Strengthening the domestic halal industry

Based on the latest Global Islamic Economy Score, as the largest Muslim country in the world, Indonesia’s halal industry is still far left behind compared to other Moslem countries. With $154.9 billion of halal food market; $5.5 billion of halal pharmaceutical market; $3.3 billion of halal cosmetics market, Indonesia only ranks 10th, whereas Malaysia ranks 1st despite the fact that Malaysia has much smaller population. This illustrates that Indonesia has failed to optimize its huge Moslem population as the key to boost its domestic halal industry and economy.

To improve the situation the government has taken serious intervention by issuing the act no 33/2014 about halal product assurance which aims to assure and provide convenience, security, safety, and availability of halal products for the society and to increase the value added in halal products so that the halal industry will grow by igniting the private sector to produce and sell them. The main impact of the issuance of this act is every product that being traded and entering Indonesia’s market has to be halal certified five years after the ratification of this act and puts the Halal Products Assurance Agency (BPJPH) as the main administrator of the halal certification process.
Continue reading

Advertisements

Is Islam an Impediment for Development in Muslim Countries?

Civilizations die from suicide, not by murder (Toynbee, 1957)

dav

The history has witnessed the glorifying period of Muslim civilizations for millennium. However, that was just a myth now since Muslim countries are plagued by a lot of problems such as illiteracy, poverty, unemployment, health issues, freedom, and many other things so that they can be categorized as the developing or underdeveloped countries. Therefore, some orientalists argue that Islam with its characteristic is the essence impediment for development. However, this essay will argue that Islam is not the true hindrance for development but the violation and the disembeddedness of Islamic world-view in everydayness. In doing so, this essay will first define development prior to provide a discourse on the decline of Muslim civilizations.

Continue reading

Munajat Malam

Janji itu telah mengguncang Arsy, 

Esok hanya cerita, sedih gembira tentang hanya kita berdua

Di dalam dingin dinding yang kita hela, kau ku dekap dalam tiap nafas

Biar mendung menggulung, kasih kita ke haluan tak terbendung

Kasih ku, di hadap – Nya kita mengadu, pada – Nya biar pagi malam kita yang berkata bukan kita yang bersuara

Tuhan kami menengadah tangan, Tuhan kami mohon ampunan, Tuhan beri kami kasih sayang

Tentang Lagu Raisha

Shanghai menerima saya di Pudong International Airport pada pukul 10.00 waktu setempat. Udara dingin musim semi langsung menyambut setiap tamunya begitu kami bergerak ke ruang terbuka. Aku melanjutkan perjalanan menuju Metro Subway Station, jaringan kereta yang menjadi tulang punggung aktivitas warga Shanghai. Peta Shanghai Metro sudah di tangan dan aku melangkah masuk dengan tujuan akhir Pearl Hotel tempat istriku menginap. Sebelum ke sana aku putuskan untuk jalan-jalan terlebuh dahulu, Shanghai Science and Technology yang menjadi pilihanku. Aku geret koper besarku masuk Metro dan melaju dengan pasti. Sesampainya di sana aku habiskan waktu hingga pukul 3 sore. Satu hal yang di luar prediksiku adalah tidak adanya tempat penitipan tas sehingga aku harus membawa koper besarku kemanapun aku pergi. Itu satu PR tersendiri.

Selesai dengan jalan-jalan di Shanghai Science & Technologi Museum aku langsung menuju Jiasan Road tempat Pearl Hotel berada. Sesampainya di sana, aku langsung check in dan berharap dapat segera beristirahat di dalam kamar. Namun, takdir berkataa lain, aku diharuskan membayar di muka tagihan hotel untuk empat hari ke depan. Dengan uang yuan yang terbatas aku putuskan untuk menunggu istriku pulang dan masuk ke hotel bersama. Istriku menyampaikan bahwa ia akan sampai d hotel pukul 21.00 waktu setempat atau kira-kira 5 jam lagi dari saat aku berusaha check in di hotel waktu itu. Aku putuskan untuk membeli coklat panas untuk menghangatkan tubuh. Setelah coklat tandas bosan pun menyergap. Aku langkahkan kaki keluar kembali ke metro station. Kuhabiskan setengah buku Change karya Rhenald Kasali hingga pukul 21.30

Metro line sudah hampir tutup. Scanner X ray di bagian depan entarnce gate sudah dikemasi dan ditutup. Saat kembali ke jalan raya menuju Pearl Hotel aku disambut dengan gerimis hujan dan udara yang semakin menusuk dinginnya. Hapeku sudah mati. Tidak ada jalan lain untuk berkomunikasi. Satu-satunya cara adalah menunggu. Menunggu kekasihku datang agar aku bisa beristirahat dengan layak malam itu. Sejuruh kemudian lagu Raisha masuk dalam pikiranku dan mulai menemaniku

Sekarang aku tersadar

Cinta yang ku tunggu tak kunjung datang

Apalah arti aku menunggu

Bila kamu …

Lewat pukul 23.00 kekasihku sampai di Pearl Hotel. Kami tidur nyenyak sekali malam itu.

Image

Aslinya mana?

Aku mencermati dua pertanyaan berbeda yang sama-sama ditanyakan di awal percakapan. Kalo di Jakarta pertanyaannya pasti begini, “lulusan mana, mas?” atau “kuliah dimana, mas?” “angkatan berapa?” dst. Namun kalo sedang bertugas di Jogja pertanyaannya pasti begini ” Aslinya mana, mas?”

Analisisku begini, kalo di Jakarta masyarakatnya udah semakin plural maka asal daerah menjadi tidak begitu signifikan untuk ditanyakan. Pertanyaan asal universitas mungkin ditanyakan untuk mengidentifikasi ada tidaknya kesamaan almamater yang seterusnya mungkin dapat menggambarkan karakter. Nah kalo di Jogja, masyarakatnya cenderung lebih guyub sehingga asal usul itu menjadi penting dan relevan menjadi bahan pembicaraan. Kalo ditanya aslinya mana aku pasti bingung. Aku klarifikasi dulu aslinya itu lahirnya dimana atau keturunan mana? Kalo lahir aku memang di Jakarta tapi darah pure Jawa Aseli.

Kedua pertanyaan itu punya tujuan yang mirip sih yaitu mencari titik yang sama untuk berlanjut ke pembicaraan berikutnya. Jika titik temu itu semakin besar maka pembicaraan kemungkinan akan semakin asyik dan berlanjut lebih panjang.

Nah, uniknya aku pernah ditanya salah seorang client perusahaan kami dengan pertanyaan Jogja tadi, “aslinya mana, mas?” aku jawab, “aslinya itu apa, Pak? Kota lahir atau keturunan?”. Mendadak mukan berubah masam dan agak gak enak mendengarku menanyaku balik. Belakangan aku baru tahu kalau wajahnya berubah seperti itu karena ia berpikir bahwa ia salah memilih pertanyaan mendengar pertanyaan ku itu. Dia berpikir bahwa aku adalah keturunan china, maklum saja mataku memang sipit. Ia khawatir aku tersinggung dengan pertanyaan mengenai asal usul itu hehe. Buatku gak masalah kok karena Bapak itu mungkin orang ke 1439 yang memiliki pemikiran yang sama.

Nah yang paling repot kalo foto kopi di Jogja, begitu udah selesai foto kopi biasanya kita tanya ke tukang foto kopi, aslinya mana mas? Trus tukang foto kopi jawab, “Solo, Mas” -__-” (maksud gw dokumen asli gw yang tadi di foto kopi) hadeuuuh LOL 🙂

Perubahan Rajawali

Burung Rajawali merupakan unggas yang punya umur paling panjang di dunia. Ia bisa mencapai usia 70 tahun. Tetapi untuk mencapai umur itu, seekor Rajawali harus membuat keputusan besar pada umurnya yang ke 40.

Saat umur 40 tahun, cakarnya menua, paruh memanjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dada. Sayap menjadi sangat berat karena bulunya tumbuh lebat dan tebal, sehingga menyulitkannya terbang.

Saat itu, ia hanya mempunyai 2 (dua) pilihan: Menunggu kematian atau menjalani proses transformasi yang menyakitkan selama 150 hari untuk kembali muda dan bertahan hidup hingga 30 tahun lagi.

Saat transformasi itu, ia harus terbang ke puncak gunung untuk membuat sarang di tepi jurang, tinggal di sana selama proses berlangsung. Pertama, ia harus mematukkan paruhnya pada batu keras sampai paruh tersebut terlepas, dan menunggu tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh baru itu, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya. Proses ini tentu sangat menyakitkan. Bayangkan ketika satu kuku tercabut, kita merasakan sakit yang luar biasa. Rajawali harus mematuk seluruh kukunya hingga tercabut semua!

Beberapa saat setelah kuku tuanya tercabut, maka akan tumbuh cakar baru yang lebih muda dan kuat. Dengan cakar baru itu, ia harus pula mencabuti bulu badannya, satu demi satu. Ini juga sebuah proses yang panjang, menyakitkan dan bahaya!

Kedua proses itu memakan waktu yang panjang dan sangat sangat menyakitkan. Sebuah usaha dan kerja keras yang memerlukan keberanian dan ketabahan tinggi. Tidak semua rajawali dapat melalui proses ini dengan baik, bahkan ada juga yang mati di tengah jalan! Sebuah harga mahal yang harus dilakukan bila ingin berubah.

Kira-kira 5 bulan kemudian, bulu-bulu baru akan tumbuh. Ia mulai dapat terbang kembali. Dengan paruh dan cakar baru, ia bisa menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh tenaga.

Dalam kehidupan, terkadang harus mengambil keputusan besar untuk sebuah proses pembaharuan: Berani membuang kebiasaan buruk yang mengikat, yang menyenangkan dan melenakan; melepaskan beban lama, belajar hal-hal baru, mengembangkan kemampuan yang terpendam; mengasah keahlian sepenuhnya; dan menatap masa depan dengan penuh keyakinan!

Tantangan terbesar perubahan itu ada di dalam diri sendiri: Sang penguasa atas diri kita sendiri! Tetapi tanamkan sikap: I Have a great life, bagai seekor Rajawali yang dapat terbang tinggi, semakin tinggi, dengan semangat yang terbarukan karena ia memang ingin berubah.

Perubahan adalah sebuah pilihan hidup. Kita bisa memilih untuk tetap seperti sekarang ini, yang berarti kita tinggal menunggu kematian. Atau kita siap melakukan sebuah revolusi dalam kehidupan kita untuk berubah. Dan itulah awal dari kehidupan kita yang baru dengan penuh harapan.