#ngelaju Bogor-Jakarta


Pada malam yang pekat
biarlah angan ini tertambat
pada paras yang dekat
dengan Tuhan yang Maha Kuat

Dalam relung yang pilu
biar hati mengadu
pada cinta yang satu
kasih tanpa sembilu

Jika mentari kelak terbit
dan mata ini berhimpit
mintalah ampun tiada sulit
biar esok tak lagi sabit

Kelak pagi
kan datang lagi
ku janjikan satu hati
hati tak terbagi

Dalam temaram lampu merkuri
roda berputar tiada henti
mencari jejak tertapaki
mengendus jauh dalam hati

Dalam dekap kabut putih
pandang jauh tak lagi jernih
bertautlah pada hati yang bersih
biar sewindu lagi ku tiada letih

Lampu bus telah padam
kiri kanan mobil berlarian
hanya tinggal aku dan malam
hingga Kampung Rambutan

Saat aktivitas hilang
terhapus bayang-bayang
lampu-lampu masih benderang
menemani langkah yang jarang

Advertisements

Heart Self Conversation

Dear Heart, How’s life today?
It’s been a long time not talking with you
I just want to greet you and make sure that you’re fine tonight

Different from the last time I met you,
you looked so anxious
what happened to the sky
so that the earth feels the quake?
Is it the increase of global temperature made you sweaty
or the black cloud who invites the tornado made your eyes couldn’t closed

to be honest to you it’s not global temperature nor black cloud
it’s just butterfly that flew in front of my door
who left its color by purpose
I just wonder how it could be
and why it took this way
or this just only a mirage
that brought mist in front of the door
that promise me a drink but nothing

but for you know
I already on the coaster
it lift me up to follow the color
but it seemed derailed
and I know it could be

now I see the surface
beautiful and magnificent up here
but the gravity can promise me the way back to earth
with hurt

Dear Heart, I know that you were not seeking for a color
cause I know that you’re colorblind
but the butterfly came
and you are just an amateur child
I know how does if feel
though you covered it up

remember, only in Him we believe
only with Him we strong
cause there’s no more like Him
only Him

turn on your night
whisper the confession and supplication
cause only Him who can let the east raise the sun
the stars heal the moon’s loneliness

In this very fragile heart,
don’t let the roller coaster bring u up then make u falling down.
Just believe in God and He will show you the way

Cahaya Bulan

Perlahan sangat pelan
hingga terang kan menjelang
cahaya kota kelam mesra menyambut sang petang
di sini ke berdiskusi dengan alam yg lirih
kenapa matahari terbit menghangatkan bumi

aku orang malam
yang membicarakan terang
aku orang tenang
yg menentang kemenangan oleh pedang

perlahan sangat pelan
hingga terang kan menjelang
cahaya nyali besar mencuat
runtuhkan bayang

di sini ku berdiskusi dengan alam yang lirih
kenapa indah pelangi tak berujung sampai di bumi

aku orang malam
yang membicarakan terang
aku orang tenang
yg menentang kemenangan oleh pedang

cahaya bulan menusukku
dengan ribuan pertanyaan
yang tak kan pernah kutahu
dimana jawaban itu
bagai letusan merapi
bangunkan ku dari mimpi
sudah waktunya berdiri
mencari jawaban kegelisahan hati

terangi dengan cinta di gelapku
ketakutan melumpuhkanku
terangi dengan dengan cinta di di sesalku
dimana jawaban itu

cahaya bulan menusukku
dengan ribuan pertanyaan
yang tak kan pernah kutahu
dimana jawaban itu
bagai letusan merapi
bangunkan ku dari mimpi
sudah waktunya berdiri
mencari jawaban kegelisahan hati

Puisi Pertemuan Mahasiswa (Rendra 1977)

Matahari terbit pagi ini,
mencium bau kencing orok di kaki langit,
melihat kali coklat menjalar ke lautan,
dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.

Lalu kini ia dua penggalah tingginya.
Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini
memeriksa keadaan.

Kita bertanya :
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.
Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.
Orang berkata “ Kami ada maksud baik “
Dan kita bertanya : “ Maksud baik untuk siapa ?”

Ya ! Ada yang jaya, ada yang terhina
Ada yang bersenjata, ada yang terluka.
Ada yang duduk, ada yang diduduki.
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.
Dan kita di sini bertanya :
“Maksud baik saudara untuk siapa ?
Saudara berdiri di pihak yang mana ?”

Kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya.
Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.
Perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja.
Alat-alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.

Tentu kita bertanya :
“Lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”

Sekarang matahari, semakin tinggi.
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
Kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan,
ataukah alat penindasan ?

Sebentar lagi matahari akan tenggelam.
Malam akan tiba.
Cicak-cicak berbunyi di tembok.
Dan rembulan akan berlayar.
Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda.
Akan hidup di dalam bermimpi.
Akan tumbuh di kebon belakang.

Dan esok hari
matahari akan terbit kembali,
Sementara hari baru menjelma.
Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.
Atau masuk ke sungai
menjadi ombak di samudera.

Di bawah matahari ini kita bertanya :
Ada yang menangis, ada yang mendera.
Ada yang habis, ada yang mengikis.
Dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana !

(1977,W.S. Rendra)

Puisi Cahaya Bulan

akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yg biasa
pada suatu ketika yg telah lama kita ketahui
apakah kau masih sambut dahulu memintaku minum susu
sambil membenarkan letak leher kemejaku
kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih
lembah mandalawangi
kau dan aku tegak berdiri melihat hutan yg menjadi suram
meresapi belaian angin yg menjadi dingin
apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika kudepak, kau dekaplah lebih mesra
lebih dekat
apakau kau masih akan berkata
kudengar dekap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta
cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan
yg takkan pernah aku tahu dimana jawaban itu
bagai letusan berapi bangunkan dari mimpi
sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati

 

A Ling

Jari-jari yang indah membuat ikal bertahan berpuluh kilometer, sekedar membeli kapur cap harimau.

“Bu, biar saya saja yang membeli kapor, Bu!” ujar ikal.

Betapa bodohnya ikal menjelajah Eropa hingga menyebrang ke Afrika, mengejar sesosok bayang semu yang bertajuk: A Ling. Gerangan apa yang melangkahkan kakinya, menguatkan niatnya…mungkinkah ada kupu-kupu di dalam perutnya?

 

 

Tegaklah ke langit atau awan mendung

ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku

bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa