Spion

Spion itu kata orang kan ibarat masa lalu karena sama-sama menunjukkan hal yang sudah kita lewati.

Masa lalu memang harus diperlakukan seperti spion. Letaknya di samping bukan di depan. Kalau diletakkan di depan akan menghalangi langkah kita.

Ukurannya pun kecil tapi lensanya cembung karena memang seharusnya masa lalu itu porsinya lebih sedikit dibandingkan aktivitas lainnya saat ini tetapi kita harus jelas melihat pelajaran apa yang dapat kita ambil dari peristiwa-peristiwa yang sudah lewat itu.

Spion itu juga cuma dilihat sesekali aja, gak sering-sering, nah seperti itulah masa lalu diperlakukan. Betapa buruknya atau baiknya masa lalu kita tak boleh terlalu sering melihatnya karena bagaimanapun juga hal itu sudah lewat. Kita punya layar yang lebih besar yang harus kita ‘openi’/ kita urus/kita usahakan yang bernama hari ini dan masa depan.

However, berkendara  tanpa spion itu tak lengkap malah dapat sangat berbahaya.

Advertisements

Susu Sehat Yang Inovatif dan Halal Untuk Pertumbuhan Anak

*Tulisan ini diikutsertakan dalam LOMBA BLOG HALAL IS MY LIFE.

Sejak awal kehidupan kita telah dekat dan akrab dengan susu. Begitu kita terlahir ke dunia, ibulah yang pertama memberikan air susu sebagai makanan utama kita sehari-hari. Kemudian saat kita sudah semakin besar kita mulai mengonsumsi susu pertumbuhan untuk melengkapi zat gizi yang kita butuhkan. Walaupun susu begitu penting dan mengandung beraneka gizi, tingkat konsumsi susu di Indonesia masih tergolong rendah yaitu sebesar 11.84 liter per kapita per tahun[1]. Angka ini masih berada di bawah tingkat konsumsi susu negara ASEAN lainnya seperti, Vietnam (12.1 liter), Filipina (22.1 liter), Malaysia (22.1 liter), Thailand (33.7 liter). Tingkat konsumsi susu itu tidak sekedar menggambarkan berapa banyak susu yang dikonsumsi penduduk Indonesia tetapi angka itu juga dapat menggambarkan seberapa baik pembentukan otak dan kelangsungan pertumbuhan & perkembangan fisik anak-anak Indonesia di usia emasnya (golden age). Mengingat strategisnya peran susu terhadap tumbuh kembang anak dan keterbatasan akses masyarakat terhadap susu maka diperlukan inovasi untuk dapat menghadirkan nutrisi yang cukup bagi pertumbuhan anak dan tentu saja terjamin kehalalannya.

Inovasi pertama yang perlu dilakukan adalah upaya untuk meningkatkan konsumsi susu di dalam negeri. Saat ini tingkat konsumsi Indonesia sudah meningkat 48% menjadi 11.84 liter per kapita dibandingkan tingkat konsumsi susu pada 2007 yang hanya sebesar 8 liter per kapita. Hal ini menunjukkan tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya susu sudah semakin membaik. Oleh karena itu diperlukan peningkatan penyediaan susu di dalam negeri yang sampai saat ini masih lebih banyak ditunjang oleh susu impor. Pemerintah perlu meningkatkan volume susu dari peternak lokal agar porsi bisnis susu ini juga menguntungkan bangsa sendiri. Inovasi yang sebaiknya dilakukan pemerintah adalah memberikan modal atau kredit bagi peternak lokal, penyuluhan agar peternak dapat meningkatkan kualitas susu dan upaya mempertemukan peternak dengan industri pengolahan susu agar dapat menyerap produksi susu lokal.

Selain dari sisi ketersediaan, peningkatan konsumsi susu juga perlu ditunjang oleh perluasan pasar susu itu sendiri. Cara yang dapat dilakukan adalah edukasi terhadap masyarakat dengan tidak hanya mengandalkan iklan komersial di media seperti yang umumnya sekarang dilakukan tetapi juga melalui tokoh-tokoh yang didengar di masyarakat seperti bidan, ibu PKK, posyandu, puskesmas dan lain-lain. Pendekatan melalui tokoh-tokoh tersebut amatlah strategis karena mereka adalah key opinion leader di komunitasnya terutama di masyarakat desa masih amat kental dengan tradisi guyub.

Inovasi yang tidak kalah penting adalah inovasi nutrisi di dalam kandungan susu itu sendiri yang dapat mendukung pertumbuhan anak-anak. Susu tersebut harus mengandung zat gizi makro dan mikro. Zat gizi makro adalah zat-zat gizi yang dibutuhkan dalam jumlah besar oleh tubuh yaitu karbohidrat, protein, dan lemak. Walaupun anak-anak dapat memperoleh zat-zat gizi tersebut dari sumber makanan lain tetapi setidaknya ada dua zat yang perlu dikonsumsi anak melalui susu yaitu asam linoleat (LA) dan inulin. Asam linoleat adalah asam lemak esensial yang berfungsi sebagai pendukung pertumbuhan tubuh, menjaga fungsi kulit berjalan baik dan memelihara metabolisme tubuh[2]. Sedangkan inulin adalah senyawa karbohidrat yang dapat merangsang pertumbuhan bakteri baik di dalam usus sehingga mampu membantu mempertahankan fungsi saluran cerna. Selain itu, inulin dapat mendorong penyerapan kalsium dan produksi vitamin B [3].

Selain zat gizi makro sebagaimana dijelaskan di atas, susu pertumbuhan hendaknya harus mengandung zat gizi mikro yang terdiri dari vitamin dan mineral. Pada umumnya susu pertumbuhan yang ada saat ini sudah mengandung berbagai vitamin yang dibutuhkan seperti vitamin A, D, E, K, C dan B. Adapun mineral yang amat penting terkandung di dalam susu adalah zat besi dan kalsium. Zat besi berguna untuk menghindari anemia dan membantu pengikatan oksigen dalam darah sehingga membantu proses terbentuknya energi untuk mendukung aktivitas anak [4] sedangkan kalsium berperan dalam pertumbuhan dan kekuatan tulang. Zat gizi mikro lainnya yang amat penting terkandung dalam susu adalah kolin yang merupakan bahan dasar untuk membuat zat kimia pembentuk memori otak yang dikenal dengan acetylkolin. Selain itu, kolin juga berperan penting dalam pembentukan membran-membran sel di seluruh tubuh [5].

Walaupun telah memiliki nutrisi yang baik sebagaimana disebutkan di atas, terdapat sebagian anak yang tidak dapat mengonsumsi susu karena menderita lactose intolerant. Lactose intolerant adalah kondisi kekurangan enzim lactase pada suatu individu sehingga tidak dapat mencerna lactose yang umumnya terkandung di dalam susu sapi. Hal ini biasanya ditandai dengan perut kembung, mual dan muntah-muntah. Untuk itu perlu dilakukan inovasi berupa penganekaragaman sumber protein salah satunya dengan menggunakan kedelai. Susu kedelai tidak mengandung laktosa melainkani sukrosa dan sirup jagung yang mudah dicerna, jadi aman untuk diberikan kepada bayi.

Tidak cukup dengan memiliki susu dengan nutrisi yang baik, kehalalan susu berikut dengan nutrisi yang ditambahkan ke dalamnya juga harus terjamin. Isu halal ini menjadi amat penting dan relevan karena menurut survei BPS pada 2005 jumlah anak yang bergama Islam pada usia 0-9 tahun mencapai 87% [6]. Yang menjadi masalah saat ini adalah sumber susu dan ingredient lainnya masih kita dapatkan dari industri pangan di luar negeri yang belum tentu memperhatikan faktor kehalalan ini. Menurut catatan FAO [7] negara-negara penghasil susu terbesar di dunia yaitu India, USA, China, dan beberapa negara lainnya sebagaimana diagram di bawah ini. Indonesia umumnya mengimpor susu dari Australia, Perancis, dan Selandia Baru [8].

Whey yang merupakan produk samping pembuatan keju umum digunakan sebagai ingredient produk susu olahan. Whey digunakan sebagai ingredient karena memiliki kandungan laktosa dan protein yang tinggi. Dalam proses pembuatan keju, enzim rennet digunakan untuk menggumpalkan susu. Bagian padat yang dihasilkan disebut keju sedangkan bagian cair disebut whey. Enzim rennet yang digunakan tersebut berasal dari lambung anak sapi. Titik kritis kehalalan whey ini terletak pada cara penyembelihan sapi tersebut. Jika sapi tersebut tidak disembelih menurut syariah Islam maka whey tersebut menjadi haram.

Selain whey, berbagai jenis vitamin, mineral, flavor yang ditambahkan pada susu juga perlu diperhatikan kehalalannya. Titik kritis pertama pada berbagai ingredient tersebut adalah sumbernya. Jika bersumber dari hewan maka perlu dipastikan harus berasal dari hewan yang tidak dilarang syariah [9]. Kemudian setelah dipastikan berasal dari hewan yang dibolehkan syariah, cara penyembelihan hewan tersebut menjadi titik kritis berikutnya. Mengingat luasnya cakupan bahan yang digunakan dalam industri susu maka upaya sertifikasi halal pada industri penyuplai susu dan ingredient-nya pada negara-negara tersebut penting dilakukan untuk menjamin hak-hak konsumen.

Pada akhirnya untuk mendukung pertumbuhan anak Indonesia dibutuhkan inovasi pada susu dan susu inovasi. Inovasi pada susu meliputi peningkatan produksi susu lokal dan edukasi masyarakat melalui key opinion leader untuk memperluas paparan susu. Selain itu, dibutuhkan susu inovasi yang mengandung zat-zat gizi esensial sehingga dapat menunjang kesehatan dan pertumbuhan anak. Upaya sertifikasi halal mutlak diperlukan terhadap penyuplai industri susu dalam negeri.

Referensi:
[1] http://www.antaranews.com/berita/316707/konsumsi-minum-susu-anak-indonesia-meningkat
[2] http://web.ipb.ac.id/~tpg/de/pubde_ntrtnhlth_aspekgiziale.php
[3] http://industri09nanda.blog.mercubuana.ac.id/2011/01/08/tumbuhan-indonesia-sebagai-sumber-inulin/
[4] http://siswa.univpancasila.ac.id/rully/2011/01/12/apa-kegunaan-zat-besi/
[5] http://www.mediaindonesia.com/mediahidupsehat/index.php/read/2010/07/04/2815/9/Mengenal-Manfaat-Kolin
[6] Survei Antar Sensus Badan Pusat Statistik/BPS, 2005
[7] http://www.fao.org/fileadmin/templates/ess/ess_test_folder/Publications/yearbook_2010/b12.xls
[8] http://feryanto.wk.staff.ipb.ac.id/2010/05/20/susu-komoditi-potensial-yang-terabaikan/
[9] http://www.halalmui.org/newMUI/index.php/main/detil_page/8/727/30/

Pajak

Sejak zaman Robin Hood pajak sudah menjadi suatu isu dalam kehidupan masyarakat. Banyak kisah raja-raja lalim yang membebani rakyatnya dengan pajak yang tinggi sementara mereka hidup bermewah-mewah. Hal ini tentu saja membuat rakyat jengah dan berontak sementara sebagian lain tetap saja tak mampu melawan dan hidup dalam kesengsaraan. Walau sudah berabad berlalu dari latar waktu cerita-cerita itu, pajak masih saja menjadi isu dalam kehidupan kita, termasuk di negara yang kita cintai, Indonesia.

Cerita mengenai pria berikut ini
agaknya sudah cukup menggambarkan betapa carut marutnya kondisi perpajakan di negeri ini dengan segala kasus korupsi yang menyertainya.

Tidak sedikit dari rekan kerja atau bahkan beberapa seniorku mengeluhkan potongan pajak atas gaji mereka. Sepanjang yang saya ketahui ada beberapa tingkat pajak sesuai dengan penghasilannya. Saya sendiri dikenakan pph 5% atas gaji yang saya terima. Kerisauan atas potongan pajak ini menurutku sebenarnya lebih dari sekedar besarnya potongan saja tetapi lebih dari itu, yaitu sebuah pertanyaan kemanakah pajak yang mereka ambil itu bermuara? Celakanya foto ini menambah kegalauan kita.

Mengenai pajak ini aku juga punya pengalaman tersendiri saat berada di Washington DC. Saat itu aku membeli kartu pos dan gantungan kunci seharga total $4. Aku ambil 4 lembar $1 dari dompet saat kasir mengatakan bahwa saya harus membayar lebih dari $6 kalau tidak salah ingat. Begitu saya terima bon pembelian ada satu baris yang membuat pertanyaanku terjawab. TAX.

Berbeda dengan di Indonesia, Amerika membebani rakyatnya dengan pajak yang beragam dan rata-rata lebih tinggi daripada di Indonesia. Oleh karena itu, kenaikan pajak menjadi isu tiap kali pemilihan presiden. Namun, di Amerika pajak yang sejatinya menjadi alat pemerata pembangunan dan penyejahtera masyarakat benar-benar di aplikasikan. FYI, pajak penghasilan di USA sebesar lebih dari 15% sehingga jika kita kerja part time di cafetaria dengan penghasilan $100 per pekan maka yang akan kita terima hanya sebesar $85 saja. Saya pernah bertanya mengenai besarnya potongan ini tidakkah memberatkan mereka. Jawaban mereka sederhana saja pendidikan untuk anak-anak mereka gratis, subsidi untuk orang cacat dan pengangguran memadai, akses jalan yang baik, listrik yang cukup, koneksi internet yang melimpah rasanya cukup menjawab kemanakah perginya pajak mereka.

Selepas mendengar jawaban mereka, aku kembali teringat dengan kondisi nusantara. Betapa sulitnya akses jalan, dermaga yang penuh, kereta yang tak terurus, pendidikan yang mahal, listrik yang byar pet dan silakan lanjutkan sendiri daftar ini. Tapi aku ingin mengakhiri daftar ini dengan harapan bahwa negara ini dapat berbuat banyak dengan menggarap pajak dengan jujur dan profesional. Tetaplah bayar pajak.

Melompat

Ada suatu ketika saat kita dalam keadaan melompat. Keadaan saat kita tidak bersentuhan dengan bumi, berada di udara, di atas ketinggian dan menyenangkan. Saat itu mungkin begitu sebentar tapi begitu penting juga menyenangkan. Aku sendiri beberapa kali sengaja meminta kawanku mengambil gambarku dalam keadaan melompat. Walau kadang melelahkan tapi buatku melompat itu menyenangkan.

Melompat itu melelahkan karena tentu kita butuh energi yang lebih banyak ketimbang berjalan apalagi berdiam diri. Namun, melompat juga menyenangkan karena pada saat itu kita berada di sebuah elevasi yang di atas normal. Kondisi yang membawa kita bergerak ke atas. Rasa-rasanya lompatan hampir selalu membawa senyuman.

Dalam hidup ini juga ada fase-fase yang kita namakan lompatan. Aku sendiri mengartikan lompatan dalam hidup adalah masa saat kita mengalami perubahan signifikan yang positif karena satu atau rangkaian peristiwa dalam hidup. Tiga masa yang paling tinggi lompatannya dalam hidupku mungkin berada di SMP, SMA, masa asrama PPSDMS haha (masih anak2 banget ya). Kenapa ketiga fase itu? SMP karena di sanalah aku bergelut dengan banyak aktivitas mulai dari pramuka, OSIS, akademik, paskibra dll. Rangkaian kegiatan itu membuat aku menjadi keluar dari sosok lamaku dan mulai tumbuh menjadi sosok baru yang aktif, dapat berpendapat, inisiatif dll. Bumi perkemahan Cibubur rasanya sudah menjadi halaman belakang kami hari-hari itu.

Fase kedua adalah masa-masa awal berada di SMA. Pada fase itu aku seperti menemukan kembali mengapa aku berIslam dan menemukan banyak pengenalan dengan diri sendiri melalui berbagai macam bacaan. Waktu ketika aku menemukan teman-teman yang punya komitmen yang serupa, berkenalan dengan sosok idelis dan berada dalam semangat yang amat tinggi. Fase ketiga adalah saat masa-masa awal masuk PPSMDS. Pada saat itu aku dan kawan-kawan seperti terus menerus memiliki semangat berlebih untuk melakukan segala hal. Pada saat yang sama aku menjabat sebagai presiden asrama dan Ketua BEM Fateta. Masa itu memberiku petualangan belajar yang sangat signifikan.

Ketiga fase itu membawa aku dalam proses belajar dan berlatih sehingga aku elevasi pengetahuan, pengalaman, keahlian, dan jaringanku bertambah. Aku merindukan masa-masa seperti itu karena pada akhirnya aku menjadi sosok yang lebih baik. Saat ini memang bukanlah waktu untuk menunggu kawan, kita harus mengejar tiap kesempatan datang. Kalau tidak kita yang cipatakan peluang. Perubahan terus berlangsung tiap detik dan berjalan saja tidak pernah cukup kita harus melompat!

Binatang Buatan Jansen

Semasa saya kecil dulu, ayah selalu menyempatkan diri untuk bercerita sebelum saya tidur. Ia biasa bercerita mengenai cerita rakyat atau dongeng dari negeri antah berantah dengan makhluk-makhluk yang tak pernah ada di bumi seperti buto ijo, pegasus, laba-laba raksasa dan lain-lain. Makhluk imajinasi seperti itu saat ini lebih banyak kita temui di komik atau buku cerita. Sama seperti yang mungkin Anda pikirkan, saat ini kita amatlah sulit bahkan mustahil menemukan makhluk-makhluk fantasi seperti itu apalagi untuk menciptakannya. Namun, persepsi saya itu berubah setelah saya melihat “binatang” buatan Jansen yang ia sebut sebagai Animari dalam video di bawah ini.

Animari adalah hasil riset dari seorang seniman sekaligus ilmuwan Belanda yang cerdas dan kreatif bernama Theo Jansen. Ia pernah mengeyam pendidikan di jurusan Fisika, University of Delft lalu beralih menjadi seorang pelukis profesional sebelum akhirnya memulai proyek-proyek yang menggabungkan antara seni dan teknologi. Salah satu proyek tersebut adalah pembuatan piring terbang berdiameter 4 m yang diisi dengan helium sehingga dapat terbang dan diperkirakan mendarat di Belgia setelah diluncurkan. Proyek itulah yang menginspirasi Jansen untuk membuat Animari dari tabung-tabung PVC pada 1990.

This slideshow requires JavaScript.

Animari memang tidak terlahir dari persilangan dari dua makhluk yang sudah ada, mutasi gen bertahun-tahun seperi X Men, atau secara tak sengaja dari makhluk yang terpapar sinar gamma seperti Hulk tetapi dari tabung-tabung PVC yang dirangkai sedemikian rupa sehingga melahirkan mekanisme gerak yang menyerupai makhluk hidup sesungguhnya. Pada awalnya kerangka yang dibuat oleh Jansen tidak memiliki sendi yang kuat sehingga susunan PVC itu tidak bisa berjalan bahkan berdiri sekalipun. Kemudian ia membuat model komputer untuk menentukan cara terbaik agar hewannya ini dapat bergerak. Sejatinya mekanisme gerak ini sama halnya dengan cara kerja roda yang memiliki sumbu yang tetap berada pada level yang sama. Jansen menggunakan apa yang ia sebut sebagai 11 nomor suci untuk menghitung proporsi jarak antar tabung di dalam Animari tersebut sehingga mampu berjalan seperti mekanisme gerak roda.

Animari memanfaatkan angin secara langsung atau menyimpannya sementara untuk bergerak kemudian. Sebagaimana terlihat di dalam video di atas animari dapat bergerak ketika angin yang bertiup menggerakkan baling-baling atau sayap-sayap plastik di sisi tubuhnya. Jansen juga menciptakan mekanisme penyimpanan udara di dalam rongga perut binatang itu yang terdiri dari botol-botol limun. Angin akan memompa udara di dalam botol-botol tersebut yang kemudian dapat menghasilkan tekanan udara yang tinggi dan menggerakkan seluruh tubuh animari tersebut. Coba lihat video ini

Tidak berhenti sampai di sana, Jansen juga menciptakan kecerdasan buatan sederhana yang membuat binatang-binatang tersebut dapat mengambil keputusan atas kondisi lingkungan yang dihadapinya seperti laut dan badai. Pada video di awal tulisan ini Jansen menunjukkan bagaimana Animari dapat menjauhi laut saat kakinya menyentuh air melalui pendeteksi air yang akan menghasilkan daya lawan untuk menjauhi laut saat tabung menyedot air. Pada Animaris Percipiere, Jansen memasang detektor badai pada bagian hidungnya sehingga pada saat badai datang Animari dapat menancapkan pasak ke tanah untuk membuatnya tetap bertahan di daratan.

Sungguh kreatif bukan tuan Jansen ini? Saya yakin kelak binatang-binatang buatan Jansen ini akan memberi manfaat lebih banyak bagi manusia khususnya di bidang energi dan transportasi.

Sumber:
1. http://www.ted.com/talks/lang/en/theo_jansen_creates_new_creatures.html
2. http://en.wikipedia.org/wiki/Theo_Jansen
3. http://www.strandbeest.com/theo_cv.php
4. http://www.strandbeest.com/theo_ufo.php
5. http://www.strandbeest.com/beests_storage.php
6. http://www.strandbeest.com/beests_leg.php
7. http://weburbanist.com/2008/10/11/unbelievable-kinetic-sculptures-of-theo-jansen/
8. http://weburbanist.com/2008/10/11/unbelievable-kinetic-sculptures-of-theo-jansen/9-theo-jansen-strandbeest/
9. http://weburbanist.com/2008/10/11/unbelievable-kinetic-sculptures-of-theo-jansen/7-theo-jansen-strandbeest/
10. http://weburbanist.com/2008/10/11/unbelievable-kinetic-sculptures-of-theo-jansen/6-theo-jansen-strandbeest/
11. http://weburbanist.com/2008/10/11/unbelievable-kinetic-sculptures-of-theo-jansen/5-theo-jansen-strandbeest/
12. http://www.mekanizmalar.com/theo_jansen.html
13. http://www.artificial.dk/articles/theojansen.htm
14. http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=38iyEttxc44
15. http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=PG2Xv2ivZZU
16. http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=2P7t6qSCg7A

Kohabitasi Bukan Solusi

Hidup berpasangan memang menjadi fitrah manusia. Banyak riset yang telah membuktikan bahwa pernikahan sebagai wadah legal kehidupan bersama berdampak positif bagi kehidupan seseorang baik secara fisik maupun psikologis 1). Namun, untuk sebagian orang pernikahan menjadi sebuah wadah alternatif saja untuk hidup berpasangan dengan berbagai alasan tentunya. Mereka hidup berpasangan dalam satu tempat tinggal tanpa adanya ikatan pernikahan yang umum dikenal sebagai kohabitasi. Sebagian dari mereka terus menerus menjalani kehidupan bersama tanpa adanya ikatan tetapi sebagian yang lain menggunakan kohabitasi sebagai metode persiapan diri sebelum masuk ke jenjang pernikahan yang lebih serius dan penuh dengan tanggung jawab. Mereka khawatir gagal dalam membina rumah tangga dan menjadikan kohabitasi sebagai cara untuk menghindari perceraian. Pertanyaannya bagiku adalah apakah kohabitasi tersebut menjadi solusi yang benar-benar relevan?

Saya sendiri pernah menyaksikan pasangan muda yang menjalani kohabitasi. Saat itu saya masih berkuliah di Ohio University pada tahun 2010 yang lalu. Selama berkuliah di sana saya dan mahasiswa Indonesia lainnya tinggal di asrama kampus bersama dengan mahasiswa Amerika (native American). Saat itu saya tinggal sekamar dengan sebut saja Alex (20) yang berkuliah di mayor olahraga kesehatan. Kami tinggal di sebuah kamar di lantai 2 dengan luas 4 x 4 meter. Fasilitas kamar berupa dua ranjang, dua lemari pakaian, satu kulkas, satu oven microwave, penghangat ruangan, koneksi LAN dan Wifi tak juga membuatnya menghabiskan satu malam pun tinggal di kamar itu. Selama dua bulan saya tinggal di asrama kampus itu Alex tidak pernah tinggal di kamar kami tetapi selalu di kamar kekasihnya, sebut saja Megan (19).

Suatu hari saya pernah dikenalkan dengan Megan di kamarnya yang satu lantai dengan kamar kami tetapi hanya berbeda lorong saja. Saya terkejut saat mengetahui bahwa kamar Megan hanya setengah luasnya dari kamar kami. Hanya terdapat satu ranjang, satu meja, dan satu lemari. Mereka hampir sepanjang waktu menghabiskan waktunya di luar ruang kuliah di dalam kamar itu. Aku tidak membayangkan betapa sumpeknya di sana terlebih lagi dengan barang-barang di ranjang yang berantakan. Di tempat itulah Alex biasa tinggal dan kembali ke kamar kami sekedar mengambil pakaian dan beberapa buku sebelum berangkat kuliah. Demikianlah selama dua bulan aku tinggal di sana.

Ternyata hal seperti itu bukan pengalamanku saja. Beberapa mahasiswa Indonesia lain juga memiliki pengalaman yang serupa walau tidak persis sama. Agaknya kohabitasi semakin jamak di negeri Paman Sam. Hal ini adalah salah satu poin yang diungkapkan oleh artikel di website VOA (29/03/2012) yang berjudul Hidup Bersama Tak Jamin Pernikahan Langgeng. Di dalam artikel itu dikatakan bahwa kohabitasi pada tahun 1960 hanya sebesar 10% saja sedangkan saat ini tingkat kohabitasi sudah mencapai 60% di antara pasangan di Amerika sebelum mereka menikah. Walaupun tingkat kohabitasi semakin tinggi tetapi tingkat perceraian juga tidak bisa dikatakan rendah. Menurut data dari DivorceRate2011.com 2) saat ini sebesar 41% dari pernikahan pertama di Amerika mengalami perceraian. Kemudian sebesar 60% dan 71% pasangan di Amerika bercerai pada pernikahan kedua dan ketiga. Artikel yang dimuat VOA di atas juga mengungkapkan bahwa mereka yang bertunangan dan tinggal satu atap sebelum menikah, kemungkinan pernikahannya bertahan hanya 15 tahun, hal itu sama seperti pasangan yang sebelumnya tidak tinggal satu atap. Data itu menunjukkan bahwa kohabitasi yang digunakan untuk lebih mengenal pasangan sebelum menikah ternyata tidak sepenuhnya efektif mencegah perceraian.

Tingkat kohabitasi di Indonesia mungkin tidak setinggi dibandingkan di Amerika Serikat dan hal tersebut masih dianggap masyarakat sebagai suatu hal yang melanggar norma-norma. Sejauh ini saya belum menemukan seberapa besar tingkat kohabitasi di negera ini. Namun, kita perlu mencermati fenomena hamil di luar nikah yang semakin merebak khususnya di kalangan selebritis Indonesia. Dalam satu tahun mungkin ada sekitar 2-3 selebritis perempuan yang diberitakan hamil sebelum menikah. Sebagian dari mereka justru tidak menikah sampai melahirkan anaknya. Di sisi lain, saat ini juga semakin merebak perceraian di kalangan selebritis. Walau mereka yang bercerai belum tentu yang pernah berkohabitasi sebelumnya tetapi fenomena ini perlu mendapat perhatian karena mereka adalah public figure yang dapat menjadi role model yang buruk bagi masyarakat dan boleh jadi mewakili kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Terlebih lagi dewasa ini pergaulan bebas di antara muda-mudi Indonesia semakin marak terjadi yang ditandai dengan berbagai berita mengenai aborsi, video porno, penyimpangan seksual dan lain-lain. Oleh karena itu, praktik pergaulan bebas seperti kohabitasi perlu ditekan dan tidak menjadi solusi akan kekhawatiran kegagalan pernikahan karena tidak mengenal pasangan.

Mengenai tingkat perceraian di Indonesia, Kementerian Agama mencatat bahwa telah terjadi kenaikan tingkat perceraian di Indonesia selama satu dekade terakhir dari sebanyak 20.000 kasus menjadi 200.000 kasus per tahun. Penyebab utama dari peningkatan tersebut adalah semakin independennya perempuan secara ekonomi. Di samping itu arus informasi yang semakin deras mengenai hak-hak perempuan di dalam pernikahan juga mendorong peningkatan tersebut 3). Jika kita kaitkan penyebab utama tersebut dengan kohabitasi sebagai obatnya maka memang tampak jelas bahwa terjadi ketidaksesuaian antara penyakit dan obatnya. Pertanyaannya kemudian adalah jika kohabitasi bukan solusi dalam kelanggengan pernikahan, lalu apa solusinya?

Sebelum menikah tentu kita harus mengenal pasangan kita dan itu tidak harus dengan kohabitasi. Berkunjung kepada keluarganya, bertanya pada teman-teman dekatnya, dan tentunya berkenalan dengan calon pasangan dapat menjadi jalan yang aman. Tidak cukup sampai di sana saja, visi dalam pernikahan juga perlu dibangun. Richard Settersten Jr, yang melakukan riset terhadap pasangan yang telah menikah lebih dari 20 tahun sebagaimana dimuat di artikel VOA di atas mengatakan bahwa komitmen kedua pasangan dalam pernikahan tersebut juga menjadi kunci kelanggengan. Hal ini mengenai mimpi dan keyakinan yang kuat mengenai masa depan pasangan tersebut. Kecukupan secara finansial merupakan hal yang perlu dipersiapkan untuk menunjang kehidupan dan membawa kepada kemandirian. Pada akhirnya kedekatan kita dengan Tuhan secara spiritual juga memegang andil dalam pernikahan karena di dalamnya tidak semata mengenai aktivitas biologis melainkan juga spiritual dan pembangunan aspek nilai dan moral.

Sumber:
1) 6 Manfaat Kesehatan yang Didapat dengan Menikah. http://wolipop.detik.com/read/2011/11/14/173526/1767207/1135/6-manfaat-kesehatan-yang-didapat-dengan-menikah
2) Hidup Bersama Tak Jamin Pernikahan Langgeng. http://www.voaindonesia.com/content/hidup_bersama_tak_jamin_pernikahan_langgeng/110775.html
3) Indonesian divorce rate surges http://news.bbc.co.uk/2/hi/asia-pacific/7869813.stm
4) Gambar 1 http://divorceattorneys.wordpress.com/tag/cohabitation-agreements/
5) Gambar 2 http://womenonthefence.com/2012/04/04/tips-for-co-parenting-after-divorce/

Son Goku (孫 悟空)

Teman-teman tentu sudah mengenal sosok yang satu ini. Son Goku adalah tokoh utama dalam serial Dragon Ball. Sebagai seorang ksatria petarung dia memiliki keunikan karena selalu memiliki antusiasme dalam bertarung terutama saat dia berhadapan dengan lawan yang lebih tanggukh darinya. Selain itu, ia akan menjadi jauh lebih kuat saat hampir saja kalah dan mati. Keunikan tersebut didapatkannya secara natural karena ia berdarah suku saiya.

Lebih dari sekedar karena berdarah saiya, saya percaya bahwa sesungguhnya peningkatan kekuatan tersebut terjadi karena ada proses belajar yang ia alami. Proses belajar itu membuat Goku dapat memahami lawan lebih baik dan meningkatkan teknik-tekniknya secara perlahan. Dalam proses belajarnya tersebut tidak jarang ia mengalami masa-masa yang sulit dan pahit tetapi ia terus belajar dan berjuang dengan penuh antusiasme. Antusiasme inilah yang memberinya semangat yang lebih dan kekuatan untuk bertahan walau itu berada pada masa yang amat sulit. Setelah proses itu selesai ia terlahir kembali menjadi petarung yang jauh lebih hebat.

Seperti halnya dengan Goku, kita sebagai manusia juga memiliki kemampuan belajar yang dapat membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Kemampuan belajar inilah yang juga membuat kita dapat bertahan serta tumbuh berkembang hingga hari ini. Hanya saja setiap orang memiliki kemampuan belajar yang berbeda satu sama lain. Ada yang sejak awal dianugerahi bakat yang lebih baik dari yang lain sehingga dapat lebih baik menghapal, menghitung, menulis dan lain-lain. Pada aspek ini kita tidak dapat berdiskusi lebih jauh karena hal ini bersifat given dari Tuhan. Adapun hal yang lebih baik kita diskusikan adalah ketahanan dan semangat kita dalam belajar. Ada sebagian orang yang dapat dengan mudah menyerah saat menemukan kesulitan. Sebagian yang lain justru sulit menerima masukan dan perubahan; enggan mempelajari hal-hal yang baru. Hal-hal seperti inilah yang membuat kita terbatasi dan sulit berkembang.

Di sisi lain ada pula orang yang membuka diri akan hal-hal baru. Rela menyediakan waktu untuk belajar dari awal dan bertahan dalam kesulitan. Mereka juga antusias dalam belajar bahkan tidak hanya dari balik meja tetapi juga turun ke lapangan untuk merasakan pengalaman secara langsung. Demikianlah yang dilakukan oleh Goku. Ia begitu antusias dalam belajar. Dalam beberapa episode diperlihatkan bagaimana Goku berguru kepada Karin, Dewa yang jadi Saudaranya Picolo, juga Dewa yang ada di alam Baka. Semua proses tersebut dilakukan dengan sabar dan semangat. Hasilnya dia menjadi sosok yang lebih hebat setelah selesai menjalani proses belajar itu.

Perlu diingat kawan-kawan,
Setiap alternatif dapat kita pilih tetapi konsekuensi atas tiap alternatif itu tidak bisa dipilih; ia melekat pada tiap pilihan. Jika sukses menjadi pilihan kita maka pastikan diri siap menghadapi terik tantangan dan bertahan pada tiap proses pembelajaran.

Salam sukses!!!