Taman

Belakangan aku semakin rajin mengurusi taman di rumah dan hasilnya sudah mulai terlihat. Taman kami sekarang sudah banyak ditumbuhi bunga-bunga. Ada yang berwarna putih dan kuning begitu juga dengan aneka warna dedaunan yang tumbuh. Memandangnya membuat kita lebih tenang dan bahagia. Menanam tanaman-tanaman itu memang butuh energi bahkan acapakali tangan ini terasa pegal karena urusan ini. Namun, kepuasan itu nyata aku rasakan. Memandang ke taman adalah sebuah kenikmatan.

Mungkin ini yang disebut dengan passion. Walau letih dan lelah, tapi terus kita lakukan. Begitu pekerjaan itu selesai kita tersenyum bahagia dan puas. Biar badan pegal-pegal kita tak pernah kapok melakukannya kembali. Dalam prosesnya pun kita bersabar. Kita menyiraminya, menyiangi rumput-rumput liar, dan mengusir ayam-ayam yang merusak tanaman. Begitu bunga merekah senyum kita pun terkembang. Walau tak sedikit uang yang dihabiskan tapi kita rela dan tak memikirkan. Alhamdulillah ya Rabb kau berikan kenikmatan ini 🙂

Terkadang di sore atau malam hari aku berdiam diri di halaman menikmati keindahan taman. Tetangga pun ikut menikmati keindahan taman ini. Aku pun sadar bahwa hasil pekerjaanku pada pagi harinya belum tentu bisa aku nikmati hasilnya di malam hari. Kita perlu waktu agar benih tumbuh dan membesar, kuat dan mengakar. Begitu pula dengan diri ini kita harus terus bersabar dan berjuang. Perjalanan kita masih panjang. Kita harus terus terisi dengan bahan bakar, siap siaga dan selalu pada semangat yang segar. Hanya kepada Allah kita berharap dan pasti setiap amal akan ada pembalasan.

Kawan, benih yang ditanam pagi tadi tak mungkin bisa kita petik malam ini, mari bersabar dan terus berjuang orang muda! Biarkan akar2 kita menghujam dalam dan menjalar jauh.

Negara (kehilangan) Hukum

negara-berdasar-atas-hukum

Berita hari-hari belakangan ini masih saja menyoroti berbagai masalah hukum. Beberapa hal yang paling heboh adalah penyerangan Lapas Cebongan dan pengeroyokan Kapolres di Sumut. Dua hal ini amatlah miris bagi saya pribadi. Narapidana yang seharusnya menjalani hukuman di bawah perlindungan negara justru dibantai habis di dalam sel mereka. Pelakunya masih gelap. Ada indikasi mereka berasal dari TNI/Polri tetapi proses pengusutan yang lama dan suram ini bisa memberi angin lain bagi kejahatan. Suatu hari bukan tidak mungkin segrombolan preman atau gembong narkoba menyerbu lapas lain untuk membebaskan bos atau rekan mereka. Tidak kalah mengerikannya adalah seroang Kapolres yang berusaha menangkap penjudi justru mati dikeroyok warga. Entah apa mungkin semua sudah gelap mata.

Belum lagi kalau kita lihat kontras pemberian hukuman kepada para terpidana, kadang aku juga geli mendengarnya. Ada dua artis panas cakar-cakaran, diurusi polisi dan salah satunya mesti dipenjara 3 bulan (mungkin salah satu lainnya akan segera menyusul dibui). Sementara itu, ada anak menteri yang menabrak mobil lain hingga timbul korban jiwa dibiarkan hidup di luar penjara dengan hukuman percobaan.

Saya lebih tertarik pada pengusutan TNI yang mati ditembak di Papua belakangan ini. Ini harus tuntas karena mereka yang jelas-jelas mempertahankan negara harus dibela dan dilindungi. Begitu juga pengusutan rekening gendut jenderal Polisi atau pejabat negara lainnya.  Ini pengkhianatan. Tetaplah ingat bahwa negara ini negara hukum semua harus diadili dengan adil.

Tapi mari bersabar sembari menunggu Bapak kita selesai mengurusi partainya atau setidaknya mari kita ucapkan selamat kepada Pak SBY sebagai Ketua Umum Partai Demokrat yang baru.

Chavez, Ahmadinejad & SBY : Sebuah pertanyaan terbuka

Chavez Ahmadinejad SBY

Seperti apakah dunia pasca meninggalnya Hugo Chavez? Kira-kira begitulah nada semua harian belakangan ini baik cetak dan elektronik. Wajar saja pertanyaan itu muncul karena Chavez adalah tokoh yang amat vokal berada di seberang Amerika. Dia tidak hanya vokal tetapi juga berpengaruh dan dicintai rakyatnya. Berpengaruh karena sebagai catatan kita hari ini, Venezuela adalah negara dengan cadangan minyak mintah terbesar di dunia, bukan Arab Saudi! Dicintai rakyatnya jelas nyata dari jutaan rakyatnya yang bersedih dan memadati prosesi pemakamannya. Yah, memang terlalu subjektif jika kita bilang dicintai seluruh rakyat Venezuela karena ada sebagian dari mereka yang tak bersedih dengan kematian Chavez. Mereka itulah yang selama ini dilucuti akses ekonominya oleh Chavez karena bisnis mereka tak menetes kepada mereka yang seharusnya menikmati kue pembangunan. Sebagai catatan saat Chavez memimpin Venezuela pada 1999 kemiskinan di negeri itu mencapai 49 persen sedangkan pada akhir 2012 lalu turun hingga menjadi 29 persen saja. Tak hanya Venezuela yang bersedih dan khawatir, Kuba, Jamaika, dan negara-negara Amerika Latin lainnya yang selama ini mendapar dukungan Chavez juga ikut ketar-ketir dengan arah angin politik di Amerika Selatan

Musuhnya musuhku adalah temanku mungkin cukup menggambarkan hubungan Chavez dengan Ahmadinejad. Ya, mereka memiliki musuh yang sama : Amerika Serikat. Kebijakan pengembangan nuklir Iran yang selama ini selalu menjadi penyebab panasnya hubungan AS-Iran. Tak hanya itu, Iran juga dikenal sebagai amat tegas terhadap Israel, sekutu AS. Bahkan Ahmadinejad pernah berujar, “Israel harus dihapus dari peta dunia! Di luar retorikanya yang tegas, Ahmadinejad memang sosok yang sama dicintainya oleh rakyat Iran, seperti halnya Chavez di Venezuela. Ia begitu sederhana tetapi memiliki keberpihakan yang jelas kepada rakyat. Kebijakan pembangunannya menjauhkan diri dari ketergantungan AS begitu konsisten dan mulai menuai hasilnya. Lihat saja baru saja Iran mengklaim telah mampu mengorbitkan seekor kera di atas bumi. However, on top of everything Iran akan segera mengahadapi pemilu presiden pada Juni mendatang dan Ahmadinejad tak bisa dipilih kembali karena sudah memimpin dalam dua periode terakhir. Pertanyaannya kemudian bertambah seperti apakah dunia pasca Ahmadinejad?

Berbeda dengan kedua tokoh di atas SBY bukanlah sosok yang anti AS sehingga tidak mendapat sorotan sebesar kedua tokoh itu. Walaupun demikian SBY memimpin sebuah negara yang bernama Indonesia yang saat ini menjadi negara peringkat 16 GDP terbesar di dunia mengalahkan Venezuela dan Iran. Indonesia pun kita tergabung dalam G20 yang terkenal sebagai kelompok 20 negara yang mewakili 90% GDB dunia. Indonesia pun diprediksi akan masuk ke dalam peringkat 10 besar dalam 15 tahun mendatang. Dengan kata lain SBY sebagai pemimpin Indonesia memiliki peran yang tak kalah strategis. Seperti halnya Iran, Indonesia juga akan segera mengalami pergantian kepemimpinan dan SBY tak lagi dapat dipilih. Pertanyaannya kemudian adalah seperti apakah dunia pasca SBY? Ini adalah sebuah pertanyaan terbuka. Kita dapat menjawabnya dengan apapun. Hanya saja SBY sudah memberikan kisi-kisinya kepada kita dengan berbagai aktivitasnya yang saat ini lebih banyak terfokus pada partainya. Tak heran inflasi bulan Februari lalu mencapai 0.75%, nilainya cukup tinggi selama 10 tahun terakhir. Namun, sekali lagi ini adalah pertanyaan terbuka. Kita bebas menjawabnya!

Kelas Eksekutif Garuda

GA 204Pagi itu seperti pagi lainnya : GA 204. Setiap bulan sejak setahun lalu aku rutin ke Jogja. Ya rapat tentunya. Tentunya pula kelas ekonomi Garuda Indonesia. Perjalanan itu sering mempertemukanku dengan banyak orang terkenal, Widodo C Putro, Taufik Bahaudin, Effendi Gazali, bahkan juga Ivan Gunawan 🙂 Tapi perjalanan 6 Februari lalu itu berbeda.

Taksi melipir di terminal 2 Soeta sekitar pukul 7.20 sedangkan pesawatku take off 7.55. Agak mepet memang tapi cukup menurut hitunganku. Ku perlihatkan email di hapeku kepada petugas jaga di depan. He let me in. Begitu tas dan koper keluar mesin x ray mataku langsung tertuju pada antrian GFF Silver. Ya aku pemegang kartu GFF Silver sehingga bisa antri check in di line tersendiri. Walau demikian antrian pagi cukup banyak 5 orang dengan koper yang besar-besar. Saat aku berada di antrian terdepan seorang wanita di loudspeaker berkata,”Penumpang GA 204 dipersilakan masuk melalui gate F4″ Itu pesawatku.

Akhirnya salah satu counter kosong. Aku maju ke depan petugas check in itu. Ku serahkan hape dengan layar email tiketku dan GFF Silver. Wanita itu mulai mengetik-ngetik di depan layar monitor. Lama sekali. Hingga akhirnya ia berdiri dan berkata,”Mohon ditunggu sebentar, Pak.” Ia lalu keluar counter dan masuk ke pintu di belakang pengepakan bagasi. Tak kalah lama ia di sana. Aku mulai panik karena khawatir ditingggal pesawat. Begitu wanita itu kembali aku bertanya,”Kenapa Mbak?” “Pesawatnya sudah penuh, Pak”. Jawaban itu seperti petir di siang bolong. How come? Sore sehari sebelumnya memang agen tiket kantor mengatakan bahwa untuk GA 204 aku masih waiting list, tapi beberapa waktu kemudian agen itu menelponku dan mengatakan sudah confirmed. Mungkin itu yang menjadi penyebabnya. Aku makin deg-degan saja. Wanita itu lalu mengetik-ngetik lagi. Setelahh itu ia mengembalikan hape & kartu GFF ku dan memberi sebuah tiket. “Pak karena pesawat sudah penuh, seat Bapak kami upgrade ke executive class”, ucap wanita itu. “Ok thank you” jawabku singkat. Aku lalu bergegas menuju F4 sambil mencerna kembali ucapan wanita tadi.

Sesampainya di F4, antrian masuk pesawat sudah mau habis. Tinggal beberapa orang saja. Aku segera mengantri di depanku terdapat Bapak dan Ibu yang cukup necis penampilannya. Si Bapak membawa tas ransel dan memakai jas coklat. Si Ibu dengan wedges, tas kecil dan sekitar 5 anting di telinga kirinya. Mereka masuk ke pesawat dengan perlente sementara aku dengan koper biasa, ransel adidas tipis, pantofel celana bahan, dan baju batik di bawah balutan sweater. Biasa banget. Sembari mengantri di garbarata Bapak Ibu tadi mengobrol ke sana kemari. Kemudian ku sadari tas Bapak itu terbuka. Spontan ke beritahu Bapak itu, “Tasnya terbuka, Pak”. “oh iya Mas, gak ada apa-apanya kok isinya, Mas” jawabnya. “Zaman sekarang bukan khawatir diambil barangnya Pak tapi kalau ada yang masukin ke dalam tas” balasku. “Oh iya ya Mas, terima kasih ya Mas” balasnya sambil menyalamiku dan menutup tasnya. Kami lalu berjalan kembali. Aku mendengarkan percakapan merekan dan sebentar-sebentar salah seorang dari mereka memperhatikanku. Aku cuek saja. Sesampainya di perbatasan kelas ekskutif dan ekonomi aku langsung membukan kabin atas. Kebetulan aku duduk di seat 3A. Begitu ku masukkan koper dan tasku, Bapak tadi langsung menoleh ke belakang dan menatapku dengan wajah tak percaya. Aku cuek aja.

Tak lama paramugara menawarkan koran. Aku pilih Tempo dengan berita Anas. Lalu pramugari datang membawa jus, aku pilih apel. Setelah itu dia kembali dengan handuk hangat dan mengambil gelasku. Pesawat take off. Begitu pesawat stabil kami di tawari makan, pramugari membantu memasangakan meja dan menawarkan dua jenis menu : salad buah atau cake asin. Aku pilih yang kedua di tambah segelas teh. Aku santap cake itu dan brownies kecil itu dengan cepat. Teh hangatnya juga nikmat. Begitu makan kami beres mereka langsung sigap mengemasi. Ku nikmati sisa perlanan dengan melihat ke luar jendela sambil menyandarkan kursi empuk itu ke belakang.

Begitu pesawat landing. Penumpang eksekutif dipersilakan keluar lebih dulu. Kemudian seorang penumpang di seat 1A langsung berdiri. You know who is him? Amien Rais, mantan ketua MPR 1999-2004. Dia sempat menatap ke arahku dengan tatapan yang sama dengan Bapak2 di awal cerita tadi. Pintu dibuka. Ternyata hari itu yang ke Jogja bukan hanya Pak Amien tapi juga Bu Martha Tilaar yang menyusul turun di belakang Pak Amien. Pak Amien berjalan cepat sekali. Ku susul langkahnya hingga ke dalam terminal. Ku sapa beliau dan bersalaman. Dia bertanya,”Dari Jakarta juga ya Mas? tanyanya basa basi. “Iya, Pak, Bapak pulang ke Jogja ini? balasku. “Iya khan rumah saya di sini, Mas”. “Mau apa Mas ke Jogja?” “Saya kerja Pak di SGM” Aku lalu bingung harus bicara apa lagi, tiba-tiba mulutku berkata.”kapan nulis buku lagi Pak?” “Saya sih sudah banyak baca tapi belum ditulis-tulis juga” “Iya, Pak. Kami khan yang muda-muda ini mau membaca pikiran Bapak” “Iya, iya, Mas.” Monggo Pak selamat jalan” ucapku ketika keluar pintu terminal. “Iya Mas. terima kasih Di SGM ya tadi? “Iya Pak” jawabku singkat. Pak Amien lalu pergi bersama pria yang menjemputnya.

Cerita pagi itu antara Jakarta-Joga berlangsung berbeda. Welcome to Jogjakarta 🙂

2012 Journey

Tahun 2012 tinggal menghitung hari saja akan berakhir bersama senjanya pada 31 Desember mendatang. Begitu banyak cerita yang ingin ku bagi sebanyak pengalaman baru yang kurasakan tahun ini. Di sisi lain juga ada banyak evaluasi yang harus ku lakukan agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih berkontribusi bagi orang-orang di sekitarku. Dari tiga target utama yang aku canangkan di awal tahun ini Alhamdulillah telah tercapai dua di antaranya, yaitu pekerjaan yang lebih baik dan menikah, sedangkan target yang tidak tercapai adalah menerbitkan buku.

Tahun ini dapat aku sebut sebagai tahun perjalanan dari kota ke kota. Coba bayangkan di awal tahun ini saya belum pernah naik Garuda Indonesia dan menjelang akhir 2012 ini aku memegang GFF Silver yang hanya berselisih 4 perjalanan pulang pergi saja dengan GFF Gold. Namun, bukan berarti perjalanan yang aku lalui melulu dengan pesawat terbang sebagian yang lain aku jalani dengan bus, kapal, dan perahu kecil hingga berhasil menjejakkan kaki ke 5 pulau di luar Jawa. Berikut ini adalah highlights perjalanan tersebut.

Purwokerto

Ini adalah kota yang paling sering aku kunjungi selain Jogjakarta tahun ini. Ya betul, ini adalah kediaman orang tua Rizka Ardhiyana, kekasihku J. Kunjuangan ku ke sana adakalanya sendirian di tengah malam hehe, ada pula yang ditemani teman seperti Aria atau Erik, juga pernah bersama keluarga inti saat kami lamaran J Aku sempat berkunjung ke Baturaden sebuah tempat wisata yang cukup dingin dan penuh dengan jalan yang mendaki . Aku dan Rizka juga menyempatkan diri berbelanja di Moro dan jalan ke Kota Satria itu.

Jogjakarta

Ya, kota ini adalah kota di luar Jakarta yang paling sering aku kunjungi. Setiap bulan setidaknya aku sekali berkunjung ke sana untuk sekedar rapat atau menemui bos ku. Di sela-sela kegiatan di Jogja aku dan teman2 suka berkumpul bersama untuk sekedar makan dan ngobrol2 ringan. Aku juga menjelajah kota itu dengan sowan ke Keraton, Malioboro, Benteng Vredeburg, Kopi Joss, Tugu Jogja, Taman Siswa, Taman Pintar, dan tempat-tempat lainnya. Kota ini memang lebih menenangkan daripada Jakarta. Penuh dengan orang kreatif yang punya semangat wirausaha. Bisnis yang berkembang di sana adalah bisnis kuliner dan perhotelan. Hal ini wajar karena Jogja adalah salah satu provinsi yang paling sering dikunjungi wisatawan.

Pekalongan

Aku menyambangi kota ini dalam rangka menemui salah satu sahabat zeitgeisterku yaitu wiharso. Begitu turun di terminal aku langsung di antar menuju markas HMI Pekalongan, gak heran karena memang dia adalah Ketua HMI Pekalongan.  Aku mampir ke rumahnya yang sederhana di salah satu desa di sisi lain kota itu. Setelah itu aku habiskan waktu selepas shalat jumat dengan berkunjung ke alun-alun, museum batik, pantai utara jawa dan mesjid raya. Akhirnya aku melanjutkan perjalanan setelah asyik mengobrol.

Nusa Kambangan

Yup, pasti hal pertama yang terpikirkan di benak Anda adalah penjara. Nusa Kambangan memang memiliki penjara kelas 1 untuk penjahat2 dari seluruh nusantara. Di pertengahan tahun ini aku sempatkan untuk berkunjung ke sana bersama temanku Erik Febriyan. Kami menaiki sepeda motor dari Purwokerto ke Cilacap di selatan. Sepanjang perjalanan aku disuguhi pemandangan alam yang menakjubkan seperti pohon pinus, kereta yang melintas di atas areal persawahan dan lain-lain. Sesampainya di pantai selatan kami berkunjung ke Benteng Pendem dan segera memilih salah satu perahu. Aku tidak ingat berapa persisnya tarif untuk pulang pergi ke Nusa Kambangan dengan perahu itu mungkin berkisar antara 20-30ribu per orang. Di pulau itu kita bisa melihat sisa-sisa benteng belanda yang begitu kokoh namun sudah tidak terpakai. Di sisi lain kita juga bisa menikmati pantai yang indah dengan pasir putihnya.

Bandung

Bukan sekali dua aku berjalan-jalan ke Bandung, tetapi bersama keluargaku ini adalah yang pertama. Tujuan kami adalah Trans Studio Bandung. Sesampainya di sana kami langsung menyerbu masuk ke berbagai wahana yang belum terlalu ramai dipadati pengunjung siang itu. Yamaha Racing Coaster jadi menu pembuka kami, menyusul kemudian adalah Giant Swing, Vertigo, Dragon Riders, Science Center dan lain-lain. Sore harinya diiringi oleh gerimis hujan kami pulang ke Jakarta setelah menyantap soto di seberang gerbang Trans Studio Bandung.

Bali

Ini adalah kali ketiga aku ke Bali. Pertama kali tahun 2009 untuk fieldtrip, lalu 2010 PIMNAS, dan sekarang 2012 kerja huhu. But it was fun! Aku bertemu rekan2 Danone Baby Nutrition dari seluruh dunia di ajang SSD Asia Pacific Meeting. Di tengah meeting tersebut kita menikmati outbond di Nusa Dua Bali. Kami touring dengan naik sepeda menuju pura dan berakhir di pantai. Di sana kami berlomba membangun rakit dan berebut bola di tengah laut. Rakit yang kami buat hanya berbekal ban karet dan bambu-bambu yang diikat dengan tali temali. Aku juga sempat bermain bola dan menghabiskan malam dengan gala dinner. Sebelum pulang aku sempatkan diri untuk kuliner di Kuta dan belanja di Joger.

Lombok

Ini adalah pengalaman pertamaku ke Lombok. Andai saja bisa bertemu Sis Zeitgeister yang asli Lombok pasti lebih menyenangkan, sayangnya dia sedang kuliah master di Belanda sehingga kami tidak sempat bertemu. Kami datang ke sana juga untuk kerja dan tamasya. Main bola air di kolam renang, sepedahan masuk-masuk kampung, makan malam yang lezat, dan kunjungan ke PAUD yang asyik sekali. Tiga hari rasanya cukup untuk kami dan aku memang melihat bahwa negeri ini sangat membutuhkan tangan-tangan pemuda seperti kita untuk berkontribusi lebih banyak.

Kepulauan Seribu

Lebih dari 20 tahun aku tinggal di Jakarta tetapi bari kali pertama aku menjelajah di kepulauan di utara Jakarta November yang lalu. Tujuan kami adalah Pulau Putri. Perjalanan di mulai dari Dermaga 9 Ancol, kami menghabiskan waktu 1.5 jam di atas kapal bersama tim LPPOM MUI. Sesampainya di sana kami habiskan waktu dengan masuk ke Tunnel Under Sea, outbond kecil-kecilan, naik perahu yang ada dinding kacanya dan lain-lain. Sore hari kami habiskan dengan berenang di kolam dan menikmati sunset dengan membaca majalah. Malam harinya kami berkumpul kembali untuk gala dinner. Bagian paling seru terjadi keesokanharinya. Aku dan Rizka menghabiskan waktu selepas sarapan dengan naik kayak menyeberang laut menuju Pulau Putri Barat. Walau terik matahari menyengat semangat kami tak surut untuk segera sampai di pulau tujuan. Pulau Putri Barat relatif lebih sepi tetapi pasir putihnya begitu indah. Perjalanan pulang pergi kedua pulau itu sekitar 2.5 jam. Yang menarik lainnya adalah pengalaman kami terkaget-kaget bertemu dengan dua biawak yang besar sekali dan ironisnya laut Jakarta yang sudah seperti pembuangan sampah akhir.

Perjalanan ke berbagai kota tersebut membuatku meyakini bahwa memang pembangunan belum merata keseluruh daerah, tapi aku melihat gairah orang-orang di sepanjang perjalanan yang menolak untuk menyerah, tidak ingin sekedar bertahan dengan kondisi yang ada dan bersemangat untuk maju.

Mari lanjut ke evaluasi tahun 2012. Aku telah pindah ke perusahaan yang baru dengan segala tantangan dan proses pembelajaran yang baru. Allah juga telah memperkenankan aku dan Rizka untuk membina rumah tangga bersama pada 8 September yang lalu dan melangsungkan resepsi tanggal 22 September. Dengan demikian dua target utama ku tercapai. Namun, aku gagal menerbitkan buku karena memang aku kurang bersungguh-sungguh mengerjakannya. Harusnya ada lebih banyak waktu yang diluangkan dan fokus pada pengerjaannya. Di sisi lain aku berhasil menerbitkan sebuah jurnal bersama kedua pembimbing penelitianku di Jurnal Teknik Kimia Indonesia. Aku juga berhasil membuat web pernikahanku sendiri. Sahabatku Luki turut membantu untuk beberapa bagian.

Di akhir 2012 ini, aku kembali rajin membaca mengenai berbagai hal untuk menjawab why we live? or what we were born to do? Mulai dari tulisan Rene, Jamil Azzaini, Phil Cooke dll. Aku juga berdiskusi dengan orang-orang terdekat dan merenung ke dalam diri. Kalau kata Rhenald Kasali, Change! even Change your DNA!

Di tahun 2013 saya berharap seluruh keluarga kami selalu diberikan kesehatan, aku dapat berkarir dengan lebih baik dan berkontribusi lebih besar untuk keluarga, perusahaan, dan lingkungan sekitar. Aku juga berharap dapat menjadi pribadi yang lebih matang, dewasa, semakin dekat dengan Allah. Jika diperkenankan kami juga ingin menimang anak pertama kami.

Olahraga Pagi di Lubang Buaya

Bagi masyarakat Jakarta Timur khususnya di wilayah Halim, Cipayung, Taman Mini dan sekitar Pondok Gede, Monumen Pancasila Sakti atau lebih akrab dikenal sebagai Lubang Buaya adalah salah satu tempat favorit untuk menghabiskan minggu pagi dengan berolah raga. Tempat ini memang sejatinya sebuah museum sejarah mengenai peristiwa G 30 S-PKI, tetapi di sana juga terdapat lapangan parkir yang begitu luas yang biasa dimanfaatkan warga sekitar untuk berolahraga.
Saat saya masih kecil masuk ke area parkir ini sepenuhnya gratis dan bebas, tetapi belakangan ini mulai diberlakukan tarif sebesar seribu rupiah per orang dan untuk tiap kendaraan. Tempat ini memang begitu asri dan sejuk karena banyak ditumbuhi pepohonan. Banyak keluarga yang menghabiskan sabtu atau minggu paginya di tempat ini dengan berlari-lari mengitari lapangan parkir, bermain badminton, atau sekedar jalan santai. Sebagian warga lainnya bergabung dengan kelompok senam aerobik yang aktif berolahraga tiap pekan. Remaja putra umumnya bermain voli atau sepak bola selain jogging bersama.

Karena tempat ini ramai sekali dikunjungi warga tiap akhir pekan, jumlah pedagang yang masuk wilayah parkir juga semakin banyak. Jumlah pedagang yang semakin banyak membuat tempat parkir ini kian semerawut. Para pengunjung yang terbiasa jogging di tempat ini seperti saya harus bersaing dengan pedagang dan para pembeli untuk menemukan ruang agar dapat berlari. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya sepeda motor yang parkir dan berseliweran sembarangan. Walaupun sudah semerawut seperti itu tempat ini tetap saja menjadi pilihan masyarakat di tengah makin terbatasnya ruang publik untuk berolahraga.
lubang buaya

Di antara ratusan pengunjung yang datang tiap akhir pekan saya menggolongkan tujuan kehadiran mereka ke dalam dua kelompok saja yaitu mereka yang ingn berolahraga untuk menjaga kebugaran dan mereka yang ingin berdagang guna memperoleh penghasilan. Mereka yang ingin berolahraga sudah jelas seperti yang saya jelaskan di awal tulisan sedangkan mereka yang berdagang menawarkan berbagai produk dan jasa seperti bubur ayam, kacang ijo, pempek, batagor, teh manis, air putih, vcd, kereta berjalan, odong-odong dan lain-lain. Namun, di antara sekian banyak pengunjung itu terdapat satu jenis kegiatan yang dapat menghadirkan kebugaran fisik dan penghasilan di saat yang sama. Pekerjaan itu adalah tukang odong-odong  Ya, tukang odong-odong dalam sekali waktu dapat menggenjot sekitar enam kuda2an yang ditumpangi anak kecil selama kurang lebih 3-4 menit. Nah di akhir lagu yang dimainkan untuk mengiringi permainan, si tukang odong-odong ini akan menerima bayaran dari orang tua anak-anak itu. Tukang odong-odong ini memang pintar mencari peluang hehe 

Jika telah lelah berolah raga memang asyiknya sarapan sambil istirahat. Dari sekian banyak pilihan makanan untuk menu sarapan saya menyarankan bubur ayam sebagai pilihan karena menu ini yang paling lengkap nutrisinya. Namun, jangan buru-buru langsung membeli bubur ayam sembarangan. Coba perhatikan bagaimana mereka membersihkan mangkok dan alat makan lainnya. Umumnya mereka membersihkannya dengan ala kadarnya saja, menggunakan air di dalam ember tanpa menggunakan sabun. Oleh karena itu saran saya jika hendak membeli bubur ayam maka pesanlah bubur dengan menggunakan Styrofoam dan sendok plastik yang Insya Allah lebih terjamin higienis.

Pada akhirnya, bagi Anda yang tinggal di Jakarta Timur mari keluar rumah di sabtu atau minggu pagi dengan berolahraga di Lubang Buaya. Lakukan persiapan dengan baik dan kenali lingkungan Anda beraktivitas agar dapat berolahraga dengan aman dan nyaman.

One Big Thing…

Oleh : Muhaimin Iqbal
sumber: http://t.co/8AbcMUKQ

Tidak banyak orang yang bisa menikmati pekerjaannya, bila Anda salah satunya maka banyak-banyaklah bersyukur. Ketika Anda bersemangat bangun pagi untuk bisa segera melanjutkan pekerjaan Anda, ketika Anda bahagia di Ahad malam karena esuk paginya adalah Senin dan pekerjaan telah menunggu Anda, ketika hati Anda tulus dan antusias ketika membicarakan pekerjaan Anda – maka itulah antara lain tanda-tanda Anda menikmati pekerjaan itu. Bagaimana kalau sebaliknya ?

Bangun pagi terasa begitu berat karena pekerjaan yang menteror pikiran Anda, Ahad malam menjadi waktu yang menyedihkan karena esuk pagi ‘penjara pekerjaan’ telah menunggu. Anda enggan membahas pekerjaan Anda dan kalau toh terpaksa membahasnya, Anda kehilangan antusiasme. Bila ini yang Anda alami, kemungkinan Anda memang tidak bahagia dengan pekerjaan Anda.

Lantas apa yang menyebabkan sedikit orang bisa menikmati pekerjaannya dan mayoritasnya tidak menikmati ?, yang menikmati tersebut menemukan One Big Thing (OBT)* dalam pekerjaannya, sedang bagi kebanyakan orang bekerja adalah bekerja – melaksanakan kewajiban, suka atau tidak suka tetap harus dilaksanakan.

One-Big-Thing

OBT bukan masalah posisi atau jabatan, besarnya gaji atau status sosial. OBT adalah masalah kesesuaian antara apa yang INGIN Anda lakukan dengan apa yang HARUS Anda lakukan. Bila selama ini Anda dalam pekerjaan Anda melakukan yang memang INGIN Anda lakukan, maka sangat bisa jadi Anda telah menemukan OBT bagi Anda.

Saya mengenal seorang ustadzah yang harus berganti kendaraan 5 kali berangkat dan 5 kali balik untuk pergi dan pulang dari pekerjaannya. Pekerjaannya mengajar ngaji pada sebuah majlis taklim ibu-ibu kampung yang sudah sangat susah diajari, tetapi itu semua dilaksanakannya dengan sabar dan senang hati.

Tidak peduli gaji dia habis untuk transport, dia selalu ceria ketika berangkat menuju ke tempat kerjanya dan tetap menyisakan kebahagiaannya ketika pulang kerja – dia menemukan OBT-nya.

Sebaliknya saya juga mengenal sejumlah teman yang beken dan kaya raya sejak era reformasi. Pekerjaan dan status sosialnya-pun membawa nama ‘terhormat’ setiap kali diucapkan. Tetapi masyarakat dan media masa sering memergoki mereka justru sedang tidur ketika seharusnya mereka lagi bekerja. Lembaga mereka menjadi tempat yang paling tidak disiplin dalam hal kehadiran. Mereka mendapat pekerjaan dengan call sign ‘terhormat’ tetapi mereka gagal menemukan OBT-nya.

Apa Anda berfikir bahwa Bapak-bapak yang terhormat disana akan mbolos dari pekerjaannya atau tidur di saat seharusnya bekerja – bila mereka menikmati pekerjaannya ?

Poinnya adalah apapun pekerjaan Anda, Anda bisa menemukan OBT Anda. Bila belum Anda rasakan dalam pekerjaan Anda, langkah-langkah berikut dapat membantu Anda menemukannya.
· Temukan pekerjaan yang memang sesuai dengan kompetensi Anda.
· Temukan pekerjaan yang atasan Anda dapat menjadi pemimpin dan panutan Anda, bukan majikan yang harus Anda layani.
· Temukan niche , yang meskipun kecil atau sempit scope-nya tetapi Andalah yang paling fit di niche ini.
· Temukan gambaran besar (big picture) dari pekerjaan Anda, meskipun kecil yang Anda lakukan – tetapi Anda tahu bahwa ini adalah bagian dari pekerjaan besar yang Anda yakini.
· Temukan values – tata nilai dalam pekerjaan Anda, sesuatu yang layak Anda perjuangkan bahkan ibaratnya mati-pun Anda rela untuk memperjuangkannya.

Bila dengan lima hal tersebut di atas Anda belum juga menemukan OBT yang mendatangkan kebahagiaan dalam apa yang Anda lakukan, maka langkah terakhir adalah melihat pekerjaan Anda dari perspektif yang lain.

Di Budapest – Hungaria ada bangunan museum yang design luarnya sangat indah tetapi bernama House of Terror. Di dalamnya dipamerkan kekejaman tentara Nazi ketika Jerman menguasai negeri itu tahun 1940-an, kemudian juga tentara Uni Soviet yang juga menguasai negeri itu tahun 1950-an.

Dalam masa kekuasaan dua rezim tersebut Fasis – Jerman maupun Komunis Uni Soviet begitu banyak orang mati disiksa atau mati kelaparan karena kerja paksa. Tetapi yang survive juga tidak kalah banyaknya. Lantas apa rahasia para survivor itu ?, inilah yang menarik.

Korban yang mati dalam kerja paksa adalah mereka-mereka yang tersiksa dengan pekerjaan fisiknya yaitu membelah dan mengangkat batu-batu besar yang dipakai untuk membangun kota Budapest. Yang survive-pun pekerjaan fisiknya sama, tetapi mereka melaksanakannya dengan senang hati sambil bernyanyi-nyanyi penuh semangat.

Dalam benak para survivor ini mereka tidak sedang membelah dan mengangkat batu, mereka sedang membangun kota, membangun kehidupan yang lebih baik !

Jadi bila Anda tidak berhasil menemukan OBT Anda sendiri dengan lima langkah tersebut di atas, Anda masih bisa mengubah persepsi Anda dan mengikuti OBT orang lain. Bahwa Anda tidak sedang membelah dan mengangkat batu, tetapi Anda sedang membangun kota dan kehidupan yang lebih baik. InsyaAllah Anda bisa bahagia dengan apapun pekerjaan Anda !.

* Dari Buku One Big Thing karya Philip Howard Coke (Thomas Nelson, Nashville 2012)
Bagikan ke teman: