Top Thrill Dragster – 2nd Fastest Roller Coaster in the World

The photo above was taken in Cedar Point, Ohio in Mei 2010. This bike is really awesome and make me freak hahaha. FYI, this is the 2nd fastest Roller Coaster in the World right behind me hehehe. Check this information below that I cited from Wikipedia.

Top Thrill Dragster is a steel, Hydraulic-launched roller coaster located at Cedar Point in Sandusky, Ohio. It was the first “Strata Coaster”, loosely defined as a complete circuit coaster that is over 400 feet (120 m) tall. It was built by Intamin and debuted to the public on May 4, 2003. It is one of only two stratacoasters in existence, the other being Kingda Ka (2005) at Six Flags Great Adventure in New Jersey. It is the second tallest roller coaster in the world.

It was the second hydraulically-launched roller coaster built by Intamin, following Xcelerator at Knott’s Berry Farm. The tagline for Top Thrill Dragster is “Race for the Sky”.
Due to aviation safety regulations and for the purpose of warning air traffic, the tower is equipped with four dual strobes: three midway up and one on the highest point on the coaster.


Records
When Top Thrill Dragster first debuted, it set four new records:
-Tallest coaster
-Fastest top speed of any coaster
-Steepest drop on a roller coaster (tied with other coasters)
-First complete circuit coaster to top 400 feet

It was the fourth roller coaster to break the 100 miles per hour (160 km/h) speed barrier. It was preceded in this feat by Tower of Terror II at Dreamworld, Australia, Superman: The Escape at Six Flags Magic Mountain in Valencia, California and Dodonpa (located at Fuji-Q Highland).
The previous record holder for overall height was Superman: The Escape at Six Flags Magic Mountain in Valencia, California 415 feet (126 m). Top Thrill Dragster broke this record at 420 feet (130 m). Its record was broken in 2005 when Kingda Ka opened at Six Flags Great Adventure, in New Jersey, USA, standing 456 feet (139 m) tall.

The previous record holder for speed was Dodonpa, at 107 miles per hour (172 km/h). This record was broken by Top Thrill Dragster, which reaches speeds up to 120 miles per hour (190 km/h) (depending on wind and other conditions), which was later broken by Kingda Ka which reached a top speed of 128 miles per hour (206 km/h) and, in November 2010, by Formula Rossa in Abu Dhabi, United Arab Emirates, with a top speed of 240 kilometres per hour (149 mph).

In 2007, it reached its goal of a million riders in one year. The following years proved its ability to entertain riders. Since 2007, it has reached at least 1 million riders in a year and continues to be one of the best rides at Cedar Point.

Source : Wikipedia

Advertisements

Undangan Makan Siang

Saat itu menjelang pukul 10.00 aku berlari secepat-cepatnya karena tepat pukl 10.10 bus di depan Alden Library akan segera berangkat. Dengan terengah-engah aku sampai di depan perpustakaan yang sangat besar itu. Di sana sudah ada Erik dan Agung. Kami pun akhirnya berkumpul dengan Wiharso dan Ari. Tak lama kemudian sesosok tubuh yang kecil dan padat yang telah ditunggu-tunggu datang, Mas Faishol. Dia yang punya hajat hari ini. Dialah yang mengundang kami makan siang.

Bus Athens Transit berhenti di depan Alden. Kami naik dan memilih tempat duduk. Sopir bus menutup pintu secara otomatis dan melajukan bus itu meninggalkan Ohio University. Terlihat di depan mata kami rumah-rumah mahasiswa Ohio University yang berada sedikit di luar kompleks kampus. Sungguh rapi tertata dan membuatku ingin kembali ke tempat ini suatu hari. Kami pun sampai di bus stop terdekat dengan rumah mas Faishol. ami langkahkan kaki masuk menuju rumahnya. Dia bercerita bahwa ternyata flat yang ditempatinya ini merupakan turunan. Maksudnya dari tahun ke tahun selalu ditinggali mahasiswa Indonesia. Ia adalah generasi terakhir. Pada akhir musim semi ini beliau dan keluarga akan kembali ke Indonesia.

Lamunanku berhenti ketika Mbak Lindra mempersilakan kami untuk mengambil sendiri sup buatan mbak Lindra. Sup sapi hangat yang agak pedas tersaji di atas panci yang masih hangat. Inilah waktunya untuk makan enak sepuasnya dan sudah pasti halal. Oiya, Mbak Lindra dan Mas Fashol adalah pasangan muda yang sudah dikaruniai seorang anak balita. Pasangan ini terlihat begitu bahagia dengan kehadiran putri pertama mereka itu, Alifah. Tak lama kemudian datang Mbak Arin dan Lisa melengkapi kebersamaan hari itu

Makan siang hari itu sangat cepat berlalu. Kami akhirnya berpamitan dan berfoto bersama sebelum akhirnya bus Athens Transit menjemput kami kembali. Suatu hari nanti aku akan mengundang mahasiswa Indonesia yang sedang belajar ke flatku untuk makan siang bersama. Sebagai perantauan kita harus support untuk bukan sekedar bertahan tapi juga berprestasi.

Alden Library, Ohio University

WELCOME TO ALDEN LIBRARY

Park Place, or 2nd floor, entry to Alden Library

This was one of my most favorite place in Ohio University. This library is very huge with comprehensive collection. In weekday it’s open 24 hours, so can still doing your assignment even it’s already in very early morning. However, in weekend you just can access it until dark (I don’t remember the exact schedule). If you don’t have any laptop, don’t worry it has a lot of PC plus printer and scanner. All you need is just your OAK ID and it’s all free except printing and copying.

If you want to do your assignment with your friends and need to discuss with them, you can reserve a group study room. 9 glassed-in rooms each have a whiteboard, and most have LCD projectors which may be connected to laptop computers. Rooms may be reserved online for three-hour blocks of time at Group Study Room Reservations page. An Ohio Univesity ID card is needed to use the rooms.

There is also a student writing center where you can meet a staff who can help you to write a good writing. He will help you through brainstorming, editing, and grammar checking.

The reason why this library is special for me is Southeast Asia Center. This is one of the most comprehensive Southeast Asia studies collection that America has ever had. In this section area, I found a lot of novel from Indonesia such as Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa and even the brand new successful novel : Ketika Cinta Bertasbih part 1 and 2. We also can find a lot of newspapers and magazine that published in Indonesia here.

 Picture of statuette in the Center for International Collections

Alden library also provides various collection such as fine arts, children collection, leisure books, and governmental document.

 

Fine Arts Collections                                                              Governmental Documents

Another reason why this library is so special is the presence of Media Library. I often borrowed many films and video there from the classic one to the brand new released. The Media Library has a collection of over 30,000 audio and visual media titles, in various formats such as video and DVD, audio and CD-ROM.

For the disable students, there is a special room that can help them access a lot of information. This room is called the G. Lynn Shostak Adaptive Equipment Room which has a computer, a scanner and a Braille printer. Software on the computer includes: DragonSpeak, TextHelp, and Kurzweil

Picture of the Adaptive Equipment Disabilities Room.

Finally if you are hungry or thirsty you can stop at a cafe inside the library. You can offer a cup of coffee, tea,and other beverages there.

Alden Library 2nd floor entryIf you have a question or need help just meet a staff at Learning Commons.

Librarian at Learning Commons service desk

Ditolak donor darah

Sejak pertama kali donor darah sewaktu masih berada di tingkat pertama, saya jadi ingin donor darah lagi. Oleh karena itu, begitu ada kesempatan berikutnya saya datang lagi. Namun setidaknya saya pernah dua kali ditolak donor darah yang akan menjadi cerita pada postingan kali ini.

Saat itu ada sms masuk ke inbox saya, isinya kurang lebih tentang permohonan donor darah untuk salah seorang pasien. Yang menjadi perhatian saya kemudian adalah golongan darah yang dibutuhkan yaitu AB. Persis seperti yang mengalir dalam pembuluh darah saya. Tak lama kemudian ada telepon masuk. Singkat cerita, saya diminta penelepon itu untuk mendonorkan darah saya, entah siapa si penelepon itu dan tahu dari mana golongan darah saya (dulu blog ini belum aktif, jadi pasti bukan dari page about me). Keesokkan harinya saya datang ke PMI Bogor. Dengan berbekal sarapan saya siap mendonorkan darah. Sesampainya di sana sudah ada beberapa pendonor lainnya untuk pasien yang sama. Begitu giliran saya tiba, diperiksalah saya dari A-Z. Begitu masuk kira-kira di poin D saya ditolak untuk mendonorkan darah. Pertanyaan ibu pemeriksa itu begini,  “Pernah kena tipes atau DB? ” “Pernah”, jawabku. “Kapan?”, tanya dia lagi. Saya jawab, “Juli”. Lalu dia menghitung-hitung dengan jarinya. “Wah belum bisa donor, mas. Belum enam bulan sejak Mas sembuh. Setelah enam bulan baru boleh donor lagi. Ini gak baik buat kesehatan mas kalo dipaksakan” Pernyataan Ibu tadi menutup episode pertama saya ditolak donor darah. Saya stop angkot, kembali ke Asrama PPSDMS.

Pengalaman kedua saya ditolak donor darah terjadi di Amerika Serikat. Suatu hari ada pengumuman di email saya dari penanggung jawab blok di dorm saya. Saya buka email student@ohio.edu milik saya. Isinya pengumuman donor darah yang akan dilaksanakan beberapa hari ke depan di dorm sebelah. Pengumuman tersebut ternyata juga dicetak dan ditempel di lorong-lorong dorm. FYI, isi pengumuman di lorong banyak banget mulai dari penggalangan dana kanker, diskusi politik, undangan nonton basket bareng untuk dukung Cleveland, edukasi sex dan banyak lagi.

Hari berlalu hingga tibalah hari pendonoran darah itu. Waktunya singkat, seingat saya dari jam 9.00-15.00. Hari itu aku keluar dorm berbungkus jaket putih Zeitgeister sekitar 20 menit sebelum kelas pertama dimulai pukul 9.00. Ada satu tempat yang harus aku datangi sebelum masuk kelas: kafetaria. Setelah kartu mahasiswa digesek aku ambil tray dan langsung mengantri. “Scrambled egg, please” dengan senyum ramah Indonesia tentunya. Sepiring scrambled egg sejenis orak-arik kuning telur dan segelas coklat dingin ada di mejaku. Pagi itu masih sepi dari hiruk pikuk mahasiswa, gak heran kalo baru makanan ini yang tersedia. Namun, ini menu sarapan favoritku,  scrambled egg ditaburi lada dan garam dan segelas cokelat. Sebelum keluar comot satu pisang dulu tentunya.

Kelas pertama dimulai pukul 9.00 di Gordy Hall, sebuah gedung pusat bahasa. Kelas kedua dimulai tepat satu jam setelahnya, pukul 10.00 di seberang Gordy Hall. Setelah satu jam kelas kedua selesai pukul 11.00 aku sempatkan diri untuk mampir ke lab komputer. Lab itu berada di basement Gordy Hall dan begitu kita masuk maka hanya produk-produk Apple yang akan terlihat. Aku duduk di depan salah satu komputer. Begitu buka email, ternyata ada reminder tentang donor darah yang dilaksanakan hari itu. Kalau tidak salah ada dua email masuk soal hal yang sama. Selintas dipikiranku terbersit bahwa sepertinya hajatan ini kurang peserta.

Sejurus kemudian sebuah rencana singkat aku buat. Kelas berikutnya dimulai pukul 12.00 dan berakhir pukul 15.00. Waktu makan siangku cuma dari pukul 11.00 (saat itu juga) sampai pukul 12.00. Pada pukul 15.00 donor darah selesai. Akhirnya lima menit kemudian aku sudah berada di Shiley Hall, salah satu kafetaria favoritku karena makanannya enak, dekat Gordy Hall, dekat dormitory, dan tersedia ayam goreng setiap Selasa sore. Setelah kartu mahasiswa digesek dan kuota meal planku berkurang, aku ambil tray dan sebuah piring. Aku isi piring itu dengan pasta, shrimps, dan bumbu di atasnya. Sepotong ayam goreng ikut mampir beserta segelas jus. Tidak butuh waktu lama untuk memindahkannya ke dalam perut.

Sepuluh menit kemudian aku sudah di dalam kamarku. Aku keluarkan diktat kelas pertama dan kedua. Sedikit berbenah lalu meluncur ke dorm sebelah. Sesampainya di sana, pintu dorm sudah terbuka dan tetap terbuka karena diganjal dengan sejenis kayu. FYI, kita gak bisa masuk ke dorm lain kecuali punya kuncinya, bahkan gak bisa masuk ke lantai atau blok yang berbeda even di dorm tempat tinggal kita sendiri. Ini yang bikin keamanan lebih terjamin. Aku lewati lorong panjang hingga masuk ke sebuah ruangan di basement. Bau rumah sakit langsung tercium saat satu langkah kakiku masuk ke ruangan itu.

Aku mendaftarkan namaku di meja pertama. Isinya kurang lebih nama, NIM, email, no Hp, golongan darah. Benar saja ternyata halaman pertama buku registrasi itu belum terisi penuh. Aku jadi cukup senang bisa datang dan mendonorkan darah Jawa yang kumiliki ini (heheh). Setelah itu aku duduk di bench yang disiapkan untuk menunggu. Aku diminta untuk membaca sebuah modul yang kurang lebih berisi tentang hak,kewajiban dan peraturan lain mengenai donor darah tersebut. Selesai aku membacanya seorang pria besar dengan rambit blond beranjak dari ruang donor. Tak lama kemudian aku dipanggil. Seorang perawat yang sudah lebih dari separuh baya itu menyapaku. Lalu dia berkata,”May I take a look ur ID card”. Aku berikan kartu mahasiswaku. Mungkin karena melihat mata sipitku dia lalu melanjutkan pertanyaannya. “Where are you from?”. Dengan bangga aku jawab, “I’m from Indonesia”. ” How long you have been here?” she aked me again. I said, “two weeks”. Perempuan itu mengernyitkan dahi mendengar jawabanku. Lalu dia berkata,”Sorry mister, you are not allowed to donate your blood. You’re from Indonesia, a tropical country which potentially brings dengue or malaria through ur blood. You can donate ur blood after you have been living here for at least two years. Sorry.” “Ok, I understand. No problem”, I replied. Aku kemasi barangku lalu beranjak keluar ruangan itu. Dua orang wanita di meja registrasi tak lepas memandangiku sembari aku melangkah keluar. Aku tahu mereka mendengar percakapan kami. Entah apa yang dipikirkannya, mungkin mereka pikir darahku ini mengandung malaria.

Ucapan perawat tadi sungguh menyambarku. Aku tahu dia tidak bermaksud menyinggungku tapi tetap saja aku tersinggung. Dia bilang aku berpotensi menyebarkan DB atau malaria karena aku berasal dari Indonesia. Jiwa nasionalisme ku tak terima. Aku bergegas pergi menuju kelasku berikutnya yang akan segera dimulai 10 menit lagi dengan rasa tak percaya bahwa niat baikku hari itu ditolak.

Kehadiran Negara

Belakangan aku menyadari keputusan perawat itu. Dia hanya menegakkan aturan yang ada dan aturan itu menunjukkan kehadiran negara untuk melindungi warga negaranya. Bayangkan jika darahku benar-benar diambil dan benar mengandung potensi dengue atau malaria. Kemudian darah itu didonorkan ke pasien lain mungkin akan timbul kasus malaria baru setelah USA bebas malaria sejak lama. Tak dapat dibayangkan berapa besar kerugian jika hal tersebut benar terjadi.  Kehadiran negara begitu terlihat melindungi warganya dalam konteks ini.

Jika kita refleksikan dengan kondisi Indonesia, sungguh miris melihat berita saban hari mengenai TKI yang disiksa, kapal RI yang belum bebas dari perompak, mahasiswa Indonesia yang dibunuh di Singapore, bom biadap yang tak jua berhenti dan masalah lainnya yang menunjukkan absennya pemerintah untuk melindungi warganya. Namun, posting ini bukan bermaksud merendahkan negara ini dan mengagungkan Amerika. Hanya saja darah nasionalisme ini tidak terima dengan fakta yang ada di ujung hidung kita. Oleh karena itu, mari kawan-kawan siapkan diri kita karena jika waktunya tiba kitalah yang harus menghadirkan peran negara untuk melindungi siapa saja yang menjadi penduduk bumi Nusantara.

Morning Conversation (east-west)

A week before I went back to Indonesia, I had an opportunity to spent my weekend with an American family. So our group we was divided into several smaller groups. Each group contained 2-4 persons, but there was one of us who did not have any partner. She went alone for home stay. The reason why one of us just stay alone but the others were in group were our different preferences, beliefs, and thought. Some of us hate dog and does not eat pork whereas the others feels convenient with them. My small group consisted of four persons and all of  us have the same preferences which is NO DOG. (hehehe)

So we went to Cincinnati and met our new home stay family. Lucky us because we’re in De Gregs. Phil De Greg is a Professor of music in University of Cincinnati and her wife is Carol De Greg who works for hospital. She is a nurse. They have two daughter, Nicole and Julia. We were very happy because it was our first experience to be in American real family life. The next 3 days we fulfilled with talking, museum visiting, going to church, dinner of course etc.

In this writing,  I want to share to you about our morning talks before breakfast. As all u know  that we live in the east side of the world whereas America lies in another side, west side. The 9/11 tragedy brought a big influence to the conversation between east and west. Many youngsters in the east hate America, especially they who come from the Moslem world. Many people in the Moslem world hate Bush due to his policy to attack Afganistan and Iraq. Their invasion did not work and make a much more giant conflict among the civilians.

On the other side, 9/11 also brought a new huge fear to the American. FYI, there is no invasion or war in America before this tragedy. The war that involved America always happened outside and far away from the Uncle Sam’s home land, such as Vietnam war, Pasific war (world war 2), and Gulf war. Therefore, the attack made the civilians panic and believed that their home land was not safe anymore. War was solution for this difficult problem. The US Army searched and attacked the “terrorist” wherever they are. Most American agreed that they have to protect their home by overcome the terrorist. That’s why George Walker Bush was elected for the second period.

However not every single person in America supported this policy. Phil and Carol are two of them. Carol said to us her experience related to this war. One day Carol and Phil went to Brazil where Phil usually visits to make music. When their plane take off, the US Army started to bombed Iraq. Phil and Carol landed safely. Then they went to their friend’s home. While their doing music or other activity (im not sure), a boy walked towards Carol. In his innocent face, the boy asked her,”Why do you start the war?”. To heard that Carol was  shocked and then realized that maybe there are many people in the world have the same question and feeling like this boy.

Started from that moment, Carol began to welcome foreigners to stay at her home. She wanted to share that American love peace and hate war.  There some guests from Ukraine and other country who has stayed in her home before us. Carol’s idea worked effectively to share her peaceful message and we also felt it. After spent three days in her home, we realized that we’re the same, even we live on different side of the world (east-west). We do love peace and respect the differences between us. It’s not fair to blame somebody who you do not recognize just because their government’s policy, religion, skin, hair or even different place of live.

The home stay program brought us to a new understanding. A conversation between east and west was began and I never stop to share this experience to my friends and people around me. We can make this world a better and safer place not with hate but only love and respect.