The Good Die Young

Pekan terakhir ini berita media massa di berbagai belahan dunia masih membahas kecelakaan tragis yang menimpa pebalap Marco Simonceli. Ia tewas dalam sebuah kecelakaan tragis di GP Sepang, Malaysia yang lalu. Pebalap yang digadang-gadang bakal menjadi penerus Valentino Rossi ini meninggal di usia yang terbilang masih hijau, 24 tahun.

Yang baik mati muda. Demikian kira-kira terjemahan dari judul lagu Scorpion yang sempat hits bertahun-tahun yang lalu. Merujuk pada judul lagu itu orang-orang baik memang ditakdirkan mati muda. Soe Hok Gie yang juga mati muda pada usia 27 tahun pernah menulis dalam buku hariannya sebagai berikut.
“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Saya sendiri mau berdiri di seberang pendapat itu. Rasanya begitu naif menilai kebaikan seseorang lewat umurnya saja. Yang muda pasti lebih baik dari yang tua atau sebaliknya. Lagi pula hidup itu bergerak dan berubah. Terlepas dari kebaikan/keburukan apa yang kita punya hari ini, Allah masih memberi kesempatan kepada kita untuk berubah menjadi lebih baik selama masih ada ruh dalam raga, Terlebih lagi usia adalah rahasia Allah yang tak akan pernah bocor kabarnya ke telinga manusia dan tugas kita adalah beramal sebaik mungkin untuk mencapai ridho-Nya.

Namun, saya juga ingin membuka paradigma baru dari istilah the good die young ini. Saya tidak ingin menerjemahkan the good sebagai sosok manusia melainkan prinsip atau idealisme. Sehingga istilah tersebut saya maknai bahwa idealisme bisa mati di usia yang teramat muda. Mati dalam kondisi yang teramat muda karena terus mengalami benturan, degradasi, pertentangan dan sebagainya. Sebabnya bisa macam-macam seperti perubahan orientasi, pragmatisme, rutinitas kerja dan lain sebagainya.

Sebaik apapun seseorang, kemungkinan besar idealismenya dapat akan mati, melebur atau tersisih di tengah arus yang bertentangan dengan prinsipnya. Lihat saja pemberitaan korupsi yang setahun terakhir diberitakan mulai dari Gayus, Nazarudin, dan dugaan suap di internal partai dan beberapa kementerian. Mereka yang terlibat dalam kasus-kasus seperti itu adalah para pemuda yang seharusnya dapat menjadi motor pembangunan. Namun, kini justru mereka yang menghambat laju pembangunan itu sendiri. Tanpa bermaksud merendahkan tetapi mungkin mereka contoh yang relevan untuk istilah the good die young itu. Mereka belum mati tapi idealismenya sudah wafat.

Untuk mencegah hal tersebut kita butuh penguatan yang hadir bersama dengan orang-orang yang memiliki idealisme dan mimpi yang sama. Maka penting untuk kita hadir pada majelis-majelis yang mampu menguatkan idealisme kita. Bentuknya bisa bermacam-macam seperti pengajian rutin di lingkungan rumah atau kantor, perkumpulan teman yang memiliki hobi yang sama, perkumpulan aktivis yang memiliki perhatian pada masalah-masalah kekinian yang ada di masyarakat seperti koin untuk Prita dan kasus Darsem, serta perkumpulan lainnya . Poin terpenting dari pertemuan-pertemuan seperti itu adalah berbagi cerita, harapan, dan mimpi masing-masing, sehingga begitu kita keluar dari forum itu untuk melanjutkan aktivitas, kita kembali memiliki gairah, semangat, dan tujuan yang jelas.

Ada banyak gerakan kaum muda saat ini yang berusaha mempertahankan dan mewujudkan idealisme mereka sebut saja @coinachance yang berusaha menyekolahkan anak-anak tidak mampu dengan uang receh yang mereka kumpulkan. Sekecil apapun yang telah mereka sumbangkan dampaknya sangat berarti bagi lingkungan mereka dan semakin menguatkan the good di dalam mereka.

Sumpah Pemuda 83 tahun yang lalu menjadi bukti yang lebih dahulu berhasil mempersatukan idealisme, mimpi, harapan, dan cita-cita kaum muda demi suatu hal yang baru terjadi 17 tahun kemudian, yang kita sebut dengan MERDEKA. Semoga kita dikuatkan untuk bisa mempertahankan the good dalam diri kita. Kita tidak pernah tahu sampai di mana umur kita akan sampai, tapi semoga idealisme itu tetap hidup dan terwarisi hingga walau raga ini mati lebih dulu, idealisme dan mimpi kita akan diteruskan dan hidup bersama jiwa-jiwa berikutnya. Mungkin 17, 20, 30 atau 50 tahun lagi kelak akan muncul kebangkitan baru, Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

also see this

Commitment

Aku teringat pada sebuah wawancara kerja yang aku jalani sebelum mendapatkan pekerjaanku saat ini. Setelah menyisihkan ratusan pelamar akhirnya aku masuk ke tahap wawancara yang menyisakan 30 orang saja. Wawancara itu berlangsung dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Menjelang wawancara berakhir, Ibu HRD bertanya, “what value that can help you to get what you have achieved today?” I answered,”commitment”. When I commited to something I’ll give my best effort, performance and anything that I have to accomplish what I’ve promised. When I am in the class, I study. I cut any other option to do, only study. But when I do my other activity, I cut other option that can bother me. Ibu HRD itu mengangguk-angguk lalu membuat catatan kecil di kertasnya. Beberapa pekan berikutnya aku dihubungi mereka kembali, aku lolos ke tahap berikutnya.

Teman-teman sekalian, kita perlu sadari setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Ubahlah kekuranganmu sejauh yang kau bisa dan bersabarlah pada kekurangan yang tak bisa engkau ubah (given from God). Lalu jangan berhenti dan berendah diri apalagi meratapi nasib. Allah pasti juga membekali kita dengan kelebihan. Temukan kelebihanmu dan asahlah terus hingga menjadi sesuatu yang bisa kau andalkan baik untuk dirimu terlebih lagi bermanfaat bagi orang-orang di sekitarmu.

Yang sering terjadi mungkin adalah kita tidak bersabar pada kekurangan kita dan tidak berkomitmen pada apa yang Allah lebihkan pada diri kita. Perlu diketahui bahwa sebelum menjuarai Tour d France, Lance Amstrong divonis kanker. Ia bersabar dengan apa yang ditakdirkan Tuhan dan fokus pada keahliannya bersepeda. Ia berkomitmen pada latihannya hingga akhirnya menjadi juara Tour d France selama 7 tahun. Alfa Edison kecil juga disebut autis oleh tetangganya. Ibunya dengan sabar memberinya pelajaran sekolah karena sekolah umum tak menerimanya. Dengan kerja keras dan komitmen yang kuat, saat ini dia adalah salah seorang ilmuwan dengan jumlah paten terbanyak. Lionel Messi juga divonis mengalami gangguan hormon pertumbuhan, tapi saat ini pada usia yang belum genap 24 tahun dia berhasil menjadi pemain terbaik di dunia dengan tubuh mungilnya itu.

Membuat keputusan
Tidak banyak orang yang berani bermimpi. Dari sejumlah orang yang berani berani bermimpi tersebut tidak banyak yang berani menjalani proses yang melekat dengan pilihan mimpi tersebut. Mereka tak pernah benar-benar membuat keputusan. Dalam bahasa Inggris keputusan berarti decision. Decision berasal dari bahasa latin yang terdiri dari dua akar kata yaitu de yang berarti dari dan caedere yang berarti memotong. Anthony Robbins menyebut bahwa making a true decision means commiting to achieving a result and then cutting yourself off from any other possibility. Sederhananya saat kita membuat keputusan kita tidak sekedar memilih sebuah tindakan tetapi juga mengahapus pilihan-pilihan lain yang tersedia. Setelah membuat keputusan berkomitmenlah pada keputusan dan resiko yang melekat bersama keputusan tersebut. Karena komitmen tak hanya berarti perjanjian tapi juga bermakna tanggung jawab maka bersiaplah dengan segala proses yang membersamai keputusanmu. Yakinlah dengan proses yang kau jalani! Selama niatmu karena Allah maka percayalah akan janji dan pertolongan Allah yang pasti datang.

Tentang keputusan dan komitmen ini aku punya pengalaman tersendiri. Kala itu aku ‘dilamar’ untuk menjadi ketua BEM Fateta. Hari-hari itu pada tahun 2008 begitu berat bagiku. Saat itu ayah sudah berada di Aceh dan ekonomi keluargaku tak lagi stabil semenjak krisis ekonomi global yang membuat investasi ayah jatuh hingga hampir setengahnya. Saat diminta untuk maju menjadi ketua BEM aku begitu gundah. Yang aku sadari bahwa hari itu aku bukanlah seseorang yang direncanakan untuk menjadi Ketua BEM. Saat itu sudah malam saat aku terduduk sendiri di depan GWW dan memikirkan segala yang terjadi hari-hari itu. Begitu sedih dan berat rasanya. Terlebih aku tahu betul resiko dan tanggung jawab yang mesti aku emban dengan posisi tersebut. Akhirnya aku membuat keputusan: aku maju. Setelah melalui perjuangan yang tidak ringan tim kami menang. Aku diamanahi menjadi ketua BEM F.

Keputusan itu membawaku kepada perjalanan yang tak mudah selama setahun berikutnya tapi aku telah berkomitmen pada apa yang telah aku putuskan. Aku bersyukur akan komitmen itu karena hal itu yang memberi aku energi untuk mendatangi setiap kelas hanya untuk memberi informasi bahwa air mati karena alasan ini dan itu, menemui wakil dekan, dekan, bahkan rektor untuk menyampaikan keberatan mahasiswa akan naiknya SPP, juga menguatkan diriku saat ditolak dan dimarahi salah seorang dosen saat aku hendak membantu menyelesaikan masalah salah seorang mahasiswa yang begitu pelik. Menjelang masa jabatanku aku sungguh malu saat harus meminjam orang tuaku untuk membantu keuangan BEM yang sekarat. Mereka memberi pinjaman dan BEM kembali berjalan dengan berbagai program. Kami berhasil menolong mahasiswa-mahasiswa yang tak sanggup membayar SPP, mengayomi mereka yang dulu jauh dari BEM, memperbaiki mushola, menjalankan beragam program peningkatan softskill, dan beragam program lainnya. Sungguh pengalaman-pengalaman itu sungguh berharga. Saat aku berada diakhir masa jabatanku aku sadar masih banyak kekurangan yang terjadi tapi secara pribadi aku puas dengan apa yang telah kami raih. Hanya kepada Allah saja aku bertawakal setelah apa yang telah kami usahakan.

Masih ingatkah teman-teman akan kisah Rasulullah saat ditawari menjadi raja, diberi kekayaan terbesar dan hendak dinikahkan dengan perempuan tercantik di antara suku Quraisy. Dengan mantap Nabi menjawab,”Meskipun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan ditangan kiriku, agar aku meninggalkan seruanku. Sungguh, sampai mati pun tidak akan kutinggalkan !” Jujur saja aku merinding mendengar jawaban ini. Tapi itu bukan sekedar jawaban itulah keputusan Nabi pada tugas dakwah yang diembannya. Komitmennya pada dakwah akhirnya mampu mengubah jazirah Arab sebagai pusat peradaban dunia dengan Islam sebagai satu-satunya syariah.

Saya ingin membawa bahasan ini pada hal aspek yang lebih kontemporer. Saat masih di Amerika aku melihat fakta tingginya perceraian di sana. Jangankan di Amerika, di Indonesia pun banyak artis yang bercerai. Mengenai hal ini aku menduga bukanlah uang, kecantikan/ketampanan yang menjadi masalah. Mungkin lebih kepada komitmen dan niat mereka untuk menikah. Pekan lalu saat sowan ke asrama PPSDMS aku membaca tugas seorang anak asrama yang menyatakan bahwa setidaknya terdapat tiga pondasi dalam rumah tangga yaitu, cinta, respek, dan komitmen. We need more than love to bring the family to surive. We also need respect and commitment.

Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari cerita yang aku tulis malam ini. Jaga dirimu baik-baik 🙂

Menuju Komunitas ASEAN 2015

Menjelang millenium kedua tepatnya pada tahun 1997, para pemimpin ASEAN berkumpul dan menghasilkan keputusan visioner yang disebut dengan Visi ASEAN 2020 yang mendambakan ASEAN sebagai kawasan yang hidup dalam perdamaian dan kemakmuran dan komunitas yang saling peduli dan terintegrasi dalam pergaulan dunia. Untuk memantapkan hal tersebut dilakukan pertemuan kembali pada tahun 2003 yang menghasilkan Deklarasi Bali Concord II. Hasil terpenting dari pertemuan tersebut adalah upaya mewujudkan tiga pilar utama yaitu ASEAN Political-Security Community, ASEAN Economic Community, ASEAN Socio-Cultural Community [1]. Lebih lanjut lagi pada KTT ASEAN tahun 2007 disepakati percepatan pembentukan komunitas ASEAN dari tahun 2020 menjadi 2015 dalam Deklarasi Cebu, Filipina.

Dari berbagai pertemuan dan deklarasi yang telah dilakukan para pemimpin ASEAN tersebut hingga kini tepat empat tahun sebelum tahun 2015, saat komunitas ASEAN itu dicita-citakan terwujud, belum terlihat suatu upaya dan bentuk nyata menuju komunitas ASEAN tersebut. Keputusan-keputusan para pemimpin negara tersebut masih dalam taraf konsep dan sedikit sekali yang turun dan diterima serta diikuti masyarakat. Namun, upaya menuju terwujudnya cita-cita tersebut bukannya mustahil untuk dikejar. Secara pribadi, saya berharap komunitas ASEAN ini mampu menghasilkan suatu identitas bagi warga ASEAN yang pada akhirnya menimbulkan ikatan di antara negara ASEAN sebagai sebuah entitas yang terintegrasi di dalam pergaulan dunia. Jika hal itu terwujud maka upaya untuk misalnya membuat mata uang ASEAN dan persatuan pertahanan ASEAN seperti halnya euro dan NATO di Uni Eropa bukanlah hal yang mustahil. Berikut ini adalah beberapa buah pikiran saya mengenai harapan, tantangan, dan hal apa saja yang bisa kita lakukan sebagai blogger untuk menjadi bagian demi terciptanya komunitas ASEAN 2015.

“Tetangga adalah saudara yang paling dekat”
Saya teringat saat saya masih SD, Ibu saya tak jarang menyuruh saya untuk menghantarkan makanan ke tetangga-tetangga dekat, sekedar untuk menjalin silahturahmi. Mengapa hal ini Ibu saya lakukan? Tak lain karena tetangga adalah saudara yang paling dekat. Sebaik atau sekaya apapun sanak famili kita tapi jika letaknya berjauhan dengan rumah kita maka pasti akan lebih sulit membantu jika kita mengalami kesulitan. Berangkat dari hal tersebutlah maka Komunitas ASEAN menjadi relevan untuk dikembangkan. Terlepas dari kemajuan teknologi yang membuat jarak semakin tidak berarti komunitas regional ini sangat strategis dikembangkan dalam hal keamanan, ekonomi, dan budaya. Contoh paling sederhana adalah saat kebakaran hutan melanda Sumatera dan Kalimantan yang menyebabkan protes dari Malaysia dan Singapura. Sebaliknya mari kita tengok kembali jumlah tenaga kerja dan mahasiswa Indonesia yang berada di Malaysia dan negara ASEAN lainnya.

Sebelum lebih lanjut membahas komunitas ASEAN, mari kita bahas lebih dulu makna komunitas itu sendiri. Menurut kamus Oxford [2], community berarti a group of people living in the same place or having a particular characteristic in common. Dari pengertian tersebut masyarakat ASEAN telah memenuhi syaratnya yang pertama yaitu tinggal di wilayah yang sama dan memiliki karakteristik yang sama. Secara geografis ASEAN memang berada di kawasan Asia Tenggara dan umumnya berikilim tropis. Kemudian, negara-negara ASEAN juga memiliki karakteristik yang tidak berbeda jauh dalam hal ras dan budaya. Umumnya negara-negara ASEAN adalah orang Melayu dengan karakteristik pertanian yang kuat di masyarakatnya.

Lebih lanjut lagi, ternyata komunitas berasal dari kata berbahasa latincommunitas [3] yang terdiri dari cum yang bermakna bersama dan munus yang bermakna pemberian. Sehingga komunitas dimaknai sebagai kumpulan manusia yang saling berbagi dan berinteraksi atau dengan kata lain adalah persekutuan dan masyarakat yang teratur. Dalam aspek inilah maka ASEAN Blogger dapat berperan amat penting dalam meningkatkan interaksi antara penduduk ASEAN satu sama lain. Dengan interaksi tersebut maka akan terjadi pertukaran ide, gagasan, cita-cita dan harapan di antara penduduk ASEAN sehingga sekali lagi bahwa Komunitas ASEAN bukan sekedar gagasan para elit tapi menyentuh jauh ke setiap individu di setiap negara ASEAN.

Untuk mewujudkan upaya tersebut, ASEAN Blogger perlu mendapat dukungan serius dari pemerintah terkait dengan jaringan koneksi internet di masing-masing negara ASEAN. Beberapa negara memang sudah memiliki tingkat penggunaan internet yang tinggi sebut saja Singapura dan Malaysia yang mencapai 69.6 dan 55.8 per 100 orang penduduk.[4] Di Indonesia sendiri, menurut data Kementerian Komunikasi dan Informatika [5] jumlah pengguna internet pada tahun 2010 lalu sudah mencapai 45 juta pengguna dan diprediksi akan mencapai 120 juta pengguna pada tahun 2015. Hal ini merupakan modal bagi ASEAN Blogger dalam mewujudkan Komunitas ASEAN 2015. Namun, di beberapa negara ASEAN lain angkanya masih teramat rendah sebut saja Myanmar yang hanya sebesar 0.2 dari 100 orang penduduk.


Peran ASEAN Blogger

Dalam kiprahnya kelak ASEAN Blogger dapat berperan setidaknya dalam dua hal yaitu edukasi dan aksi. Pada peran edukasi, ASEAN Blogger dapat menjadi wadah yang strategis bagi ASEAN dalam melakukan sosialisasi berbagai program mereka terkait dengan usaha mewujudkan Komunitas ASEAN pada 2015. Namun, pada aspek yang paling dasar ASEAN Blogger dapat menjadi tempat setiap blogger di ASEAN untuk bertukar ide, gagasan, cerita, pengalaman dan berbagai hal lainnya sehingga interaksi tersebut diharapkan mampu meyakinkan jauh lebih banyak masyarakat ASEAN akan pentingnya Komunitas ASEAN pada 2015. Lebih jauh lagi ASEAN Blogger ini juga dapat awal bagi masyarakat ASEAN untuk menemukan identitas bersama sebagai masyarakat yang berada di kawasan regional yang sama. Hal ini penting karena menjadi dasar untuk kesuksesan berbagai program lainnya.

Kemudian pada peran aksi, saya mengharapkan ASEAN Blogger dapat mewujudkan interaksi yang lebih jauh, mengikat, dan berdampak secara ekonomi dan budaya. Bagaimana caranya? Saya mengimpikan akan terwujudnya ASEANETPRENUER, yaitu komunitas entrepreneur berbasis internet dalam memasarkan produknya. Pada wadah tersebut setiap blogger dari seluruh negara ASEAN dapat melakukan transaksi jual-beli, promosi produk, mencari barang yang dibutuhkan dan lain-lain. Hal ini tentu saja akan berdampak positif dalam berbagai hal seperti peningkatan kesejahteraan masyarakat, meningkatnya jumlah UKM, promosi pariwisata, dan lain-lain. Hanya saja hal ini perlu dibarengi dengan berbagai regulasi yang mendukung akan terwujudnya hal tersebut seperti infrastruktur internet, regulasi dan penegakan hukum di bidang informatika, juga sistem keamanan pada dunia maya.

Pertanyaannya sekarang bagaimana cara memulainya? Lalu dari mana kita dapat memulainya? Menjawab pertannyaan tersebut maka idealnya kita memulai langkah ini dari golongan menengah (middle class). Siapakah golongan menengah ini? Sesuai namanya, golongan menengah ini adalah mereka yang secara ekonomi tidak berada di atas dan tidak berada di bawah. Apa pentingnya memulai ini dari mereka? Golongan menengah ini memiliki peran strategis karena mereka tidak terlalu kaya sehingga berada di atas dan tidak terlalu peduli dengan masyarakat yang berada di bawah. Sebaliknya mereka juga tidak terlalu lemah secara ekonomi sehingga mampu berdaya bagi dirinya sendiri dan orang di sekitarnya. Golongan menengah ini secara karaktersitik juga dinamis sehingga dapat berhubungan dengan golongan atas dan berdaya membantu golongan bawah. Apakah ciri-ciri golongan ini? Menurut Ligwina Hananto[6] pada bukunya Untuk Indonesia yang Kuat golongan menengah ini mempunyai mata pencarian, makan tiga kali sehari dan tinggal di bawah atap baik milik sendiri atau rumah kontrak. Menurut catatan A.C Nielsen sebanyak 10% penduduk Indonesia telah termasuk dalam kelas menengah dengan jumlah sebesar 22.5 juta jiwa. Kitakah yang termasuk dalam kategori tersebut?

Sebelum masuk ke bagian akhir tulisan ini, sesungguhnya ada tantangan lain yang dapat ditemui ASEAN Blogger dalam waktu mendatang, yaitu keragaman bahasa dari 10 negara ASEAN. Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara. Sementara itu negara lainnya memiliki jumlah bahasa resmi yang lebih dari satu dan amat beragam. Sebut saja Malaysia yang menggunakan bahasa Cina, Tamil, dan Inggris selain bahasa Melayu. Belum lagi Thailand yang berbahasa Thai dan Filipina dengan bahasa Tagalog. Vietnam, Laos, dan Kamboja juga memiliki bahasanya masing-masing. Jumlah keragaman bahasa juga akan bertambah jika kita menilik berbagai bahasa yang dipakai aneka suku bangsa di negara-negara tersebut. Untuk mengatasi masalah tersebut, bahasa Inggris dapat menjadi solusi yang dapat dengan cepat diadaptasi karena pengajarannya yang sudah semakin luas dan metode pengajarannya yang terstandarisasi di berbagai negara. Namun, penggunaan bahasa Inggris ini juga jangan sampai menghilangkan keanekaan bahasa yang dimiliki masing-masing negara ASEAN.

Pada akhirnya, sebelum terlalu lama kita kita berteori tanpa melakukan apapun, mari lakukan satu tindakan nyata. Bagi para pembaca yang belum memiliki blog mulailah untuk membuat blog dan menuangkan ide, cerita, pengalaman Anda di dalamnya. Setelah itu, cobalah temui berbagai grup blogger yang sekarang sudah banyak dan tersebar luas. Jika Anda berkesempatan ke luar negeri cobalah memperluas jaringan Anda dengan bertukar email atau alamat blog. Cobalah untuk mulai menulis blog Anda dalam bahasa Inggris untuk menjalin pergaulan yang lebih luas. Jika Anda seorang entrepreneur buatlah blog atau web sebagai sarana pemasaran dan bergabunglah pada berbagai forum jual beli. Jika langkah-langkah sederhana ini dapat kita lakukan bersama-sama maka mimpi terwujudnya Komunitas ASEAN 2015 bukan hal yang mustahil dan bau harumnya sudah mulai tercium hari ini.

Sumber :
[1] http://oseafas.wordpress.com/2010/06/25/komunitas-asean-2015/
[2]http://oxforddictionaries.com/definition/community
[3] http://en.wikipedia.org/wiki/Community
[4] http://www.wartaegov.com/berita-1267-pengguna-internet-negaranegara-asean-per-100-penduduk-tahun-2008.html
[5] http://bakulatz.wordpress.com/2011/06/24/pengguna-internet-di-indonesia/
[6] Hananto, Ligwina. 2011. Untuk Indonesia Kuat hal 39. QM Publishing

Orang Miskin Kurang Ajar


Tadi malam aku nonton Jakarta Lawyers Club. Bahasan tadi malam tentang Badai Demokrat Belum Berlalu. Obrolan menjurus perdebatan tadi malam berkisar tentang Nazarudin dan Andi Nurpati dua kader ‘gebleg’ Partai Demokrat. Tapi kali ini aku tidak ingin membahas hal ini lebih lanjut karena lebih baik menyimak Ikrar Nusa Bakti atau Burhanudin Muhtadi jika ingin berbicara hal ini lebih dalam. Aku hanya ingin berbagi ucapan yang disampaikan Preseiden Janjukers, mbah Sudjiwo Tedjo. Dalam berbagai hal aku tidak sepakat dengan orang lulusan Matematika ini. Namun, aku tahu orang ini cerdas dan omongannya tadi malam ada benarnya.

Pertama, ada empat jenis manusia menurut sistem kasta Hindu, sudra, waisya, bramana. Mbah tedjo mengatakan bahwa orang sudra adalah orang yang memikirkan dirinya saja. Orang waisya adalah orang yang memikirkan keluarganya saja, sedangkan orang ksatria adalah orang yang memikirkan kampungnya. Orang Brahmana adalah orang yang berada pada tingkatan tertinggi yang umumnya rohaniwan. Jika orang sudra mencuri ayam dia boleh tidak dihukum karena dia sesungguhnya belum benar-benar ‘orang’, tetapi jika brahmana mencuri ayam dia bisa dibunuh.

Terkait dengan hal itu mbah Tedjo mengatakan bahwa sistem demokrasi tidaklah tepat dilaksanakan di Indonesia. Karena orang-orang sudra juga bisa menjadi anggota dewan yang notabene cuma memikirkan dirinya sendiri. Hal ini yang menurut saya terjadi saat ini. Banyak anggota DPR yang bermental sudra. Mereka maju menjadi anggota legislatif cuma untuk mencari rente dan memperkaya dirinya sendiri. Main-main proyek, sogok sini sana, main palsu memalsu dokumen dll. Giliran mau dihukum mereka kabur. Sangat cocok dengan tokoh yang kita kenal dengan nama Nazarudin dan Andi Nurpati, sekali lagi dua kader ‘geblek’ Partai Demokrat. Namun, kita tidak boleh berburuk sangka, biar hukum yang memutuskannya, itupun kalau hukum belum mereka beli.

Kedua, Mbah Tedjo mengatakan bahwa sistem demokrasi ini hanya memberi ruang bagi orang yang berduit atau diduiti. Artinya, demokrasi adalah tempat bagi orang kaya atau orang miskin yang diberi modal. Terkait dengah hal itu ia berkata,”Orang kayanya asu! orang miskinnya juga kurang ajar”. Tentang orang kaya yang asu kita tidak perlu berdebat panjang. Sudah banyak contohnya di TV mulai dari Nurdin Halid, Gayus Tambunan, dan yang baru-baru ini adalah Nazarudin. Sudah tau khan ceritanya sehingga saya gak perlu bahas lebih lanjut. Yang menarik adalah orang miskin yang kurang ajar. Mbah Tedjo mencontohkan dengan mikrolet. Banyak peristiwa sehari-hari yang sering kita alami bahwa apapun yang terjadi dan yang dilakukan ‘orang miskin’ selalu berpendapat selalu benar. Tidak peduli bahwa mikrolet itu ugal-ugalan, melanggar lampu merah, berhenti sembarangan dsb. Cuma ada satu pendapat :mikrolet selalu benar. Kalau pembaca sering berlalu lintas di Bogor atau Jakarta contoh ini mudah ditemukan.

Kesimpulan dari pernyataan Mbah Tedjo yang dapat aku tarik adalah bahwa entah asu atau kurang ajar itu sebenarnya tidak relevan dengan kaya atau miskinnya seseorang. terbukti tidak kalah banyak orang miskin yang disiplin dan taat aturan atau orang kaya berpendidikan mencederai dirinya sendiri dengan perlakuan yang tidak terpuji. Asu dan kurang ajar itu bisa melekat pada siapapun terlepas dari latar belakangnya.

Pengalamanku membuktikan hal tersebut. Di luar banyak dugaan khalayak tentang orang Amerika yang individualis dan arogan, aku telah membuktikan bahwa tidak sedikit dari mereka yang mau bersahabat, sopan, dan rendah hati. Coba biar aku tanya. Pernahkah Anda menahankan pintu yang kamu lewati lebih dulu untuk membiarkan orang lain masuk dan mendahului Anda masuk ruangan? Di sisi lain aku menemukan contoh beberapa orang yang mengaku dari daerah dan tidak berpunya justru hidup berleha-leha dan tidak disiplin apalagi bekerja keras. Tidak usah jauh2, tanya aja berapa kali mereka membuang sampah di kosannya tiap bulan? atau menyapu dan mengepel lantai tiap pekan? Aku tidak bermaksud berkata bahwa orang Amerika lebih baik atau menjelek-jelekkan mereka yang tidak berpunya dan berasal dari daerah itu. Yang ingin aku tegaskan bahwa baik-buruknya karakter seseorang seringkali tidak berhubungan dengan latar belakangnya entah asal daerah, negara, agama, kekayaan dll. Hal ini juga mempunyai arti yang berbeda di sisi lain, yaitu terlepas dari latar belakangnya setiap orang bisa sukses dalam hidupnya tergantung dengan usahanya. Setiap orang juga bisa masuk surga dengan seizin Allah sesuai dengan amal budi dan akhlaknya bukan atas latar belakangnya.

Demikian renungan pagi ini. Semoga bisa memberi manfaat yang sebesar-besarnya. 🙂

Ahlal Qura dalam Al A’raf 96-98

Allahumma Shalli `ala Muhammad wa `ala aali Muhammad, kamaa shallaita `ala Ibrahim wa `ala aali Ibrahim. Wa baarik `ala `ala Muhammad wa `ala aali Muhammad, kamaa barakta `ala Ibrahim wa `ala aali Ibrahim. Innaka hamidun majid.

Ada yang tahu kenapa saat kita bersalawat tidak hanya kepada Nabi Muhammad saja tetapi juga kepada Nabi Ibrahim? Salah satu jawaban yang saya dapat karena kedua Rasul Allah ini cukup menggambarkan betapa besarnya pengorbanan para rasul dalam mengemban amanah dakwah dan kepemimpinan di muka bumi ini. Tidak perlulah saya jelaskan bagaimana pengorbanan mereka pada postingan ini.

Yang ingin saya bahas kali ini adalah kaitan shalawat tadi dengan Al A’raf 96-98. “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. Maka apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang pada malam hari ketika mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan kamu yang datang oada pagi jari ketika mereka sedang bermain?”

Kaitan shalawat nabi dan ayat di atas terletak pada istilah Ahlal qura yang pada ayat tersebut diterjemahkan sebagai penduduk negeri. Dalam salah satu tafsir yang dimaksud dengan penduduk negeri (ahlal qura) ini bukanlah penduduk negeri secara umum, tetapi merujuk pada salah satu kelompok tertentu saja. Mereka yang dimaksud tersebut adalah mereka yang paham dalam hal ini juga termasuk para ulil albab. Mereka adalah masyarakat kelas menengah (middle class) yang memiliki posisi yang strategis karena dapat dekat dengan rakyat juga dengan pusat kekuasaan. Kelompok ini adalah yang menjadi sasaran utama dakwah kedua nabi tersebut. Muhammad dalam surat Abasa dikisahkan menemui para pemimpin Quraisy dan Ibrahim juga langsung menemui Namrud dan menyampaikan tauhid kepadanya.

Mari kita bawa hal ini dalam konteks kekinian dan kedisinian. Ahlal qura dalam konteks yang leih kontemporer boleh jadi adalah masyarakat akademik yang berada di kampus. Mereka yang menjadi kunci dalam keberkahan suatu negeri karena posisinya yang amat strategis. Mereka tentu dapat dekat dengan rakyat tetapi juga dapat dekat dengan pusat-pusat kekuasaan yang menentukan kebijakan. Menyadari akan hal tersebut maka sudah sepantasnya dakwah di kampus ini perlu digarap dengan sangat serius dengan melibatkan lebih banyak sumber daya. Sehingga masyarakat akademik yang terbina di kampus-kampus inilah yang dalam beberapa tahun ke depan mengambil kebijakan dan memberikan pengaruh yang begitu besar bagi masyarakat.

Mari sedikit melebarkan bahasan. Yang kemudian disebut sebagai pusat kekuasaan bukan hanya golongan ekskutif saja. Karena yang dimaksud dengan pusat kekuasaan telah melebar. Ikatan himpunan profesi saat ini telah mengambil andil yang begitu besar sehingga masuk ke dalam pusat kekuasaan itu sendiri. Sebagai informasi bahwa undang-undang yang dibuat di negeri ini bukanlah hasil karya anggota DPR semata tetapi lobi-lobi ikatan seprofesilah yang telah mengambil andil yang sangat besar dan anggota dewan hanya tinggal tanda tangan saja untuk menyetujuinya. Lahan ikatan profesi inilah yang mungkin saat ini belum terlalu tergarap. Padahal; mereka punya lobi yang kuat terhadap pemerintah karena mereka dekat dengan pelaku bisnis di lapangan seperti petani, peternak, dokter-dokter, pilot dan sebagainya. Dari sini terlihatlah secara jelas betapa strategisnya posisi ini. Bahwa ternyata ikatan advokat, ikatan dokter dll saat ini belum begitu banyak kader dakwah yang berada di sana adalah tanggung jawab kita saat ini.

Nah, sekarang mari kita lihat ayat 97 dan 98. Pada ayat tersebut ada pertanyaan retoris yang sedikit mengancam bahwa boleh jadi sisaan Allah akan datang pada malam atau pagi hari karena kelalaian kaum Ahlal qura ini. Oleh karena itu, mari kita melihat ke dalam diri kita mari mempersiapkan diri untuk menyongsong waktu yang tidak lama lagi akan kita jelang. Sehingga saat itu tiba kitalah para kader dakwah yang siap mewarnai dan menjadi jalan bagi turunnya keberkahan Allah pada negeri ini.

Untuk menutup tulisan ini, saya ingin mengaitkan tulisan ini dengan laporan ekonomi yang dirilis Standard Chartered Research dengan judul Super Cycle Report. Sederhananya, pada laporan tersebut disampaikan bahwa pada 2030 Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar no 5 di dunia. Awalnya saya juga tidak percaya, tetapi saya kemudian terkejut begitu mengetahui salah satu sebabnya. Pada laporan tersebut dikatakan bahwa salah satu penyebab majunya ekonomi Indonesia dan Asia pada umumnya adalah besarnya jumlah masyarakat kelas menengah (ahlal qura) .

Berikut ini kutipan tentang middle class pada laporan tersebut

The rise of the middle class

As economies evolve, it is the rise of the middle class that tends to cement a more sustainable growth trend. The larger the middle class relative to a country’s total population, the more stable its domestic demand and the more consensual its society. The middle class is also often seen as the source of entrepreneurship and innovation, running the small businesses that generate jobs and wealth. The middle classes also consume different kinds of goods and services compared with the rural or urban poor

The middle class can be defined in relation to income in each country, but as the world globalises, it is more relevant to consider it in absolute terms. A recent OECD study chose a range of USD 10-100 daily per capita income (in PPP terms) for the definition, and the results are striking. By 2030, the total number of people in this range will increase from about 1.8bn to 4.9bn. However, the numbers in Europe and America remain about the same and all the increase is in the emerging countries, with Asia’s share of the total rising from 28% to 66%

Wallahu ‘alam

Belajar dari Eropa untuk Palestina

Nabi Muhammad Saw adalah pemimpin terbesar di dunia yang telah melahirkan peradaban yang selalu akan dikenang manusia. Salah satu keberhasilannya yang luar biasa adalah kemampuannnya membangun masyarakat yang madani dari kaum yang sebelumnya terpecah belah.

Di Madinah, Rasulullah berhasil menyatukan kaum Aus dan Khazraj yang selalu berperang satu sama lain. Tidak hanya sampai di situ saja, Darul Islam yang berdiri di Madinah mampu terwujud setelah Rasulullah berhasil mewujudkan Piagam Madinah sehingga kaum Yahudi dapat tinggal dengan damai.

Peristiwa lain yang tidak dilupakan adalah keberhasilan Rasul menyatukan kaum Muhajirin dan Anshar yang belum pernah saling mengenal sebelumnya. Sehingga mereka mampu hidup damai berdampingan dan berbaur. Hal ini dikarenakan persaudaraan yang dibangun oleh Rasulullah adalah persaudaraan yang berlandaskan kepada tauhid. Sehingga perbedaan di antara kaum tersebut tidak menjadi penghalang yang berarti. Hal ini Allah abadikan pada Al Quran surat Al Anfal ayat 63

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً مَّا أَلَّفَتْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ﴿٦٣﴾

Artinya : dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman) Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana

Persaudaraan yang dilandaskan tauhid bersifat abadi dan universal berbeda dengan pesaudaraan lain yang temporer (terbatas waktu dan tempat). Persaudaraan iman ini tidak terpagari oleh batas teritorial negara, perbedaan suku dan bahasa. Bukti persaudaraan muslim ini terbukti dari berbagai peristiwa. Salah satu bukti persaudaraan iman ini adalah pengiriman armada perang Turki Ustmaniyah untuk mengamankan perjalanan haji kaum muslimin Aceh dari gangguan tentara Portugis[1].

Persaudaraan Islam Kini

Indahnya persaudaraan Islam kini tidak seindah dulu. Persaudaraan Islam yang dulu hidup dan menjadi penggentar musuh-musuh Allah kini lebih banyak menjadi slogan, jargon, dan bahan diskusi yang tidak pernah habis dibahas dari satu seminar ke seminar lain. Pudarnya persaudaraan Islam inilah yang membuat Islam kini berada dalam posisi yang sulit dan tertindas oleh bangsa-bangsa besar lainnya.

Jangankan untuk saling menolong antar negara muslim, di dalam muslim seperti Indonesia ini saja umat muslim masih terbelah dalam hal-hal yang remeh temeh dan tidak perlu diperdebatkan.

Dalam konteks pembelaan terhadap Palestina, negara-negara Islam telah terbukti gagal. Pada serangan besar-besaran ke Palestina pada awal Januari 2009 tidak ada negara muslim yang maju dan menyatakan diri siap membela Palestina. Pertemuan OKI pun tidak mampu membawa solusi yang berarti untuk menghentikan serangan.

Kondisi umat muslim Palestina kian bertambah parah saat Mesir tidak berani membuka pintu perbatasan untuk mempersilakan bantuan asing masuk Akibatnya sampai tanggal 15 Januari 2009 jumlah korban dari Palestina mencapai lebih dari 1000 jiwa[2].

Walaupun bantuan dari seluruh penjuru dunia termasuk negara-negara muslim akhirnya datang secara perlahan-lahan. Namun ada beberapa peristiwa yang tidak sepatutnya terjadi pada saat Palestina sedang diserang oleh Israel. Menteri luar negeri Amerika Serikat pada saat itu, Condoleeza Rice mendapat hadiah barang-barang berhiaskan permata dari raja Yordania dan Arab Saudi, yang bernilai total US$ 316.000 (sekitar Rp 3,5 miliar)[3].

Selain itu, terdapat dua orang jutawan muslim yaitu Muhammad al-Fayed tercatat sebagai pemilik terbesar saham klub sepakbola Inggris, Fulham senilai 30 juta poundsterling[4] dan Syaikh Manshour bin Zayed al Nahyan[5] sebagai pemilik tunggal klub Manchester City. Kenyataan ini menunjukkan kepada kita bahwa di antara negara-negara muslim dunia belum ada ikatan persaudaraan yang kuat sehingga tidak timbul kepedulian saat saudara muslim yang lain terluka.

Belajar dari Eropa

Persaudaraan Islam yang begitu mulia kini secara subtansi dan praktik telah dilakukan oleh negara-negara Eropa sehingga terciptalah persaudaraan eropa dalam wadah Uni Eropa. Negara-negara Eropa telah berhasil mendahulukan kepentingan mereka bersama dan meredam egoisme negara-negara masing-masing sehingga kini mereka mampu membentuk parlemen eropa, konstitusi eropa, pakta pertahanan eropa, bahkan mata uang eropa.

Parlemen eropa adalah badan parlementer dari Uni Eropa (UE)[6], yang dipilih langsung oleh warga negara UE setiap lima tahun sekali. Parlemen Eropa mewakili sekitar 496 juta warga Uni Eropa. Anggota-anggotanya dikenal sebagai anggota Parlemen Eropa. Sejak 1 Januari 2007, parlemen ini mempunyai 785 anggota. Setelah pemilihan umum pada 2009 disepakati bahwa jumlah maksimum anggotanya akan ditetapkan 750 orang, dengan jumlah ambang minimum 5 orang untuk setiap negara anggota.

Dalam bidang pertahanan, eropa memiliki NATO (North Atlantic Treaty Organisation)[7]. Organisasi ini adalah sebuah organisasi internasional untuk keamanan bersama yang didirikan pada tahun 1949. Pada pasal utama kesepakan negara-negara Eropa terdapat pasal yang menyatakan bahwa sebuah serangan bersenjata terhadap salah satu atau lebih dari mereka di Eropa maupun di Amerika Utara akan dianggap sebagai serangan terhadap semua anggota. Pernyataan ini mengisyaratkan secara jelas adanya ikatan persaudaraan di antara mereka.

Walaupun negara-negara di eropa memiliki nilai mata uang yang tinggi mereka rela meleburkan mata uang mereka menjadi satu mata uang tunggal eropa, yaitu Euro[8]. Euro adalah mata uang yang dipakai di 16 negara anggota Uni Eropa. Secara giral, mata uang ini mulai dipakai sejak tanggal 1 Januari 1999, tetapi secara fisik baru dipakai pada tanggal 1 Januari 2002. Peluncuran Euro ini akhirnya membawa efisiensi pada sistem ekonomi negara-negara eropa.

Belajar dari apa yang dilakukan eropa seharusnya umat muslim di dunia malu. Karena negara-negara yang notabene penduduknya bukanlah umat muslim lebih dapat memahami dan menerapkan ukhuwah (persaudaraan) dibandingkan dengan negara-negara Islam yang kini berpecah belah.

Walaupun ikatan persaudaraan mereka bukanlah ikatan iman, tetapi adanya persatuan itu sendiri telah memperkuat eropa sebagai suatu kawasan regional. Sementara umat muslim masih saling berdebat satu sama lain, masyarakat eropa telah memasuki tatanan peradaban yang baru yang jauh lebih sinergis. Allah telah mengingatkan tentang pentingnya persatuan umat Islam ini dalam Al Quran surat Ali Imran 103

وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ ﴿١٠٣﴾

Artinya : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Belajar dari hikmah tersebut, maka sebagai generasi muda yang mencintai Palestina, alangkah baiknya dalam lingkup yang paling kecil kita mulai membina hubungan yang baik dengan sesama muslim dan masyarakat sekitar. Belajar untuk mendahulukan kepentingan bersama dan bertoleransi pada perbedaan-perbedaan yang tidak perlu diperdebatkan. Saat kita berhasil membentuk masyarakat yang memiliki ukhuwah islamiyah yang baik maka kejayaan Islam akan segara terwujud dan Palestina akan segera merdeka.

Randi Swandaru; mahasiswa Teknologi Industri Pertanian, 2006. Saat ini tengah menempuh pendidikan bahasa inggris di Ohio University, USA dalam program Indonesia English Language Study Program selama 8 pekan

Referensi :
1. EraMuslim Digest Edisi 9. The Untold Story of Indonesian History
2. Kompas.com, 15 Januari 2009. Korban Serangan Israel Lampaui 1.000 Jiwa. Sumber:http://internasional.kompas.com/read/2009/01/15/08442224/Korban.Serangan.Israel.Lampaui.1.000.Jiwa
3. Jurnal Psikologi. Pemimpin Bisa Lupa Diri. Sumber: http: //www.ilmupsikologi. com/?p=273
4. Wikipedia . Mohamed Al Fayed. Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki /Mohamed_Al-Fayed
5. Wikipedia. Manchaster City. Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/ Manchester_City
6. Wikipedia. Parlemen Eropa. Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/ Parlemen_Eropa
7. Wikipedia. NATO. Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/NATO
8. Wikipedia. Euro. Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Euro

Artikel ini dimuat di Eramuslim tanggal 12 April 2010


 

 

Artis dan Resistensi Perubahan

Jakarta – Pentas demokrasi di Indonesia belakangan ini semakin disemarakkan dengan hadirnya beberapa artis dalam pentas politik. Kehadiran mereka bukan hanya sekedar sebagai penghibur. Tetapi, terdapat beberapa artis yang sukses mengalahkan politisi senior.

Sebut saja Rano Karno, Dede Yusuf, dan Diky Candra. Mereka menjadi role model dan memberi inspirasi bagi artis-artis lainnya yang hendak masuk ke pentas politik. Sehingga, kini semakin banyak artis yang maju dalam pentas politik.

Bukan saja sekedar memasuki ranah eksekutif artis-artis juga maju dalam pentas pemilihan anggota legislatif untuk mengisi kursi Dewan Perwakilan Rakyat. Fenomena ini jelas sebuah langkah pragmatis dari partai-partai politik untuk mendapatkan suara sebanyak-banyaknya.

Terlepas dari kapabilitas para artis tersebut dalam berpolitik namun ketenaran mereka adalah jalan pintas bagi partai politik untuk bertahan di Senayan. Sayangnya kemudian saat mereka terpilih dan duduk sebagai wakil rakyat terbukti terdapat dari mereka yang tidak kompeten dan tidak santun dalam bertindak.

Simak saja perilaku Ruhut Sitompul dalam pansus Bank Century yang lalu. Ia memaki-maki dan sering kali menyimpang dari materi sidang. Dalam kapasitasnya sebagai wakil rakyat sikapnya amat tercela dan tidak patut ditiru.

Dengan rekam jejaknya yang demikian kini semakin banyak artis yang hendak maju dalam pentas politik. Ketenaran mereka kembali digunakan partai politik untuk memenangi sejumlah pemilihan kepala daerah. Sebut saja Ayu Azhari yang sempat dikabarkan maju dalam Pilkada Sukabumi. Kemudian Cici Paramida dan Julia Perez yang ikut dalam penjaringan calon Bupati/ Wakil Bupati Pacitan. Kehadiran mereka bukan sekedar menghadirkan kontroversi. Tetapi, dapat menjadi satu indikasi bahwa partai-partai politik gagal melakukan regenerasi.

Proses kepemimpinan membutuhkan regenerasi yang baik. Karena, umur organisasi tentu lebih panjang dibandingkan dengan para pelaku organisasi tersebut. Semenjak reformasi terjadi pada tahun 1998 partai poitik di Indonesia belum mampu menghadirkan wajah-wajah baru yang mampu dan dikenal masyarakat untuk memimpin.

Kegagalan proses regenerasi tersebutlah yang menjadi alasan utama partai politik untuk merekrut para para artis. Dalam jangka panjang tentu saja ini tidak sehat dalam proses pembelajaran politik karena kebijakan-kebijakan yang diambil akan cenderung pragmatis dan sekedar memenuhi kepentingan sesaat.

Selain itu kehadiran para artis ini boleh jadi mengindikasikan resistensi partai politik untuk berubah. Kehadiran artis tidak lebih hanya menjadi pendulang suara sementara posisi elit partai tetap dipegang oleh politisi-politisi senior yang tidak ingin tergantikan. Sehingga, kebijakan yang diambil tentu saja ditentukan oleh politisi-politisi senior tersebut bukan para artis yang masyarakat pilih.

Hal ini tentu saja tidak kalah membahayakan karena dalam proses pembangunan pemerintahan yang bersih kehadiran darah-darah muda amat penting dalam menghadapi berbagai tantangan yang semakin meningkat. Sebagai pemilih masyarakat perlu mencermati hal ini dan mendorong partai politik untuk melakukan proses regenerasi.

Cara termudah untuk itu adalah dengan tidak memilihnya dalam berbagai pemilihan yang akan diselenggarakan. Karena, jika fenomena ini terus berlangsung maka Indonesia akan terus tertinggal dan sulit bangkit dari keterpurukkannya.

artikel ini dimuat di detik.com