The Good Die Young


Pekan terakhir ini berita media massa di berbagai belahan dunia masih membahas kecelakaan tragis yang menimpa pebalap Marco Simonceli. Ia tewas dalam sebuah kecelakaan tragis di GP Sepang, Malaysia yang lalu. Pebalap yang digadang-gadang bakal menjadi penerus Valentino Rossi ini meninggal di usia yang terbilang masih hijau, 24 tahun.

Yang baik mati muda. Demikian kira-kira terjemahan dari judul lagu Scorpion yang sempat hits bertahun-tahun yang lalu. Merujuk pada judul lagu itu orang-orang baik memang ditakdirkan mati muda. Soe Hok Gie yang juga mati muda pada usia 27 tahun pernah menulis dalam buku hariannya sebagai berikut.
“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Saya sendiri mau berdiri di seberang pendapat itu. Rasanya begitu naif menilai kebaikan seseorang lewat umurnya saja. Yang muda pasti lebih baik dari yang tua atau sebaliknya. Lagi pula hidup itu bergerak dan berubah. Terlepas dari kebaikan/keburukan apa yang kita punya hari ini, Allah masih memberi kesempatan kepada kita untuk berubah menjadi lebih baik selama masih ada ruh dalam raga, Terlebih lagi usia adalah rahasia Allah yang tak akan pernah bocor kabarnya ke telinga manusia dan tugas kita adalah beramal sebaik mungkin untuk mencapai ridho-Nya.

Namun, saya juga ingin membuka paradigma baru dari istilah the good die young ini. Saya tidak ingin menerjemahkan the good sebagai sosok manusia melainkan prinsip atau idealisme. Sehingga istilah tersebut saya maknai bahwa idealisme bisa mati di usia yang teramat muda. Mati dalam kondisi yang teramat muda karena terus mengalami benturan, degradasi, pertentangan dan sebagainya. Sebabnya bisa macam-macam seperti perubahan orientasi, pragmatisme, rutinitas kerja dan lain sebagainya.

Sebaik apapun seseorang, kemungkinan besar idealismenya dapat akan mati, melebur atau tersisih di tengah arus yang bertentangan dengan prinsipnya. Lihat saja pemberitaan korupsi yang setahun terakhir diberitakan mulai dari Gayus, Nazarudin, dan dugaan suap di internal partai dan beberapa kementerian. Mereka yang terlibat dalam kasus-kasus seperti itu adalah para pemuda yang seharusnya dapat menjadi motor pembangunan. Namun, kini justru mereka yang menghambat laju pembangunan itu sendiri. Tanpa bermaksud merendahkan tetapi mungkin mereka contoh yang relevan untuk istilah the good die young itu. Mereka belum mati tapi idealismenya sudah wafat.

Untuk mencegah hal tersebut kita butuh penguatan yang hadir bersama dengan orang-orang yang memiliki idealisme dan mimpi yang sama. Maka penting untuk kita hadir pada majelis-majelis yang mampu menguatkan idealisme kita. Bentuknya bisa bermacam-macam seperti pengajian rutin di lingkungan rumah atau kantor, perkumpulan teman yang memiliki hobi yang sama, perkumpulan aktivis yang memiliki perhatian pada masalah-masalah kekinian yang ada di masyarakat seperti koin untuk Prita dan kasus Darsem, serta perkumpulan lainnya . Poin terpenting dari pertemuan-pertemuan seperti itu adalah berbagi cerita, harapan, dan mimpi masing-masing, sehingga begitu kita keluar dari forum itu untuk melanjutkan aktivitas, kita kembali memiliki gairah, semangat, dan tujuan yang jelas.

Ada banyak gerakan kaum muda saat ini yang berusaha mempertahankan dan mewujudkan idealisme mereka sebut saja @coinachance yang berusaha menyekolahkan anak-anak tidak mampu dengan uang receh yang mereka kumpulkan. Sekecil apapun yang telah mereka sumbangkan dampaknya sangat berarti bagi lingkungan mereka dan semakin menguatkan the good di dalam mereka.

Sumpah Pemuda 83 tahun yang lalu menjadi bukti yang lebih dahulu berhasil mempersatukan idealisme, mimpi, harapan, dan cita-cita kaum muda demi suatu hal yang baru terjadi 17 tahun kemudian, yang kita sebut dengan MERDEKA. Semoga kita dikuatkan untuk bisa mempertahankan the good dalam diri kita. Kita tidak pernah tahu sampai di mana umur kita akan sampai, tapi semoga idealisme itu tetap hidup dan terwarisi hingga walau raga ini mati lebih dulu, idealisme dan mimpi kita akan diteruskan dan hidup bersama jiwa-jiwa berikutnya. Mungkin 17, 20, 30 atau 50 tahun lagi kelak akan muncul kebangkitan baru, Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

also see this

Advertisements
Comments
2 Responses to “The Good Die Young”
  1. Ada lagi lagu soal mati muda: If I die Young – The Band Perry.
    Setuju sama konsep the good = idealisme
    Konon jika diibaratkan dengan serigala, di dalam diri kita itu ada dua serigala yang lagi bertarung. The good one and the bad one. Siapa yang akan menang? Serigala yang kita kasih makan..
    Let’s feed the good wolf,hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: