Is Islam an Impediment for Development in Muslim Countries?

Civilizations die from suicide, not by murder (Toynbee, 1957)

dav

The history has witnessed the glorifying period of Muslim civilizations for millennium. However, that was just a myth now since Muslim countries are plagued by a lot of problems such as illiteracy, poverty, unemployment, health issues, freedom, and many other things so that they can be categorized as the developing or underdeveloped countries. Therefore, some orientalists argue that Islam with its characteristic is the essence impediment for development. However, this essay will argue that Islam is not the true hindrance for development but the violation and the disembeddedness of Islamic world-view in everydayness. In doing so, this essay will first define development prior to provide a discourse on the decline of Muslim civilizations.

Continue reading

Advertisements

Konsistensi

Di dalam dua buku yang berbeda saya menemukan rahasia mengenai konsistensi dan hasil yang bisa kita peroleh dengan memiliki karakter tersebut. Rahasia yang pertama disampaikan Malcolm Gladwell di dalam bukunya the Outliers. Malcolm Gladwell menyampaikan sebuah angka ajaib 10.000 jam. Menurutnya setiap manusia akan memiliki keahlian tertentu dengan tingkat penguasaan yang sangat baik setelah melewati masa 10.000 jam. Dalam periode tersebut mereka menjalani proses latihan, pembelajaran dari kesalahan, inovasi dan lain sebagainya sehingga mempunyai keahlian yang mumpuni. Jika kita dalam sehari saja seseorang berlatih selama 5 jam maka dibutuhkan kira-kira 2000 hari atau 6,5 tahun. Lebih lanjut dalam bukunya Gladwell menceritakan kisah Bill Gates yang berlatih pemrograman komputer sejak SMP hingga akhirnya dia keluar dari Harvard dan memulai Microsoft dari garasinya. Selain itu, ia juga bercerita berjam-jam yang dihabiskan Beatles di sebuah kafe di Hamburg sebelum akhirnya musik mereka berhasil menginvasi belantika musik Amerika.

Consistency

Hampir sama dengan yang dikatakan Gladwell, Stepen Covey di dalam bukunya 7 Habits menulis bahwa pada awalnya kita yang membentuk kebiasaan hingga akhirnya kebiasaan itu yang membentuk kita.  Lebih jauh lagi Covey mengatakan bahwa segalanya bermula dari apa yang kita pikir lalu berubah menjadi tindakan. Tindakan lalu berubah menjadi kebiasaan dan kebiasaan berubah menjadi karakter. Hingga akhirnya karakter ini mendorong kita menjadi takdir. Sebagai contoh seorang berpikir dan berkeinginan untuk menjadi orang yang sopan maka akan memulai bertindak sopan. Jika ia konsisten maka ia akan terbiasa menjadi orang yang sopan. Tanpa disadari ia akan memiliki karakter sopan dalam dirinya sehingga dikenal sebagai orang yang sopan. Karakter inilah yang akan menentukan takdirnya di masa depan. Sebaliknya orang yang berpikir menipu akan mulai menipu dan terbiasa menipu. Tanpa disadari ia akan memiliki karakter penipu dan masa depannya bisa jadi tidak jauh dari tindakan tipu menipu.

Walaupun tidak persis sama, kedua kaidah yang disampaikan Gladwell dan Covey memiliki cerita yang sama mengenai konsistensi. Sementara Gladwell lebih banyak bercerita bagaimana konsistensi dapat mengasah keahlian yang spektakuler, Covey menyampaikan bahwa konsistensi dapat membentuk karakter. Kedua proses tersebut berlangsung dalam waktu yang bersamaan sehingga menghasilkan individu yang berkeahlian mumpuni dan karakter yang mantap. Belajar dari hal ini sekarang pertanyaannya kembali kepada diri kita masing-masing. Kita ingin menjadi apa? Ingin dikenal sebagai sosok yang bagaimana? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Pembedanya terletak pada napas siapa yang lebih panjang untuk berlari dan konsistensi untuk terus berlatih dan berjuang. SALAM SUKSES!!!

Negara (kehilangan) Hukum

negara-berdasar-atas-hukum

Berita hari-hari belakangan ini masih saja menyoroti berbagai masalah hukum. Beberapa hal yang paling heboh adalah penyerangan Lapas Cebongan dan pengeroyokan Kapolres di Sumut. Dua hal ini amatlah miris bagi saya pribadi. Narapidana yang seharusnya menjalani hukuman di bawah perlindungan negara justru dibantai habis di dalam sel mereka. Pelakunya masih gelap. Ada indikasi mereka berasal dari TNI/Polri tetapi proses pengusutan yang lama dan suram ini bisa memberi angin lain bagi kejahatan. Suatu hari bukan tidak mungkin segrombolan preman atau gembong narkoba menyerbu lapas lain untuk membebaskan bos atau rekan mereka. Tidak kalah mengerikannya adalah seroang Kapolres yang berusaha menangkap penjudi justru mati dikeroyok warga. Entah apa mungkin semua sudah gelap mata.

Belum lagi kalau kita lihat kontras pemberian hukuman kepada para terpidana, kadang aku juga geli mendengarnya. Ada dua artis panas cakar-cakaran, diurusi polisi dan salah satunya mesti dipenjara 3 bulan (mungkin salah satu lainnya akan segera menyusul dibui). Sementara itu, ada anak menteri yang menabrak mobil lain hingga timbul korban jiwa dibiarkan hidup di luar penjara dengan hukuman percobaan.

Saya lebih tertarik pada pengusutan TNI yang mati ditembak di Papua belakangan ini. Ini harus tuntas karena mereka yang jelas-jelas mempertahankan negara harus dibela dan dilindungi. Begitu juga pengusutan rekening gendut jenderal Polisi atau pejabat negara lainnya.  Ini pengkhianatan. Tetaplah ingat bahwa negara ini negara hukum semua harus diadili dengan adil.

Tapi mari bersabar sembari menunggu Bapak kita selesai mengurusi partainya atau setidaknya mari kita ucapkan selamat kepada Pak SBY sebagai Ketua Umum Partai Demokrat yang baru.

Chavez, Ahmadinejad & SBY : Sebuah pertanyaan terbuka

Chavez Ahmadinejad SBY

Seperti apakah dunia pasca meninggalnya Hugo Chavez? Kira-kira begitulah nada semua harian belakangan ini baik cetak dan elektronik. Wajar saja pertanyaan itu muncul karena Chavez adalah tokoh yang amat vokal berada di seberang Amerika. Dia tidak hanya vokal tetapi juga berpengaruh dan dicintai rakyatnya. Berpengaruh karena sebagai catatan kita hari ini, Venezuela adalah negara dengan cadangan minyak mintah terbesar di dunia, bukan Arab Saudi! Dicintai rakyatnya jelas nyata dari jutaan rakyatnya yang bersedih dan memadati prosesi pemakamannya. Yah, memang terlalu subjektif jika kita bilang dicintai seluruh rakyat Venezuela karena ada sebagian dari mereka yang tak bersedih dengan kematian Chavez. Mereka itulah yang selama ini dilucuti akses ekonominya oleh Chavez karena bisnis mereka tak menetes kepada mereka yang seharusnya menikmati kue pembangunan. Sebagai catatan saat Chavez memimpin Venezuela pada 1999 kemiskinan di negeri itu mencapai 49 persen sedangkan pada akhir 2012 lalu turun hingga menjadi 29 persen saja. Tak hanya Venezuela yang bersedih dan khawatir, Kuba, Jamaika, dan negara-negara Amerika Latin lainnya yang selama ini mendapar dukungan Chavez juga ikut ketar-ketir dengan arah angin politik di Amerika Selatan

Musuhnya musuhku adalah temanku mungkin cukup menggambarkan hubungan Chavez dengan Ahmadinejad. Ya, mereka memiliki musuh yang sama : Amerika Serikat. Kebijakan pengembangan nuklir Iran yang selama ini selalu menjadi penyebab panasnya hubungan AS-Iran. Tak hanya itu, Iran juga dikenal sebagai amat tegas terhadap Israel, sekutu AS. Bahkan Ahmadinejad pernah berujar, “Israel harus dihapus dari peta dunia! Di luar retorikanya yang tegas, Ahmadinejad memang sosok yang sama dicintainya oleh rakyat Iran, seperti halnya Chavez di Venezuela. Ia begitu sederhana tetapi memiliki keberpihakan yang jelas kepada rakyat. Kebijakan pembangunannya menjauhkan diri dari ketergantungan AS begitu konsisten dan mulai menuai hasilnya. Lihat saja baru saja Iran mengklaim telah mampu mengorbitkan seekor kera di atas bumi. However, on top of everything Iran akan segera mengahadapi pemilu presiden pada Juni mendatang dan Ahmadinejad tak bisa dipilih kembali karena sudah memimpin dalam dua periode terakhir. Pertanyaannya kemudian bertambah seperti apakah dunia pasca Ahmadinejad?

Berbeda dengan kedua tokoh di atas SBY bukanlah sosok yang anti AS sehingga tidak mendapat sorotan sebesar kedua tokoh itu. Walaupun demikian SBY memimpin sebuah negara yang bernama Indonesia yang saat ini menjadi negara peringkat 16 GDP terbesar di dunia mengalahkan Venezuela dan Iran. Indonesia pun kita tergabung dalam G20 yang terkenal sebagai kelompok 20 negara yang mewakili 90% GDB dunia. Indonesia pun diprediksi akan masuk ke dalam peringkat 10 besar dalam 15 tahun mendatang. Dengan kata lain SBY sebagai pemimpin Indonesia memiliki peran yang tak kalah strategis. Seperti halnya Iran, Indonesia juga akan segera mengalami pergantian kepemimpinan dan SBY tak lagi dapat dipilih. Pertanyaannya kemudian adalah seperti apakah dunia pasca SBY? Ini adalah sebuah pertanyaan terbuka. Kita dapat menjawabnya dengan apapun. Hanya saja SBY sudah memberikan kisi-kisinya kepada kita dengan berbagai aktivitasnya yang saat ini lebih banyak terfokus pada partainya. Tak heran inflasi bulan Februari lalu mencapai 0.75%, nilainya cukup tinggi selama 10 tahun terakhir. Namun, sekali lagi ini adalah pertanyaan terbuka. Kita bebas menjawabnya!

Pohon Roboh

Setelah menikah saya punya aktivitas baru yaitu berkebun atau lebih tepatnya bertaman. Taman yang kami miliki memang tidak terlalu besar tetapi cukup menarik jika bisa ditata dengan baik. Salah satu tanaman yang tumbuh di sana adalah pohon jarak, Tingginya baru 1.5 meter saja, daunnya cukup rimbun dan sudah mulai berbuah. Suatu pagi saya baru menyadari bahwa pohon jarak itu sudah roboh. Agaknya pohon itu tak sanggup menahan angin dari hujan lebat yang terjadi pada sore sebelumnya.

Akhir pekan ini saya berusaha untuk memperbaiki kondisinya. Ternyata pohon itu awalnya di tanam di dalam sebuah toples plastik sehingga akarnya tertahan di dalam toples itu. Ohh agaknya ini yang membuatnya tidak dapat mencengkeram bumi dengan kuat. Aku pecahkan toples itu dan membiarkan akarnya menghirup udara segar. Lepas itu aku gali areal tanamnya dan ku tanam kembali ke dalamnya. Pohon itu tegak berdiri sebelum akhirnya roboh kembali. Akarnya tak cukup kuat menopang batang dan daun yang sudah begitu rimbun. Opsinya ada dua yaitu menanamnya lebih dalam atau memotong daun-daunnya. Opsi pertama aku urungkan karena ternyata setelah beberapa puluh centimeter menggali aku dapati lantai plester semen di dasar. Ohh rupanya ini adalah sebab mengapa tanaman ini dulu hanya di tanam di pot. Mungkin lebih baik jika ranting-rantingnya dipotong.

Seperti halnya pohon manusia harus memiliki akar yang kuat besar dan menjalar ke segala arah. Hal ini penting agar saat batang semakin tumbuh besar dan daun semakin rindang, pohon itu tetap dapat tegak berdiri. Masa pertumbuhan akar itu adalah saat ini, saat kita masih muda. Mari terjun ke berbagai aktivitas yang dapat menumbuhkan akar kita, sehingga tumbuh besar dan menjulur ke segala arah, kuat mencengkram bumi. Hal ini penting agar saat batang kehidupan kita mulai tumbuh besar, daun kian rindang, dan buah semakin banyak yamg muncul pohon kehidupan kita tetap dapat bertahan. Jangan sampai kita sampai pada saat ranting kita dipotong karena terlalu rimbun atau areal tanam kita hilangg digantikan tanaman lain.

Wallahu ‘alam

Makna Jalan-Jalan

Tulisan ini dibuat di Gate F2 selagi menunggu GA 204 menuju Jogjakarta. Meeting bulanan di Jogja sudah menunggu di depan. Namun, aku tidak akan berbicara mengenai Jogja apalagi meeting bulanan. Aku ingin bercerita mengenai pentingnya jalan-jalan.

Walau bukan seorang backpacker sejati atau traveler ulung saya adalah salah seorang yang hobi jalan-jalan. Belum banyak memang cerita yang bisa dibagi mengenai ini, baru cerita seputar Bandung, Jakarta, Pekalongan, Malang, Nusa Kambangan, Purwokerto, Cilacap, dll. Walau tidak rutin saya mengusahakan agar tetap dapat jalan-jalan saat kesempatan itu datang. Pertanyaannya kemudian mengapa?

Jalan-jalan membuktikan kepadaku bahwa ada “kehidupan” di luar Jakarta. Terdengar kasar atau sadis memang, tapi itulah ilusi yang seolah jadi realita karena rutinitas Jakarta. Kita digerakkan oleh semacam roda tak terlihat untuk bergerak memutar hari, pekan, bulan, hingga tahun. Rutinitas membuat kita hidup dalam kubus kita sendiri seolah menafikan kehidupan di tempat lain, di luar Jakarta. Kehidupan di luar Jakarta membuat kita sadar bahwa hidup bukan melulu mengenai kecepatan, kepadatan, perputaran melainkan juga keharmonisan, kedamaian, kesederhanaan dll. Itulah indahnya dan keberuntungan.

Jalan-jalan itu ibarat pembersih wajah atau amplas kasar. Ia dapat menghaluskan dan membersihkan diri kita. Bahkan jalan-jalan dapat mengasah diri kita untuk mengerti bahwa kesyukuran itu harus diperjuangkan dan dibuktikan. Terlalu tua agaknya pemikiran seperti ini saat referensi kita adalah hidup hedonisme yang berhenti pada dunia. Namun, terlalu berat rasanya untuk tak merenung jika kita lihat tiap hari roda sepeda ontel bertumpuk dengan rumput yang dikayuh seorang tua ringkih. Seperti air pula jalan-jalan akan membasuh kita, memberi kesegaran.

24 tahun sudah rasanya aku menghirup udara melulu di kota ini. Aku menantikan mungkin suatu hari saat kesempatan itu datang untuk tinggal di luar Jakarta. Pada saat itu aku akan berkata,”Aku akan jalan-jalan ke ibukota”. Pada saat itulah mungkin cerita yang aku tuliskan akan berbeda.

6:58 WIB

Co-auditor Martabak

Ada dua sisi di dalam pekerjaan yang dapat membuat kita bahagia, yaitu pleasure dan meaning. Pleasure adalah hal-hal menyenangkan yang dapat kita rasakan, seperti dipijat saat pegal, dapat asuransi kesehatan, gaji yanng tinggi, bisa travelling gratis dll. Yang kedua adalah meaning yang lebih menunjukkan keberartian pekerjaan atau usaha kita untuk orang-orang dan lingkungan di sekitar kita. Sisi meaning ini dapat membawa kebahagiaan dengan timbulnya kebahagiaan atau setidaknya hadirnya manfaat untuk lingkungan sekitar.

Bicara mengenai kedua hal tersebut saya ingin berbagi pengalaman menjadi co-auditor halal bagi istri saya tadi malam. Istri saya ditugaskan untuk mendata setidaknya 50 outlet martabak di Jakarta untuk diikutsertakan pada program sertifikasi halal gratis. Syarat keikutsertaanya mudah yaitu bersedia diwawancarai mengenai bahan yang mereka gunakan. Urusan lainnya menjadi tanggungan LPPOM. Mereka yang lolos akan mendapat sertifikat halal.

Tugas saya tadi malam adalah menjadi co-auditor. Ngapain aja sih kerjaannya? hehe. Membonceng istri, ikut bantu wawancara, ikut persuasi ke pedagang martabak agar ikut serta dengan program kami dan lain-lain. Kami berputar daerah sekitar Lubang Buaya-Halim-TMII-Jl Raya Pondok Gede. Setelah sekitar 2jam muter-muter kami berhasil mendapat 9 calon peserta yang bersedia ikut program dan 3 pedagang yang menolak tawaran. Alhamdulillah 🙂


Nah selama proses wawancara dan pertemuan dengan pedagang tersebut aku merasakan meaning yang begitu dalam akan pekerjaan ini. Kami bertanya mentega apa yang digunakan? Dari mana membeli daging sapinya? Mesis, keju,vetsin brand apa yang dipakai? dsb. Kami harus berhati-hati dalam proses audit ini jangan sampai kami salah memasukkan data yang berakibat pada salahnya fatwa yang dikeluarkan. Kami pun sadar bahwa semakin banyak masyarakat yang sadar akan makanan & minuman halal. Pedagang martabak pun tidak sedikit yang setuju dan berterima kasih dengan program ini. Selama proses itu kami juga bertemu dengan pedagang yang sudah 15 tahun berdagang martabak dan penuh syukur dengan apa yang mereka miliki. Banyak juga yang tidak hapal nomer hp sendiri saat kami tanya kontak yang bisa dihubungi. Belum lagi mereka yang bilang bahwa jika tidak menemukan mereka lain hari maka mereka sedang pulang kampung untuk menemui istri dan anak, tapi pasti mereka akan kembali berjualan di lain hari.

Selepas jam sembilan malam kami kembali ke rumah. Istriku terlihat begitu letih. Kami pun beristirahat sambil ngobrol pengalaman tadi dan menduga pedagang mana yang akan paling senang mendapat logo halal nantinya. Pada momen itulah sungguh aku rasakan kebahagiaan karena meaning dari pekerjaan yang ku lakukan.