masing-masing. Rain memilih namanya karena ia menyukai nuansa ketika hujan turun, sedangkan Element mengatakan bahwa namanya terdengar keren sehingga ia memilihnya. Stanley Cai bernama asli Song Yi Cai. Ia tidak mengubah seluruh namanya karena menurutnya orang Amerika masih cukup mudah menyebut Cai. Walaupun mereka memiliki nama Amerika, tetapi mereka tetap menggunakan nama asli mereka di dalam kartu mahasiswa dan dokumen akademik lainnya. Terlepas dari beberapa nama yang terdengar janggal, nama-nama itu berhasil membawa mereka masuk ke pergaulan mahasiswa lainnya di Amerika.

Selama kami tinggal di sana, menemukan mahasiswa-mahasiswa Cina bukanlah perkara yang sulit mengingat jumlah mereka yang cukup banyak. Bahkan sekitar 70% dari mahasiswa-mahasiswa di kelas-kelas imersi yang berisi mahasiswa internasional untuk belajar berbahasa Inggris adalah mahasiswa asal Cina. Di beberapa fakultas di Ohio University porsi jumlah mahasiswa Asia khususnya mahasiswa Cina juga cukup banyak terutama di fakultas teknik dan manajemen bisnis. Setidaknya terdapat tiga faktor yang menyebabkan banyaknya mahasiswa Cina di kampus ini, yaitu booming ekonomi Cina dewasa ini, pendidikan yang lebih baik di Amerika dan peluang mendapatkan jodoh.

Faktor utama hadirnya mahasiswa-mahasiswa Cina di kampus ini adalah booming ekonomi Cina dewasa ini. Cici, salah seorang mahasiswi di kelas kami menceritakan bahwa orang tuanyalah yang membiayai kuliahnya di sana. Ayahnya seorang manajer marketing sebuah perusahaan IT ternama di Cina dan ibunya adalah seorang pejabat di salah satu bank. Cici adalah anak tunggal. Orang tua mereka menginginkan pendidikan terbaik untuk putrinya dan mereka memilih Ohio University. Berbeda dengan Cici yang berpunya tapi sederhana, Rain, mahasiswa lainnya di kelas kami dengan terbuka menampilkan kekayaannya. Ia tak pernah sampai ke ruang kuliah tanpa mobil sport miliknya dan dengan kalung emas yang melingkar di lehernya. Orang tuanya tak kalah kaya karena bekerja di salah satu perusahaan retail terbesar di Cina.

Alasan lain mengapa mereka berkuliah di Amerika adalah kualitas pendidikan Amerika yang lebih baik daripada di negeri mereka. Salah seorag conversation partner saya bercerita bahwa ia tidak puas dengan jurusan-jurusan yang tersedia di Cina. Selain itu, ia sadar betul bahwa dengan berkuliah di Amerika tentu saja akan membuka lebih banyak peluang baginya di masa depan terutama dengan kemampuan bahasa Inggris mereka yang meningkat. Ohio University memang bukan kampus yang ternama seperti Harvard, Yale, atau Stanford tapi kampus ini memiliki beberapa jurusan yang sangat baik yaitu jurnalistik dan bisnis.

Selain itu, kampus ini memiliki sejarah yang panjang selama lebih dari 100 tahun dan merupakan salah satu kampus tertua di daerah north west. Setelah kemerdekaan diraih oleh warga Amerika, masalah tidak berakhir begitu saja. Tentara yang pulang dari peperangan tentu tidak punya uang untuk membiayai kehidupan keluarganya. Begitu juga dengan pemerintahan Washington. Pertanian menjadi solusi bagi masalah ini tetapi mereka tidak punya cukup lahan. Sehingga George Washington mengirim orang ke daerah North Western area yang secara natural didiami oleh Indian. Mereka mulai membuat koloni baru dan Ohio menjadi negara bagian pertama yang dituju. Setelah mereka punya lahan, benih, rumah maka hiduplah warga Amerika ini dengan kehidupan keluarga yang baru. Mereka hidup makmur dan memiliki anak yang menyenangkan. Namun, anak mereka mulai tumbuh dan menjadi dewasa. Kebutuhan akan pendidikan tinggi semakin besar. Oleh karena itu didirikanlah Ohio University sebagai jawaban atas masalah tersebut.

Alasan terakhir mengapa banyak mahasiswa Cina berkuliah di Amerika, baru aku ketahui setelah membahas sebuah artikel di modul reading comprehension pada kelas pagi. Artikel itu berjudul ‘Bare Branches’ yang dapat diartikan sebagai cabang yang kosong, gundul atau tak berbuah. Tulisan itu tidak bercerita mengenai tanaman tetapi lebih pada fenomena sosial yang terjadi di Cina. Bare Branches adalah sebuah istilah yang mengacu pada pemuda-pemuda di Cina yang tidak bisa menikah karena jumlah laki-laki yang lebih banyak daripada perempuan. Pada tahun 2000, perbandingan anak laki-laki dan perempuan berusia empat tahun di Cina sebesar 120:100. Hal ini membuat lelaki Cina yang kesulitan untuk mendapatkan istri yang pada akhirnya berdampak sosial bagi masyarakat Cina, yaitu kekerasan, tindak kriminal dan terbentuknya geng-geng.

Saat Alison, dosen kelas pagi kami, membuka forum diskusi anak-anak pria Cina mengakui hal tersebut. Element mengatakan bahwa ia pergi ke Amerika bukan hanya untuk pendidikan tetapi juga pernikahan. Ia ingin menikah dengan wanita Amerika dan mendapatkan lebih dari satu anak. Seperti kita ketahui bahwa pemerintah Cina menerapkan kebijakan satu anak untuk setiap keluarga. Hal ini dilakukan untuk memperlambat laju kelahiran di Cina yang penduduknya saat ini sudah lebih dari 1.3 miliar jiwa. Kenyataan yang ada di kelas kami memang demikian, semua anak Cina di sini adalah anak semata wayang. Oleh karena itu, mereka berharap dengan kehadiran mereka di Amerika dapat mempertemukan mereka dengan jodonya dan mempunyai lebih dari satu anak tanpa khwatir terkena sanksi dari pemerintah seperti yang terjadi di negara mereka.

Walau dalam kondisi yang berbeda dengan koloni-koloni Inggris yang pindah ke Amerika beratus tahun lalu, anak-anak Cina yang saat ini berkuliah di Ohio University memiliki impian yang sama, yaitu kehidupan yang lebih baik di masa depan. Jika melihat semangat belajar mereka, saya yakin mereka tak akan hanya eksis dalam hal jumlah saja. Kesuksesan bagi mereka hanya tinggal menghitung hari seiring usaha mereka yang terkenal pantang menyerah. Bagaimana dengan kita, putra-putri nusantara?

Midnight Phone Call

Saat itu aku sedang sakit pada malam-malam terakhirku berada di Dougan House, Ohio University. Ingin rasanya mendengar suara ayah dan ibu. Aku putuskan malam itu untuk menelepon ke Indonesia. Akhirnya tepat pukul 1.30 AM waktu OH alias setengah dua malam, aku turun ke basement dan mulai menelepon ke Indonesia (12.30 WIB)

(tut tit tat tit tut) *gw pencet kode Indonesia, kota, dan no telpon rumah. Trus bunyi tuuut….tuuut….tuuut | telepon gw nyambung| ternyata di ujung telepon adik gw yang ngangkat, habis pulang sekolah dia.
Adik gw: “Halo, Assalamu alaikum?”
Gw: “Wa alaikum salam. Dik, ini Mas Ndaru” *gw sumringah 🙂
Adik gw: “Oh gitu, trus kenapa?”
Gw: …..-__-“….. *terdiam tak bicara

dalam hati gw : gak tahu apa ini jam setengah dua malem, udah ngantuk berat, just to hear the voice that I love, eh jawabannya, “Oh gitu, trus kenapa?” Hadeuh hadueh -__-“

Tips Pengisian Aplikasi IELSP

Mengawali tulisan ini saya mengucapkan selamat kepada Anda yang akhirnya sampai pada tulisan ini. Bukan karena tulisan ini istimewa tetapi apresiasi saya kepada Anda yang mungkin sudah membaca beberapa hal mengenai beasiswa IELSP dan tertarik untuk mencoba mendaftar. Tak hanya sampai di situ saja, Anda mulai browsing untuk mencari tahu apa saja yang harus disiapkan untuk mendapatkan beasiswa yang luar biasa ini.

Sebelum lebih lanjut, perkenalkan nama saya Randi Swandaru. Saya alumni IELSP cohort 7 tahun 2010 lalu yang berkesempatan kuliah di Ohio University melalui beasiswa ini. Setidaknya ada dua alasan yang membuat saya akhirnya menulis artikel ini. Alasan pertama adalah sebagai upaya saya untuk membayar utang saya atas kesempatan yang diberikan Allah kepada saya untuk menimba ilmu melalui beasiswa ini. Alasan kedua adalah cukup banyak teman dan adik kelas yang bertanya kepada saya mengenai cara mendapatkan beasiswa ini baik melalui SMS, ketemu langsung, facebook dan lain-lain. Semoga tulisan ini mampu membantu semua pembaca yang berkeinginan untuk mendapatkan beasiswa IELSP.

Agar ‘frekuensi’ kita semua sama, saya sarankan bagi pembaca yang belum tahu banyak mengenai IELSP untuk membuka link berikut ini click here. Berikutnya pastikan Anda memiliki berkas aplikasi yang mesti Anda isi dan kita bahas pada paragraf-paragraf berikutnya. Jika belum punya silakan download di link ini click here. Sekarang mari kita bahas lebih detil

1. What is your goal? What is your life plan? Kedua pertanyaan ini amat penting untuk dijawab sebelum Anda memutuskan untuk mendaftar dan mengisi aplikasi beasiswa ini. Jawaban atas kedua pertanyaan itu juga akan sangat membantu Anda untuk mengisi aplikasi beasiswa. Banyak pertanyaan yang masuk kepada saya dan saya jawab dengan kedua pertanyaan tersebut. Umumnya mereka sudah memenuhi syarat yang ditentukan oleh IIEF tapi mereka masih ragu untuk mendaftar karena khawatir dengan resiko yang mesti mereka ambil seperti cuti kuliah, menunda riset, menunda kelulusan, dan lain-lain. Jadi pastikan Anda tahu buat apa mendaftar dan siap menerima resiko yang melekat pada pilihan tersebut. Kalau cuma sekedar mau jalan-jalan ke Amerika atau having fun aja saya sarankan untuk berhenti membaca dan mundur teratur dari sekarang.

2. Obey the rule Hal pertama yang perlu Anda lakukan sebelum mengisi aplikasi beasiswa ini adalah membaca dan mematuhi aturan pengisian yang ada di halaman muka lembar aplikasi. Pada bagian tersebut tertera aturan seperti tidak boleh meninggalkan bagian dengan kosong begitu saja dan pastikan terisi. Jika tidak ada yang bisa diisi pada bagian tersebut tulislah dengan NONE. Pastikan Anda mengisi dengan bahasa Inggris dan jangan lupa untuk menandatanganinya. Di bagian bawah ada beberapa dokumen lain yang mesti Anda lengkapi. Please read it twice to make sure that you do not miss anything!

3.Personal Data, Health, and Family Data Pada ketiga bagian pertama ini tidak ada hal yang begitu spesial yang mesti diberi perhatian. Hanya saja pastikan Anda mengisinya dengan jujur dan apa adanya. Jika ada keterbatasan, gangguan kesehatan atau alergi tertentu pastikan Anda tulis sesuai dengan keadaan Anda saat ini. Tak perlu minder dan khawatir aplikasi Anda ditolak jika Anda memiliki keterbatasan tertentu. Namun, sebaliknya bersedihlah jika Anda mesti berbohong.

4. Background Pada bagian ini isilah mengenai kehidupan pribadi Anda dan keluarga. Anda bisa menulis tentang pekerjaan orang tua, kota tempat Anda dibesarkan, nilai-nilai yang diajarkan keluarga dan hal-hal lainnya mengenai kehidupan Anda. Poinnya adalah komite penilai ingin mengenal kehidupan Anda lebih jauh. Yakinlah tidak ada kehidupan yang lebih baik dan lebih buruk, itulah kehidupan Anda sendiri. Bukan berarti jika Anda berkekurangan Anda tidak mampu mendapatkan beasiswa ini, begitupun sebaliknya

5. Educational Information Bagian ini cukup panjang mari bahas satu per satu. Pada bagian awal Anda diminta mengisi data mengenai kampus, tahun masuk, dan IP semester Anda. Dugaan saya komite penilai ingin melihat sejauh mana komitmen Anda dengan tanggung jawab akademik Anda. Hal ini sangat wajar karena mereka tentu tidak mau memberikan beasiswa ini kepada orang yang tidak berkomitmen dalam hal akademik. Toh Anda pun akan berinteraksi dengan dunia kampus di Amerika kelak. Jangan lupa mengisi graduation plan Anda. Hal ini berkaitan dengan jadwal pemberangkatan Anda kelak.

Pada bagian TOEFL score, isilah nilai, tanggal, dan lokasi test TOEFL tersebut. Jika Anda sudah punya nilai TOEFL silakan isi pada bagian atas. Namun, jika belum silakan tulis waktu dan tempat testnya saja. IIEF akan mencari tahu nilai Anda dengan informasi tersebut. Oia, IIEF tidak menerima TOEFL prediction, mereka hanya menerima TOEFL ITP dan International TOEFL. Ada banyak kok tempat yang menyediakan test tersebut coba googling aja deh atau tanya ke IIEF mengenai lokasi test terdekat dengan tempat tinggal Anda.

Pada bagian courses/training silakan isi berbagai pendidikan non formal atau pelatihan-pelatihan yang pernah Anda ikuti. Kemudian pada bagian extracurricular activities, silakan tulis berbagi kegiatan kepanitiaan Anda atau kegiatan sosial Anda di luar kuliah. Kegiatan itu bisa beragam seperti mengajar membaca Al Quran, panitia Idul Adha, relawan panti jompo dan lain-lain. Tulis organisasi yang Anda ikuti dan beasiswa yang pernah Anda dapatkan pada dua tabel berikutnya. Yang dimaksud dengan sponsor pada dua tabel itu adalah badan yang mendukung organisasi Anda atau membiayai/memberi beasiswa kepada Anda.

Tulislah prestasi atau pencapaian Anda baik akademik dan non akademik Anda pada tabel berikutnya. Pastikan Anda menjelaskan prestasi-prestasi tersebut pada kolom description. Prestasi itu gak mesti yang wah atau yang umum-umum aja. Jika Anda punya bisnis sendiri tulis aja di sana. Nah, bagi yang rajin nulis silakan tulis artikel yang pernah dipublikasi pada kolom berikutnya. Buat saya pribadi tabel ini cukup banyak saya isi hehe.

Lengkapi dua tabel di bawah tabel artikel dengan informasi mengenai riwayat kepergian Anda ke luar negeri dan kemampuan Anda berbahasa asing. Riwayat Anda ke luar negeri akan ditelusuri oleh komite penilai atau US Embassy kelak. Nah, jangan merendahkan atau melebih-lebihkan kemampuan Anda berbahasa asing pada tabel berikutnya. Percayalah pada diri Anda sendiri.

Bagian berikutnya adalah kontak yang dapat dihubungi dalam keadaan darurat. Pada bagian home country dapat diisi dengan kontak salah satu anggota keluarga atau teman yang siaga dengan keadaan Anda, sedangkan pada bagian USA silakan tulis kontak yang ada di sana jika ada. Jika tidak maka tulislah dengan NONE.

6. Personal Statement Pada bagian ini komite penilai ingin mengetahui apa alasan dan seberapa besar keinginan Anda untuk mendapatkan beasiswa ini. Anda bisa mengisinya dengan hubungan latar belakang pendidikan, hobi, pengalaman-pengalaman Anda dengan studi Anda di Amerika kelak. Poinnya adalah pastikan Anda menuliskan hal yang meyakinkan pembaca bahwa Anda orang yang tepat untuk mendapat beasiswa ini.

7. Current Issue Ada banyak isu atau masalah yang sedang dihadapi Indonesia Indonesia. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana cara yang dapat Anda lakukan untuk menjadi solusi atas berbgai masalah tersebut. Saran saya tulislah masalah yang berkaitan dengan studi atau minat Anda. Saya dulu membahas tentang krisis energi dan energi hijau sebagai solusinya karena di teknologi industri pertanian kami membahas hal itu cukup dalam.

8. Career Aspiration Jika Anda sudah tahu apa tujuan dan rencana hidup Anda ke depan maka bagian ini tak akan menjadi masalah besar. Tulislah rencana hidup dan karir Anda lima tahun ke depan serta cita-cita Anda. Tak lupa tulislah juga apa hubungan beasiswa ini dengan rencana-rencana Anda itu.

9. Reference Mintalah referensi dari dosen atau orang lain yang mengenal Anda secara personal sehingga mereka dapat menejelaskan siapa Anda. Lebih bagus lagi jika orang tersebut memiliki kedudukan tertentu di kampus atau organisasi lain. Saya dulu dapat satu rekomendasi dari dosen dan satu rekomendasi lagi dari dosen sekaligus peneliti di sebuah lembaga riset. Jika mereka kesulitan mengisi surat referensi, bantulah dengan membuatkannya draft surat terlebih dulu. Jangan menyerah dan terus berusaha untuk setidaknya mendapat satu referensi. Komite penilai akan melihat siapa yang merekomendasikan Anda dan jika dirasa perlu mereka akan menghubungi mereka untuk mengonfirmasi informasi-informasi tersebut.

10. Sign and send it Pastikan Anda menandatangani berkas tersebut, melengkapi dengan berbagai sertifikat, nilai TOEFL, referensi dan lampiran lainnya. Jika sudah, fotokopi dua rangkap dan masukkan ke dalam amplop besar. Jangan ‘lebay’ dengan menjilid, mengkopi banyak-banyak, dan lain-lain. Hal ini malah akan menyulitkan panitia penerima aplikasi dan tentunya merugikan Anda. Just follow the rule. Setelah semua lengkap, periksa sekali lagi lalu kirim sebelum deadline. Anda bisa mengirimnya via pos atau langsung ke kantor IIEF. Ingat deadline itu bukan tanggal kirim tapi batas akhir IIEF menerima berkas Anda di kantornya.

11. Pray Setelah maksimal segala usaha, bertawakalah pada Allah. Dialah yang mempunyai rencana terbaik untuk Anda. Semoga Anda adalah orang yang beruntung untuk menerima telepon dari kantor IIEF untuk diundang pada tahap seleksi berikutnya yaitu wawancara.

Demikian tips-tips dari saya. Jika Anda kelak masuk ke tahap wawancara silakan buka link ini click here

Good luck friends 🙂

Dua Adzan di Dua Amerika

Adzan bisa menjadi suatu hal yang lazim saja. Pertanda selesainya dinas matahari pada suatu hari dan awal bagi rembulan menjaga malam hari di muka bumi. Adzan menjadi begitu berharga bagi mereka yang berpuasa karena dia yang memisahkan lega dan dahaga, puas dan lapar, serta menjadi awal pertemuan kita dengan malam yang khusyuk dan berwarna. Saya sendiri punya dua pengalaman adzan di dua Amerika yang pertama penuh haru biru yang kedua penuh tanda tanya. Mari kita simak 🙂

Hari itu adalah masa-masa awal saya berkuliah di Amerika. Kami masih dalam masa orientasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru ini. Setelah rajin shalat di kamar sendiri saja, akhirnya saya menemukan the Islamic Center of Athens di South Green, Ohio University. Tempat itu tidak begitu besar berbentuk persegi berlantai dua. Dindingnya terbuat dari kayu bercat putih sungguh klasik dan sejuk. Ruang perseginya menawarkan hangat kebersamaan persaudaraan muslim rantau. Beberapa menit lagi akan masuk waktu ashar saat saya dan beberapa mahasiswa Indonesia lainnya merebahkan diri di ruang sholat. Tak lama kemudian jam digital di muka mimbar menunjukkan waktu ashar tiba. Seorang pria berwajah Timur Tengah berdiri lalu ia kumandangkan adzan dengan mikrofon. Suara adzan itu lembut terdengar walau hanya dalam ruangan berukuran kira-kira 10 x 10 m itu. Aku terduduk. Tak lama ada rasa berbeda yang perlahan menyelinap dalam hati. Rasa rindu akan tanah air dan adzan yang wara-wiri tiap waktu shalat tiba. Kini aku telah berada puluhan ribu mil dari bumi tanah air dari Asrama PPSDMS tempat biasanya kami bangkit dari kantuk untuk menegakkan diri dalam malam dan subuh hari. Tak ada lagi adzan di luar ruangan ini walau aku berlari ke seluruh penjuru mata angin berkilometer jauhnya. Ada keharuan melanda kalbu dan saat itu manislah terasa menjadi muslim di negeri orang. Kalimat tauhid menjadi kita kuat membuncah dalam hati, menuju tenggorokan dan berakhir di kelenjar air mata. Ya Rabb, terima kasih atas adzan yang kau beri sore hari itu. Kami pun berdiri menegakkan punggung empat kali. Kami menikmati kemerdekaan karena kami ber-Islam 😀

Setahun lebih berselang atau tepatnya tadi malam saat saya kembali ke Amerika hanya selama 2.5 jam saja. Ya, saya tadi malam sowan ke rumah dinas Duta Besar Amerika untuk memenuhi undangan buka bersama dan makan malam bersama beliau. Seluruh undangan sudah berada di lobi utama saat jam menunjukkan pukul 17.30 WIB. Saya masuk bersama beberapa alumni IELSP lainnya. Kami disambut dengan ramah dan penuh kehangatan. Memasuki lobi kami disambut oleh beberapa staf keduataan yang berdiri tegap dan tinggi menjulang dengan balutan jas abu-abu yang rapi dan resmi. Kami mulai mengobrol ngalor ngidul mulai pengalaman kami kuliah di Amerika hingga kondisi ekonomi Amerika terkini

Saat masih asyik ngobrol sana sini, seorang senior saya menyapa dan memperkenalkan salah seorang staf kedutaan yang langsung meminta kesediaan saya untuk menjadi muadzin. Dengan semangat PPSDMS (ngebayangain kayak apa) saya langsung menyanggupi tawaran tersebut. Tak lama kemudian HE Scot Marciel. Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia memberikan sambutan singkat dalam bahasa Inggris yang intinya, apa ya??? (lupa gw) Pokoknya mereka menyambut baik kehadiran kami sebagai alumni program Indonesia-Amerika dan berharap kami bisa melanjutkan studi di luar negeri bla-bla-bla. Setelah sambutan selesai seluruh hadirin kembali berbaur dan berbincang dengan hangat. Tak lama kemudian seorang anggota staf kedutaan memberi isyarat kepada Agus, adik kelasku di IPB, untuk mulai memukul bedug. Tek-tek-tek dug-dug-dug (bunyi bedug). Ruangan menjadi senyap sejurus pukulan Agus menemui muka bedug. Pak Scot Marciel dan beberapa stafnya yang berdiri sekitar 2 meter dari kami pun berhenti bercakap-cakap.

Begitu Agus selesai dengan bedugnya, aku maju ke hadapan mic, mulai menjadi muadzin. Dalam hati agak sedikit deg-degan karena pertama kali adzan beneran gak di masjid dulu sih pernah ikut lomba adzan tapi gak menang juga seih hehe. Terlebih lagi adzan ini di rumahnya Pak Dubes USA di tempat yang ngomong bahasa Arab mungkin rada sensitif. Namun, aku yang beruntung mengumandangkan takbir, kalimat syahadat dalam lantunan adzan di ruang tersebut. Semakin lama adzan aku semakin rileks walau aku tahu betul semua mata perhatian tertuju pada adzan yang aku kumandangkan ini. Pak Dubes dan staf-stafnya masih saja menyimak penuh perhatian, suasana masih khidmat. Namun tak lama suasana berubah gaduh. Orang-orang yang berdiri di belakang Pak Scot mulai menimbulkan suara berisik, entah apa. Pak Scot yang berada di dekatku juga merasa gundah dengan hal tersebut. Aku mulai deg-degan lagi sambil bertanya dalam hati, “Apa ada yang salah dari adzan yang aku kumandangkan, ya?” Ku ambil alih ketenangan dalam diri dan meneruskan adzan dengan lantang. Sampai pada bacaan Hayya ‘alal falah suasana makin gaduh, malah samar aku mendengar beberapa orang berbincang dengan serunya hampir seperti sebelum adzan tadi. Hal ini menimbulkan tanya dalam diri, “apa bener gak ada yang salah dengan adzanku? Atau harusnya adzan pake bahasa Inggris (hehehe ngaco)” Aku tetap fokus meneruskan adzan hingga selesai. Begitu selesai membaca doa selepas adzan aku baru sadar kemudian bahwa saat aku adzan Pak Scot dan beberapa staf yang berdiri di barisan depan memang mendengarkan dengan khidmat. Aku pikir itu bagian dari upaya penghormatan mereka terhadap Islam, dalam hal ini mendengarkan adzan tanpa menyambi ngobrol di antara sesama mereka. Namun, saat memasuki tengah-tengah adzan, undangan-undangan yang hadir dan berada di belakang Pak Scot udah gak terlalu peduli lagi dengan adzan karena perhatian mereka sudah beralih kepada ta’jil yang terhidang di meja. Jadilah mereka menikmati ta’jil itu sambil mengobrol, bahkan terdengar beberapa gelas berbenturan yang membuat suasana kian meriah. Menyadari hal itu aku lega, setidaknya bukan adzanku yang salah hehe 🙂 Segera berbuka merupakan sunah, tetapi dari peristiwa ini aku melihat jelas bagaimana penghormatan Pak Scot dan staf-stafnya terhadap adzan magrib itu. Buatku sebagai seorang muslim itu berarti.

The conversation between east and west has recently became a big issue. Giving respect to the differences between them, I think can be a good way to reduce conflict and take much more benefits from the east-west relationship. 🙂