Kisah anak-anak Al Quds 81


Sore hari itu aku di rumah ketika dering bunyi telepon terdengar. Aku angkat gagang telepon, lalu terdengar salam dari ujung telepon. Suara ramah pelan dari seorang laki-laki yang mencari diriku. Tak lama suara di ujung telepon mengenalkan diri dan aku tahu benar siapa dia. Beliau adalah salah satu alumni SMA 81 yang kami kenal dekat melalui berbagai kegiatan Rohis 81. Singkat cerita beliau ingin aku hadir di Pangkalan Jati, pukul 08.00 WIB tanpa ada seorang teman pun yang tahu rencana tersebut. Hal lebih lanjut akan diberitahu kemudian pada pertemuan tersebut.

Jadilah beberapa hari berlalu kemudian penuh dengan tanda tanya dan penasaran di antara kami anak2 Al Quds 81. Selepas dhuha atau shalat ashar ingin rasanya bertanya siapa saja yang mendapat panggilan yang sama. Beberapa ada yang tak tahan memegang amanat untuk tidak saling bertanya dan mencari tahu siapa saja yang diundang. Aku mendengar lamat-lamat mereka berdiskusi. Aku sendiri tak bergeming, tak ada satu pesan pun yang bocor.

Hari Sabtu pun tiba dan angkot 22 merah mengantarkanku tepat waktu di Pangkalan Jati: 08.00 WIB. Kakak itu sedang berdiri di samping sepedanya. Tanpa babibu, beliau langsung memberiku secarik kertas dan beberapa lembar uang. Secarik kertas itu tidak lain adalah peta dan petunjuk menuju tempat berikutnya. Adrenalin meningkat, apakah ini? I AM ON A SECRET MISSION. Aku ikuti peta dan petunjuk itu. Tidak begitu sulit untuk menemukan tempat berikutnya: Masjid Al Iman di daerah Cipinang. Dengan penuh tanya dan bingung tentang apa yang akan terjadi berikutnya aku ditemani bayanganku sendiri ke muka halaman masjid itu. Tak disangka di sana sudah ada TB dan Ganesha, dua sohib ku yang senyam senyum mesem2 berdua. Tak lama kemudian bocah-bocah Al Quds lainnya datang. Ohh ternyata mereka yang diundang. Memang tak semua, katanya seih yang datang hari itu yang udah rada militan (huohoohoo). Setelah shalat dhuha kami mendengarkan ceramah dan berdiskusi singkat tentang apa tepatnya saya lupa tapi tidak jauh berkisar tentang dakwah sekolah, kira-kira begitu. Setelah itu kami mendiskusikan tentang Pesantren Ramadhan yang kami ditunjuk menjadi panitianya. Ini adalah foto di Masjid Al Iman hari itu

Pesantren Ramadhan

Ada cerita yang buatku tak akan pernah terlupakan. Hari itu kegiatan Pesantren Ramadhan telah memasuki hari kedua. Kami semua menginap di Wisma Haji Ciloto, sebuah tempat yang menurutku cukup mewah dan nyaman untuk kami, anak SMA biasa. Seperti malam sebelumnya kami sahur di ruang makan bersama dengan sistem prasmanan. Masing-masing dari kami sibuk dengan makanan kami sendiri. Namun, diam-diam dalam hati ada sesuatu yang mengganjal. Buat diriku hal yang mengganjal itu sebenarnya sederhana saja; kok Sugi (salah satu teman kami) tak ada di ruang makan? Selesai dengan sahurku aku langsung beranjak ke ruang panitia. Aku bersama salah seorang temanku yang lain (lupa siapa) saat mengetuk pintu kamar panitia. Begitu masuk ruang tidur itu kami berdua langsung bertanya kepada Sugi yang ternyata ada di dalam kamar, “Gi, udah sahur belom?” “Udah” jawab Sugi. Herannya Sugi dan beberapa teman yang lain langsung tertawa seru sekali. Sugi berkata lagi “Eh Ran, lo itu orang ketiga yang masuk kamar ini dengan pertanyaan yang sama” Jadi sebelum aku masuk, teman-teman yang lain telah masuk terlebih dulu dan menanyakan hal sama pada Sugi. Tanpa pernah berkomunikasi terlebih dulu, kami punya ‘click’ yang sama soal Sugi. Tanpa berpikir panjang kami langsung menutup pintu itu kembali dan berharap orang berikutnya akan bertanya hal yang sama. Tak lama pintu diketuk. Salah satu teman kami masuk, wajahnya rada bingung melihat kami yang udah mesam-mesem aja, tawa pun pecah karena kami tak tahan menahannya sedari tadi. Sayangnya ia tidak bertanya soal Sugi yang udah makan atau belom? Kalau nanya yang sama pasti udah dapat piring cantik. Hehehe 🙂 Momen itu menjadi tidak bisa terlupakan karena persaudaraan yang sudah begitu kental terasa di antara kami.

Malam-malam I’tikaf 2005

Selepas buka bersama Rohis di Kalimalang kami melanjutkan rencana kami untuk I’tikaf di masjid Istiqlal. Praja yang jadi komandannya malam itu karena dia yang paling ahli jalan sekitar monas. Berbekal 10 kotak makanan dari gedung dekat rumahnya Mega kalo gak salah kami menuju Istiqlal. Dengan penuh semangat kami pun akhirnya sampai di Istiqlal. Namun, sebelum kami sempat masuk ke dalam 10 kotak nasi kami sudah tinggal separuhnya saja. Tidak. Kami tidak begitu lapar sehingga harus makan 5 kotak itu. Namun, kami melihat beberapa pengemis yang lapar di depan Istiqlal. Terlalu tega rasanya jika tak ada kotak yang kami tinggalkan untuk mereka. Jadilah kami bersepuluh membawa 5 kotak saja dengan rencana satu kotak buat makan berdua. Esoknya kami sahur di depam Katedral. Aku masih ingat TB yang nyesel ikut2an menu sahur Budi yang di beli di depan Istiqlal itu karena terlalu mahal heheh 😛 Selepas subuh kami foto-foto sejenak sebelum akhirnya kami pulang. Seperti malam sebelumnya Praja yang memimpin rombongan. Kami menyusur jalan-jalan protokol sekitar Istiqlal, kalo gak salah sempet lewat gedung Setneg dan beberapa gedung penting lainnya. Gedung-gedung itu sih biasa aja, yang istimewa adalah kami semua berpakaian muslim; ada yang gamis, baju koko, selempang sarung dll di tengah pemberitaan hari-hari itu tentang terorisme membuat kami cukup menarik perhatian Polisi Militer atau pihak keamanan gedung-gedung itu.

Malam i’tikaf lainnya kami habiskan di mesjid dekat Rumah Tommy atau Pringga. Kalo udah sore biasanya kami main bola. Yang paling seru bukan main bolanya, tapi usaha untuk ngambil bola yang masung ke dalam got/gorong-gorong yang tertutup semen. Pastinya bikin kotor dan bau. Hehe 🙂

Saling berbagi

Kisah lain yang tak mungkin terlupa adalah momen-momen berbagi di antara kami. Suatu hari kami lihat tas Wahyu sudah sobek dan sebaiknya diganti. Diam-diam kami kumpulkan uang. Malam harinya ditemani tanteku, aku pergi ke mall Pondok Gede setelah sebelumnya aku SMS Wahyu. “Lo suka warna apa yu?” tanyaku. “Biru” jawabnya sedikit ragu. Esok harinya hadiah itu sudah terbungkus rapi saat kami berikan selepas shalat Ashar di Al Quds. Wahyu Gembira 😀 Lain lagi saat kami diam-diam lihat ukuran sepatu Sugi saat dia shalat dhuha. Sepatunya memang sudah harus diganti sehingga kami belikan yang baru. Esok harinya saat break jam 9 kami berikan hadiah itu. Penuh haru saat itu.

Ini adalah beberapa penggalan cerita saja dari beratus giga memori tentang persaudaraan kami. Banyak yang penuh dengan tawa saat saling bercanda. Tangis haru saat kami berbagi seperti cerita tadi atau juga nyeri saat kami berperang air dan lari gendong-gendongan. Kini lebih dari 6 tahun dari masa-masa terbaik itu aku ingin berterima kasih atas semua pengalaman itu. Sungguh kalian telah tidak hanya memberi warna, tapi lebih dari itu: membentuk diri ini. Semoga persaudaraan kita abadi sampai ke Jannah dan bertemu Illahi Rabbi. Aamiin 🙂

Advertisements
Comments
2 Responses to “Kisah anak-anak Al Quds 81”
  1. ariasky says:

    terharu gw rand, sesegukan menahan derai air mata yang perlahan meleleh, pipi gw basah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: