Kita yang mencari Tuhan

shalat

Saat saga makin merah dan burung-burung pantai berseru

matahari kian malu, nelayan menghela sampan maju

raga yang redup beradu dengan waktu yang makin menderu

kita yang lemah tak lagi mampu

dan nyata hanya Dia yang Satu

 

Hilang segala angkuh, musnah, semua mengaduh

Bagaikan kuli dan buruh kita cuma hamba-hamba dari panjang waktu yang sepuh

 

Saat kita sadar bahwa pandang mata kita hanya sejengkal

Saat kita tahu kalau sia-sia kita terpingkal

Maka hanya takut kita pada Yang Kekal

 

Ketika jauh terasa kita melangkah

dan terhenti pada jalan yang terbelah

maka kepada yang mana jalan akan kita pilah

bukan bersandar pada akal yang lemah

tidak mengacu pada nafsu yang salah

tapi pada Salat dan Doa yang berkah

 

Di dalam bilik yang gelap

cahaya terang mungkin menakutkan

Di dalam bilik yang gelap

Kita yang mencari Tuhan

 

Advertisements

Sebuah Tanya ~ Gie

Akhirnya semua akan tiba
Pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

Apakah kau masih berbicara selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku

Kabut tipis pun turun pelan-pelan
Di lembah kasih, lembah Mandalawangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap kau
Dekaplah lebih mesra, lebih dekat

Lampu-lampu berkelipan di Jakarta yang sepi
Kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya
Kau dan aku berbicara
Tanpa kata, tanpa suara
Ketika malam yang basah menyelimuti Jakarta kita

Apakah kau masih akan berkata
Kudengar derap jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta

Hari pun menjadi malam
Kulihat semuanya menjadi suram
Wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
Dalam bahasa yang kita tidak mengerti
Seperti kabut pagi itu

Manisku, aku akan jalan terus
Membawa kenang-kenangan dan harapan-harapan
Bersama hidup yang begitu biru

Jangan Mati, Muda!

Kawan, katakan hidup itu sulit langit begitu menghimpit dan bumi begitu sempit.
Lalu, temui pengamen cilik dengan gitar yang terkepit, 500 rupiah bukan satu atau dua tapi hidupnya yang rumit, tak halangi senyumnya yang legit.

Kawan, katakan kau tak bisa, kita tak punya daya, kita belum ada kuasa
Lalu, mari kukenalkan pada seorang buta di kopaja, dengan 7 buta lain di belakangnya, mereka melalang buana di jalan ibu kota yang tak pernah mereka lihat sebelumnya, keberanian mereka menyambar menyala-nyala

Kawan, katakan kita belum kaya, kita tak punya apa-apa, belum saatnya memberi dengan cuma-cuma.
Lalu, mari menghadap pada guru yang berjalan pagi buta, memegang kapur rupa-rupa, senyum tulus mengajarkan ku aksara tanpa balas yang setara

Kawan, katakan itu susah, yang ada keluh kesah, katakan kau sudah payah.
Lalu, mari kukenalkan pada murid-murid itu yang tersenyun cerah, mengacung tinggi tanpa takut salah, hujan tak pernah menghentikan langkahnya yang basah penuh gairah

Kawan, katakan kau sudah penuh dengan ibadah, dosa telah jauh sajalah.
Lalu, mari bermalam di sebuah kamar yang cukup tapi tak mewah, kan kau dengar ayat Quran penuh tangis di atas sejadah

Kawan dengarlah,
Langit selalu sama untuk mereka yang menang dan yang kalah.
Bumi tak pernah berbeda bagi mereka yang sia atau bermakna.
Tuhan juga senantiasa beri waktu pada yang takluk dan juara.

Kita terlahir bukan untuk jadi yang tersisih
tapi untuk menebar kasih
Kita ada bukan untuk hal yang biasa
tapi untuk berbuat yang bermakna

Jangan Mati, Muda!
Sulit susah kau rasa,
peluh, darah, dan dahaga,
itu cuma sementara

Hiduplah muda!
Fajar baru saja terbit, siapkan dirimu untuk menantang terik.
Hiduplah muda!
Lihat lima, sepuluh, dua puluh, atau seratus masa di depan
Aroma hari jaya itu semakin pekat!

Tak bisa ke lain hati

Bulan merah jambu, luruh di kotamu
Kuayun sendiri, langkah-langkah sepi
Menikmati angin, menabur daun-daun
Mencari gambaranmu, di waktu lalu
Sisi ruang batinku hampa rindukan pagi
Tercipta nelangsa, merengut sukma
Terwujud keinginan yang tak pernah terwujud
Aku tak bisa pindah, pindah ke lain hati
Begitu lelah sudah, kuharus menepi
Biduk t’lah ditambatkan berlabuh di pantaimu…
Sisi ruang batinku hampa rindukan pagi
Tercipta nelangsa, merengut sukma
Terwujud keinginan yang tak pernah terwujud
Aku tak bisa pindah, pindah ke lain hati
Sungguh kuakui …
Tak bisa ke lain hati …
Teringatku mengenangmu
Tergambar paras wajahmu, sendiri …
Sisi ruang batinku hampa rindukan pagi
Tercipta nelangsa, merengut sukma
Terwujud keinginan yang tak pernah terwujud
Aku tak bisa pindah, pindah ke lain hati
Sungguh kuakui …
Tak bisa ke lain hati …

DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang

(Chairil Anwar)

Win-Lose

Life is not just about winning and losing, it’s more than that

Kalo cuma mau menang Natsir pasti menerima tawaran beasiswa ke Belanda
Natsir lebih memilih mendirikan sekolah Islam modern di Bandung

Kalo cuma mau menang, Tan takkan habiskan hidup bersama romusha di Bayah, dia punya pilihan yg lbih ‘baik’

Kalo cuma mau menang, Gie pasti udah masuk parlemen, namanya harum di luar parlemen: di Mahameru

Kalo cuma mau menang, Rasul gak akan ttd perjanjian Hudaibiyah, kputusannya berbuah fathu mekkah kemudian

Kalo cuma mau menang, Dipa Nusantara takkan gantikan Soekarno di Ikada, dia tulus hari itu

Kalo cuma mau menang, rakyat Atjeh takkan sumbangkan pesawat utk RI, mereka punya pilihan lain

Kalo cuma mau menang, Hamengku Buwono takkan tunduk pada RI, mereka bisa memilih merdeka

Kalo cuma mau menang, Hatta takkan mundur dari jabatan Wapres, ada yg lbih penting dari itu

Urusan menang-kalah terlalu sederhana dan kita tidak hidup 1 atau 2 hari, lbih lg kita jg hidup stlh mati

Kemenangan kita tidak diukur hari ini kawan

Maka jgn tertipu ukuran2 kemenangan semu

Kemenangan sejati diukur stlah mati, di hari yg tak ada lagi pembelaan diri

Jika hari ini kalah, belajarlah! Masih ada esok hari, smoga kita bisa istiqamah memperbaiki diri

Bersabar dan ikhlaslah dlm perjuangan..ingatlah ‘esok hari’ yg telah dijanjikan

@rswandaru 2 September 2011

Sajak Sebatang Lisong – WS Rendra

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka
Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.
Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
…………………..
Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita-wanita bunting
antri uang pensiun.
Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :
bangsa kita adalah bangsa yang malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes terpendam,
terhimpit di bawah tilam.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat para penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.
Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.
…………………..
Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
menghayati sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.
Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya renda-renda kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

Kepadamu aku bertanya

19 Agustus 1977
ITB Bandung
Potret Pembangunan dalam Puisi

(Sajak ini dipersembahkan kepada para mahasiswa Institut Teknologi Bandung, dan dibacakan di dalam salah satu adegan film “Yang Muda Yang Bercinta”, yang disutradarai oleh Sumandjaya).